Eks Pengikut ISIS Kumpulkan Ratusan Khatib, Ceritakan Bagaimana Paham Radikal Menyebar

KABARMADURA.ID | Ratusan khatib masjid di Bangkalan dikumpulkan, Kamis (19/5/22). Mereka dikumpulkan untuk mendengarkan cerita Umar Khairi, salah seorang mantan pengikut ISIS yang kini sudah bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, khatib yang baik adalah yang tidak menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Cerita Umar Khairi tersebut disampaikan dalam kegiatan yang diadakan Densus 88 Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di Pendopo Pratanu, Pemkab Bangkalan.

Bacaan Lainnya

Para khatib diberi pembinaan dalam dua sesi. Kegiatan itu diharapkan agar para khatib memiliki visi yang sama dalam setiap ceramahnya.

Cerita Umar diawali pengakuan bahwa dirinya merupakan mantan pengikut aliran ISIS. Ideologi yang tertanam di kepalanya adalah menentang pemerintahan dan  serta wajib mengkafirkan aparat pemerintah yang dinilai sudah thaghut. Kini dirinya telah mendapatkan hukuman dan bergabung dengan NU.

Dalam kesempatan tersebut, Umar mengingatkan betapa bahayanya jika masuk paham radikal ISIS. Selain itu, dia juga bercerita pengalamannya saat masuk ISIS tanpa mengenal toleransi dalam beragama.

Dia berpesan betapa pentingnya menjaga perdamaian dengan sungguh-sungguh. Untuk menebarkan perdamaian ini,  para khatib perlu ikut andil dalam memberikan setiap ceramah di masjid dengan menyampaikan khotbah yang tak menimbulkan kontroversi.

“Saya berharap khatib lebih bijak menanggapi informasi yang kontroversial. Jangan langsung disampaikan ke pendengar jika belum tentu kebenarannya,” katanya memberikan imbauan.

Menurut Umar, sebenarnya paham radikal memiliki arti yang positif, yaitu berpikir secara kritis. Namun kata tersebut sering dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Seperti tindakan intoleransi, merasa paling benar sendiri dan berujung suatu tindakan teror.

Sudah masuk lingkaran radikalisme sejak tahun 2006 itu, hal itu membuat Umar jadi banyak tahu. Awal dia terpapar adalah di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sebelum masuk ajaran radikal, kata dia, ada proses seleksi, khawatir yang mendaftar intelijen polisi.

“Saya diperiksa dulu, takut intelijen polisi. Setelah itu, baru dibaiat dan didoktrin. Biasanya, ajaran radikal disampaikan di tempat-tempat tertutup,” cerita Umar.

Bahkan, Umar sudah banyak diajari tentang cara pembuatan bom hingga strategi jihad melalui operasi pengeboman. Sayangnya, sebelum beraksi, dia ditangkap Densus 88. Umar menjalani hukuman itu sejak 2010 dan bebas  2015.

Harapannya, para khatib bisa menjadi contoh untuk bijaksana dalam bermedia sosial. Sehingga mereka dapat menjadi jalan tengah dan solusi dari semua bahan bacaan yang dibaca masyarakat, bukan menimbulkan kontroversi atau malah membuatnya lebih panas.

“Khatib yang baik tentu mereka yang tidak membuat kontroversial atau malah memperbesar masalah seperti mengaitkan hal yang aneh-aneh dengan aqidah, khatib yang baik adalah mereka yang mempersatukan dan mempererat silaturahmi antar umat islam, “ pesan Umar.

Di tempat yang sama, Kanit Subdit Kontra Ideologi Densus 88 AKBP Moh. Dhofir menginginkan agar para khotib dapat memiliki visi misi yang sama. Yakni bersama memberikan ceramah yang benar, yang tidak menuai kontroversi, sehingga bisa mencegah pada munculnya radikalisme.

“Kita sedang bersama melawan dengan pencegahan, karena memang faktanya ini ada, dan kita juga harus waspada,” ucap Dhofir.

Redaktur: Wawan A. Husna

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.