oleh

Enam Penjual Ranmor Bodong Via Medsos di Kabupaten Sampang Dibekuk

Kabarrmadura.id/Sampang-Sebanyak enam pelaku penjual kendaraan bermotor (ranmor), tanpa dilengkapi surat resmi bukti kepemilikan atau bodong dibekuk Kepolisain Resor (Polres) Sampang. Para pelaku menggunakan perkembangan media sosial (medsos) untuk memasarkan ranmor bodong tersebut.

Adapun keenam pelaku tersebut, yakni Moh. Ali (20) warga asal Desa Panjeruan, Kecamatan Kedungdung, dengan barang bukti sepeda motor merk Honda CBR tahun 2017 warna merah.

Kemudian, Yanto Bin Deri (26) asal Desa Gunung Rancak, Kecamatan Robatal, dengan kendaraan Kawasaki Ninja RR warna putih. Supa’i (43) asal Desa Banjar Billah, Kecamatan Tambelangan dengan kendaraan Yamaha R15 2016 warna putih.

Selanjutnya, Rois (22) asal Desa Batu Poro Timur, Kecamatan Kedungdung dengan jenis kendaraan Honda CBR 2017. Su’adi (24) asal Desa Karang Penang Oloh, Kecamatan Karang Penang, dengan jenis kendaraan yaitu Honda Vario 125 warna hitam. Terakhir, Mahmud (29) asal Nagasareh Kecamatan Banyuates, dengan barang bukti Yamaha N-Max warna biru.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Sampang AKP Riki Donaire Piliang mengatakan, selama 12 hari pihaknya melkukan operasi sikat semeru 2020. Operasi yang digelar sejak 6-17 Juli 2020 itu, telah mengungkap tujuh kasus dengan enam pelaku penjualan ranmor bodong melalui aplikasi facebook.

Diungkapkannya, setelah dilakukan penelurusan, keenam pelaku diketahui merupakan anggota grup dan terdaftar sebagai member sindikat penjualan ranmor bodong. Sehingga para pelaku ini dapat mengeshare atau menjual kendaraan dengan bebas.

Ditambahkannya, penjualan ranmor bodong via medsos di Kabupaten Sampang, memang marak terjadi. Modusnya, pelaku bergabung di salah satu grup jual beli sepeda motor area Madura. Dengan begitu, pelaku bisa dengan bebas melakukan aktivitas jual beli ranmor bodong dengan harga yang jauh lebih murah.

“Modusnya sangat rapi dan hanya orang orang tertentu yang punya akun facebook dan masuk dalam member untuk bisa memposting barang yang mereka tawarkan,” ungkapnya, Rabu (22/7/2020).

Dengan kejadian ini, pihaknya mengimbau kepada masyarakat yang ingin membeli kendaraan murah tanpa bukti surat kepemilikan untuk berhati-hati, karena terdapat persangkaan pasal yang akan menjerat, baik bagi penampung dan pembeli karena dianggap sebagai penadah dan juga penjual barang bodong.

“Dalam kasus ini kami sangkakan pasal 480 ayat ke 2 e KUHP dengan ancaman pidana empat tahun penjara,” pungkasnya. (mal/pin)

 

Komentar

News Feed