oleh

Eksistensi Karya Sastra Di Negara +62

*Habibullah

“Berkarya memang tidak mudah tapi dengan karya kita juga bisa melukiskan sejarah” mungkin kalimat itu yang tepat sebagai pemantik dari eksistensi karya sastra di negara +62. Berbicara masalah karya sastra, karya sastra merupakan hal yang sangat menarik untuk di perbincangkan baik dalam kampus, sekolah, atau bahkan di tempat nongkrong dan lainnya. Karna pada dasarnya karya sastra merupakan bagian dari masyarakat, yang turut serta mendidik masyarakat dengan nilai nilai luhur yang terdapat di dalamnya. Berbicara masalah karya sastra tentunya kita sebagai masyarakat melinial sudah tak asing lagi dengan hal tersebut. Karya yang di dalamnya terdapat banyak hal baik sosial, politik, religion, dan bahkan budaya. Lantas bagaiman keberadaan karya sastra di negara +62 ?.

Seiring berjalannya waktu keberadaan karya sastra bukan hal yang menjadi sorotan lagi khususnya dalam dunia akademisi, ada bahkan sebagian dari kita memandang karya sastra dengan sebelah mata. Dengan landasan pemikiran bahwa karya sastra sudah tidak relevan lagi dengan kondisi dan  tangtangan zaman hari ini, pandangan semacam ini dapat kita maklumi, jika pemikiran itu di lontarkan oleh masyarakat awam yang notabennya berada di desa, karna keterbatasan media atau bahkan biaya operasinal untuk internet yang terlalu mahal bisa menjadi salah satu faktor pendangan itu di maklumi.

Keberadaan karya sastra yang semakin hari semakin menghawatirkan khusnya dalam dunia akademisi, tidak boleh kita pandang sebelah mata atau bahkan di anggap sebaagia fenomena yang biasa biasa saja. Karna pada hakikatnya karya sastra tidak hanya bicara hanya soal imajinasi tapi lebih luas dan lebih lebar dari itu. Lantas apa saja yang mempengaruhi akan mirisnya karya sastra dalam artian luas masyakat Indonesia?

Kurangnya perhatian dari pemerintah

Dalam media ANTARANEWS Eka Kurniawan Tolak Penghargaan Maestro Seni, Mendikbud Tak Masalah “ sastrawan Eka Kurniawan menolaka menerima penghargaan karan menurutnya pemerintah pemerintah dinilai kurang peduli pada kebudayaan. Eka yang merupankan penulis Novel Laris, Cinta Itu Luka, Laki Laki Harimau, itu menyatakan dalam media sosial hadiayah yang didapat, yakni uang senilai 50 juta, masih jauh dari peraih mendali dalam kejuaraan olahraga dunia”.

Dari kasus di atas  bahwasanya Pemerintah yang merupan tokoh utama dari sebuah negara, harusnya memberikan perhatian lebih terhadap karya sastra. Namaun, dalam konteks ini dapat kita lihat bagaimana kemudian keadaan berbanding terbalik dengan apa yang di harapkan. Akibatnya  kurangnya regerarasi baik dari segi pembaca ataupun dari penulis itu sendiri.

Pemerintah harusnya menberikan perhatian khusus untuk mereka mereka yang membuat atau memiliki karya sastra, baik secara finalsial atau lainya. Dengan demikian step by step foukus atau keberadaan karya satra bukan suatu hal yang asing dan bahkan di pandang sebelah mata oleh masyarakat akademisi.

Kurangnya sorotan dari media

Dilansir dari website KOMPASANIA.COM  Sri Wintala Ahmad berpendapat bahwa “dengan kuantitas majalah bahasa jawa yang sangat minim serta perdebatan yang berskala, dan tidak adanya penerbit mayor bersedia menerbitkan karya sastra jawa merupakan faktor penghambat berkembangnya sastra jawa baik kuantitas dan kualitas karya maupun kuantitas kreator”. Dari pandangan ini bahwa Media yang merupankan penyambung lidah dari masyarakat dari segarala aspeks, yang memiliki fungsi sebagai penyampai informasi dan bahkan sebagai edukasi. Pada nyatanya dalam konteks pengeksporan karya sastra dapat kita lihat masih kurang bahkan tak sebanding dengan pengeksporan lainya, seperti berita seleberiti dan berita oleh raga.

Contoh kongkrit lain yang dapat kita lihat ialah pada media koran, dalam hal yang berhubungan dengan karya sastra selalu memiliki tempat yang lebih sedikit baik dari segi jumlah kata, atau dalam bentuk ruang yang lebih sempit dari pada yang lainnya. Hal semacam ini juga bisa menjadi faktor utama akan riskanya karya sastra di kalangan akademisi atau bahkan di kalangan masyakat indonesia.

Kurangnya budaya literasi  

Membaca dan menulis bukanlah suatu hal yang mudah untuk di lakukan karna keduanya membutuhkan fokus lebih untuk di lakukan. Namun dengan dua hal tersebut akan banyak memberikan manfaat kepada kita. Lantas bagaimana budaya literasi di indonesia?.

Sidikit kita singgung tentang bagaimana sebenaranya literasi yag ada di Indonesia baikkah atau masih memiliki kondisi yang sangat kritis? Menurut CCSU (central connecticu state univesity) pada bulan maret 2016  dalam koran DETIKNEWS “ Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang disurve. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botwana yang berada di karak peringkat literasi ini”. Dari data diatas dapat kita lihat bagai sebernarnya kondisi literasi yang ada di indonesia, kurangnya contoh atau memang masyakat kita yang bisa dikatakan tidak memiliki budaya yang baik tentang literasi.

Selaras dengan yang sempat di singgung di atas, bangsa kita memang kurang dalam literasi. Namun itu bukan suatu hambatan yang berarti jika kita mau merubahnya, tidak ada perubahan yang bisa di dapatkan tanpa adanya usaha untuk merubah hal tersebut.

Dari hal itu dapat  kita tarik benang merahnya bahwa keberadaan karya satra di negara +62 sangat riskan. Namun keberadaan karya sastra akan di pandang lagi jika dari tiga aspek yang tertera di atas  saling mendukung satu dengan yag lainnya. Karnya akan amat sangat lucu ketika salah satu di antra yang tiga tersebut saling mematikan satu dengan yang lainya.  Mari hidupkan karya sastra karna dengannya kita juga bisa membuat orang lain  berimajinasi jauh keluar angkasa.

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed