oleh

Efektifitas Komunikasi Busana dan Perkembangannya

Abdul Hamid Al-mansury

Pernah suatu ketika saya diusir oleh dosen penguji skripsi dari ruangnya saat revisi skripsi dengan alasan saya mengakai celana jeans. Akbiatnya, selain diusir dari ruangannya untuk pulang dan harus ganti celana juga mengakibatkan komunikasi tidak efektif. Komunikasi yang tidak efektif itulah mengakibatkan proses komunikasi tidak saling menguntungkan antara kedua belah pihak.

Persoalan busana menjadi sangat penting dalam komunikasi. Buku yang terdiri dari enam bab ini menjelaskan bahwa busana merupakan simbol dimana simbol merupakan hasil kesepakatan bersama, sedangkan simbol merupakan elemen penting dari komunikasi. Busana dijadikan simbol oleh manusia tentu sesuai dengan situasi dan kondisi. Misalnya, pendidikan. Orang-orang yang berpendidikan biasanya lebih suka memakai busana yang sopan, rapi, bersih dan tahu cara menyesuaikan busana.

Sebagaimana telah telah dijelaskan diatas, tidak salah jika mengatakan busana adalah komunikasi. Komunikasi dan busana tetap ada dan berkembang selama manusia juga ada karena busana dapat mengkomunikasikan kepribadian, identitas, status dan stratifikasi sosial serta keyakinan seseorang. Misalnya seseorang yang mengenakan jubah biksu berwarna safron tanpa bertanya semua orang akan tahu bahwa ia adalah orang yang beragama Buddha.

Selain mengkomukasikan background seseorang, busana juga mempengaruhi efektifitas komunikasi. Sebagaimana sudah dicontohkan dalam paragraf pertama, busana dapat menghambat jalannya proses komunikasi, sehingga proses komunikasi yang terhambat menyebabkan tujuan dari komunikasi tidak tersampaikan yaitu untuk mempengaruhi orang yang diajak berkomunikasi (hal. 63). Agar komunikasi efektif. Maka, menjadi penting untuk memahami busana yang akan dipakai, peserta komukasi, situasi dan kondisi, serta latar belakang peserta komukasi.

Komunikasi yang saya lakukan dengan dosen merupakan komunikasi antarpribadi. Komunikasi inilah yang sering dilakukan dalam kehidupan manusia (hal. 79). Busana dalam komunikasi antarpribadi salah satu fungsinya adalah menutupi hal-hal yang perlu ditutupi. Mustahil saya datang ke kampus untuk berkomunikasi dengan dosen kalau saya tidak menutupi badan saya dengan busana.

Celana jeans yang saya pakai ketika ke kampus sebelum diusir oleh dosen merupakan hasil kebudayaan Amerika yang pada awal mulanya dipakai oleh para penambang. Maka dari itu suatu keniscayaan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dalam perbedaan termasuk kebudayaan. Kebudayaan menghasilkan busana. Alumnus pascasarjana ilmu komunikasi UNS tersebut mengutip Bernard dalam buku Fashion Sebagai Komunikasi (Bernard, 2011: 66) yang mengatakan bahwa pakaian atau busana adalah kultural dalam artian merupakan cara yang digunakan suatu kelompok untuk mengkonstruksi dan mengkomunikasikan identitas dan nilai-nilai kelompok, baik itu ke kelompok lain maupun kepada para anggota kelompok itu sendiri (hal. 163)

Selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menggambarkan bahwa Indonesia sangat beragam dalam kebudayaan. Setiap budaya di Indonesia memiliki busana tradisional atau busana khas yang dijadikan identitas antarbudaya. Identitas tersebut menjadikannya sebagai simbol perbedaan antarbudaya (hal. 168). Namun, perbedaan antarbudaya tersebut bukan untuk diperselisihkan tapi untuk di kenali. Misalnya Anies Baswedan ketika belajar di Amerika ia menggukan blangkon, pada dasarnya ia ingin menunjukkan identitasnya bahwa ia adalah orang Jawa.

Perkembangan busana tidak hanya karena budaya tetapi hari ini di era revolusi industri 4.0 busana begitu cepat berkembang pesat akibat mudahnya media massa diakses diberbagai belahan bumi. Media massa sangatlah berperan dalam mengubah cara dan gaya berbusana masyarakat Indonesia saat ini (hal. 199) misalnya, surat kabar secara khusus memberikan kolom untuk busana hingga artis sebagai modelnya serta space iklan busana.

Selain itu, media sosial tak kalah pentingnya dalam perkembangan busana. Misalnya, media sosial milik artis terkenal Ayu Tingting yang pengikutnya mencapai jutaan orang akan kebanjiran endorse dari perusahaan busana karena artis identik dengan hidupnya yang glamor dan busana yang super mahal. Tak hanya artis, orang-orang biasa pun berperan dalam penjualan busana apalagi di masa pandemi covid-19 yang memaksa orang harus berjualan melalui daring untuk menyambung hidupnya.

Secara keseluruhan buku ini memberikan kita pemahaman bahwa betapa pentingnya busana dalam proses komunikasi manusia sehari-hari hingga dapat menilai seseorang dari busananya. Tapi, ada ungkapan “jangan menilai buku dari sampulnya” ungkapan itu mengingatkan kita jangan sampai menilai orang lain dari busananya.

Contohnya Bob Sadino seseorang pengusaha kaya raya yang kesehariannya hanya memakai baju lengan pendek, celana pendek dan sandal jepit. Padahal, orang kaya biasanya identik dengan memakai busana necis lengkap dengan sepatu bermerek terkenal. Konon katanya Bob Sadino pernah diusir oleh karyawannya sendiri dimana karyawan tersebut tidak tahu bawha yang bercelana pendek itu adalah pemilik dari perusahaan tempat si karyawan itu bekerja. Dan banyak contoh lainnya hingga ada “srigala berbulu doma”.

Contoh gambar dari setiap busana yang dibahas merupakan kekurangan dari buku ini. Pembaca buku ini harusnya tidak sambil mebayangkan atau sambil mencari di google seperti apa kerudung krisdayanti yang dicontohkan halaman 28 karena sudah terlalu ketinggalan zaman atau contoh gambar busana-busana yang tidak umum dipakai di Indonesia seperti saukele di Kazakhstan serta lozim dan kuylak di Uzbekistan yang dicontohkan pada halaman 178.

Resensi Buku
KOMUNIKASI DI BALIK BUSANA
Sihabuddin, S.I.Kom., M.I.Kom
Penerbit Arruzz Media, Yogyakarta
Cetakan I, Agustus 2020
X + 230 halaman, 14 cm × 21 cm
ISBN: 978-602-313-458-8
Harga P. Jawa Rp. 68.000

 

 

 

Komentar

News Feed