oleh

Fachruddin Akui Pernah Gagal Ikut Seleksi di PSS Sleman

KABARMADURA.ID – Fachrudin Aryanto sebagai back sekaligus kapten dalam tim skuat Madura United. Menjadi pemain sepak bola profesional seperti Fachrudin tidaklah mudah, butuh upaya dan langkah yang tepat. Tentu semua pemain lapangan hijau tidak bisa menafikan proses panjang untuk menggapainya.

Awal mulanya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di kampung halamannya, Fachrudin Aryanto hanya terbiasa bermain bola dengan teman sejawatnya di halaman sekolah, dan di tempat-tempat tertentu yang bisa dijadikan tempat bermain bola.

Dia menyukai sepakbola karena memang di dalam sepak bola mengandung unsur kekompakan yang tentunya terbentuk dalam sebuah tim. Bahkan rasa kepercayaan, kepedulian terhadap sesama tim harus dibangun, guna mencapai apa yang dituju.

Lebih dari itu, rupanya dia memiliki seorang ayah yang juga menyukai pertandingan sepak bola. Sehingga ayahnya sering mengajak Fachrudin untuk  menonton secara langsung pertandingan sepak bola di kecamatannya.

“Ketika itu saya terkagum-kagum saat melihat pertandingan, ada keseruan tersendiri saat menyaksikan. Sorak-sorai penonton begitu gemuruh menyaksikan pertandingan yang berlangsung,” pengakuannya, Rabu (07/10/2020).

Dari sanalah Fahruddin ingin beralih posisi, yang awalnya sebagai penonton pertandingan sepak bola bersama ayahnya,  akhirnya dia ingin menjadi pemain yang juga bisa disaksikan oleh ayahnya. Harapan yang sederhana, tidak terlalu jauh, hanya ingin menjadi pemain bola.

“Enak nih jadi pemain bola bisa ditonton banyak orang. Kayaknya seru nih,” ucapnya pada Kabar Madura, saat memaparkan harapannya di usianya yang masih kelas 5 SD.

Karena keseringan bermain di depan halaman sekolah dan masjid di kampung halamannya, akhirnya seorang paman Fachrudin  dari sang ibu yang kebetulan sebagai guru olahraga, menawarkan Fahruddin untuk ikut Sekolah Sepak Bola (SSB).

“Waktu itu kelas 5 SD, saya ikut SSB di dekat rumah yang masih satu kecamatan,” imbuhnya.

Menurut pamannya, Fahruddin menambahkan, daripada bermain sepak bola di depan sekolah dan  Masjid, lebih baik ikut SSB untuk mengetahui bakatnya. Akhirnya ia pun memulai mengikuti saran pamannya itu untuk ikut SSB dan memulai karir sepakbolanya di kabupaten Klaten, tepat di mana Fachrudin dilahirkan.

Sampai pada waktu masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Fachrudin pernah ikut piala suratin Persiba Bantul 2005. Dirinya juga menyampaikan bahwa pernah tidak lolos di PSS Sleman dan Persiwi Wonogiri pada tahun 2006, saat dia masih kelas 2 SMA.

akhirnya dengan ketekunannya, pada tahun 2007 Fachrudin lolos saat mengikuti kompetisi usia 23 tahun di PSS Sleman, dan juga lolos saat mengikuti seleksi senior PSS Sleman pada tahun 2008.

Dia menyampaikan, saat di PSS Sleman dimulai dari tahun 2007 sampai 2012, kemudian setelah itu pada tahun 2012 sampai 2014 dia bermain di Persepam Madura United. Karena degradasi, dia berpamitan ke Achsanul Qosasi untuk tetap berproses di Liga 1.

Akhirnya di tahun 2014 sampai tahun 2017 ia memilih bermain untuk Sriwijaya, dan akhirnya kembali lagi untuk Madura pada tahun 2017 saat lepas dari Sriwijaya. Kembali ke Madura United adalah harapannya sejak dulu ketika Persepam Madura United mengalami degradasi.

Tapi syukurnya, pada tahun 2017 lalu dia bisa kembali untuk membela tim dengan kulakukan Laskar Sape Kerrab itu. Selain itu dia juga menyampaikan tentang pemain sepak bola yang dia idolakan sejak lama.

“Kalau untuk pemain luar saya mengidolakan  Jhon Terry, karena saya juga suka Chelsea,” pungkasnya. (KM55/ito)

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed