oleh

Euforia Hijrah dan Legitimasi Kesalehan

Peresensi: Oscar Maulana. Mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata.

Mafhum di dunia serba online kian merebak nan mengejawantah perilaku manusia. Perilaku manusia acap kali berseberangan dari realitas yang ada, termasuk dalam unsur-unsur private media sosial (medsos). Media sosial memberikan kita kemudahan dan hingar-bingar dunia yang dengan cepat terserap. Kehidupan manusia pun dicecar berbagai berita-berita yang berseliweran di jendela gawai. Namun, berita-berita itupun tak sedikit ada yang berkonten kebohongan (hoax), bahkan ujaran kebencian (hate speech).

Kehadiran dunia baru ini disebut cyberspace atau digitalisasi. Ruang maya menyuguhkan dunia tanpa batas, kita dipersilahkan melakukan eksperimentasi dan ekspresi diri di bidang apapun. Baik berupa seni, kebudayaan, literasi, bahkan kampanye menyebarkan agama—dakwah lewat media sosial. Namun bagaimana jika dakwah di media sosial dibikin ajang untuk mengklaim kesalehan personal, bahkan golongan?

Hal inilah yang menjadi pokok sajian buku berjudul Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh jangan (2020). Buku yang digarap Abd. Halim, dkk. ini menarasikan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Tanpa ada aturan baku di dalamnya, baik berupa metodologi ataupun sejenisnya. Kita serasa dikasih wejangan-wejangan khas pondok pesantren. Konon, sebagian penulis buku ini pernah menempuh jalur pondok pesantren.

Abd. Halim, dkk. mencoba memberikan sumbangsihnya melalui beberapa esai-esai reflektif. Mengenai lanskap ataupun fenomena keberislaman Indonesia masa kini. Meneropong gegap gempita umat Islam dewasa ini yang semakin kompleks. Dalam bermedia sosial, yang telah di singgung diatas, Persoalan agama dijadikan ajang eksistensi manusia, dan mengkampanyekan paham—ideologi religiusitasnya.

Nampaknya, pemahaman atas agama khususnya Islam, mengalami polarisasi yang terang benderang. Setiap paham membawa dan memiliki ciri khas masing-masing dalam berdakwah. Kita acap kali menjumpai orang-orang berdakwah yang melegitimasi atas religiusitas seseorang. Tak jarang bertendensi pada hal-hal perbedaan pendapat. Seakan, kita lupa bahwa manusia musti dilahirkan atas perbedaan dan plural. Baik berupa suku, ras, agama dan bahkan keintelektualan.

Dalam esai Abdul Halim berjudul “Jalan damai Dakwah Nabi Muhammad”, memberikan gambaran jalan dakwah yang dilakukan nabi. Nabi Muhammad menyatakan secara tegas penduduk madinah berdiri atas berbagai macam suku, kabilah, dan berbangsa yang satu (Innahum Ummatun Wahidah). Kita mudah mengerti, Nabi mendakwahkan agama pun memaklumi adanya keberagaman dan terbukti dengan adanya Piagam Madinah yang mencakup 47 pasal. Diantaranya, berisi hak asasi manusia dan hak kewajiban bernegara, tanpa melihat aspek agama ataupun starta sosial (halaman 29). Memperdebatkan keragaman pendapat dan mempertentangnya, kita seolah tidak mengindahkan perilaku nabi. Memasang sekat-sekat yang membelenggu diri manusia dan menafikan apa yang dicontohkan nabi.

Fenomena yang mempermasalahkan keragaman semacam ini memberi ibrah (pelajaran). Menyadarkan manusia tak bisa lepas dari fitrahnya yakni perbedaan. Kemudian, fenomena yang kian menjamur di tanah yang subur adalah euforia pemuda hijrah. Merebaknya fenomena ini bahkan merangsang publik figure (artis) turut serta, tak ketinggalan mendeklarasikan diri ke khalayak publik bahwa mereka telah berhijrah.

Bagi Halim, niatan semacam ini harus kita sambut dengan resnpon positif, namun perilaku hijrah yang nampak hanya dimaknai sebagai perubahan fisik saja. Mempamerkan diri dengan pose-pose yang memanifestasikan bahwa pemuda itu lampau berhijrah. Akun-akun berlabelkan kata hijrah pun acap kali kita temui, semisal Pemuda Hijrah, Hijrah Squad, Muslimah Hijrah, Hijrah Cinta dan lain sebagainya (halaman 26). Fenomena hijrah pun kian mendapatkan tempat yang menguntungkan di jagat maya kiranya.

Harusnya, hijrah mesti kita pahami tidak hanya sebatas pada perubahan fisik dan keinginan menjadi manusia saleh saja. lelaku masyarakat Islam harus tercermin melalui tindak tanduknya yang berlandaskan cinta kasih, rasa aman, dan kedamaian bagi sesama. Hal ini pernah disinggung oleh Kh. Ahmad Mustofa bisri (Gus Mus) dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial: Kualitas Iman, Kualitas Ibadah, dan Kualitas Akhlak Sosial (Diva Press, 2016). Gus mus, berpandangan bahwa gerak laku ketika menjalankan ritus-ritus keagamaan kadangkala dangkal. Gerak laku yang kosong makna. Dzikir-dzikir terlantun oleh mulut nan berlainan dengan perilakunya.

Kebohongan demi Kesalehan

Internet menjadi wadah aspirasi manusia, dan tak sedikit dimanfaatkan sebagai adu domba. Fenomena itu tercermin makin maraknya kabar bohong dan ujaran kebencian. Kemudian, masyarakat semakin terpecah belah. Kekhawatiran ini pernah disampaikan presiden, dengan semakin maraknya isu-isu semacam ini. Keprihatinannya atas apa yang terjadi di media sosial. Kecenderungan menjadi medan saling ejek, saling maki dan bahkan saling fitnah. Dan hasilnya adalah masyarakat yang terpolarisasi. (Tempo, 8 januari 2017).

Terkotak-kotaknya masyarakat kian menjadi masyarakat yang sentimen dan kehilangan rasa kepercayaan terhadap sesama manusia, karena hanya didasarkan pada berita bohong. Dalam hal ini apa yang mesti kita perbuat di tengah carut marutnya berita berbasis kenistaan?.

Dalam esai Nur Tanfidiyah berjudul “Bermedia dengan Akal Sehat”, memaparkan lelaku bermedia sosial menjadi keharusan mengedepankan akal sehat (Halaman 199). Bagi Nur kondisi seperti ini mesti kita pahami bersama. Ujaran kebencian dan maraknya berita hoax sama berlainan dengan perilaku nabi. Dan bisa menyebabkan kerusakan alam dan bahkan akal sehat.

Melihat fenomena di atas patut kita sadar bahwa dunia media sosial memberikan dampak abu-abu. Bisa berdampak positif dan malah sebaliknya. Maka, lewat buku ini kita diajarkan untuk mencerna pelbagai hal dari sengkarutnya labirin “agamaisasi digital”. Harapan manusia terus menggema diatas hamparan bumi, demi terwujudnya cita-cita bersama yaitu harmonisasi manusia dan keselarasan ragawi. Alhasil, buku ini dapat memperkaya perbendaharaan atas tema-tema serupa yang dikemas secara menarik dan luwes.

Judul Buku                   : Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh Jangan.

Penulis                         : Abd. Halim, dkk.

Penerbit                      : Sulur Pustaka, Yogyakarta

Cetakan Pertama        : Mei, 2020

Tebal                           : 234 halaman

ISBN                             : 978-602-5803-87-1

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed