oleh

Faskes di Pamekasan Tidak Sanggup Layani Rapid Test Mandiri

Kabarmadura.id/PAMEKASAN–Keinginan warga Pamekasan untuk menguji kesehatannya dalam rangka memastikan tidak terinfeksi Coronavirus Disease (Covid-19), sulit dilakukan secara mandiri.

Sebab, fasilitas kesehatan di Pamekasan baik dari tinkat puskesmas hingga rumah sakit, tidak melayani adanya rapid test secara mandiri. Yakni, rapid test yang dilakukan atas permintaan warga dengan biaya sendiri.

Damanhuri, warga Desa Billaan Kecamatan Proppo, mengaku sempat mengantarkan adiknya ke Puskesmas Proppo untuk periksa, karena adiknya baru saja tiba dari Amerika Serikat. Namun, keinginan tersebut ditolak oleh pihak puskesmas, kemudian diarahkan untuk melapor terlebih dahulu ke Satgas Covid-19 Desa Billaan untuk didata terlebih dahulu.

“Adik saya datang dari Amerika, sekitar jam tujuh pagi saya bawa ke Puskesmas Proppo untuk dites. Tapi oleh petugas disuruh datang saja ke stagas Covid-19 yang ada di desanya. Yang jadi pertanyaan saya kok cuma didata saja bukan ditest,” ucapnya.

Diakuinya, jika bisa melakukan rapid test secara mandiri, dia akan melakukan test tersebut sepanjang bisa dilayani.

Sementara itu, Ketua Satgas penanggulangan Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan Syaiful Hidayat menyatakn bahwa pihaknya memang belum menyediakan layanan rapid test mandiri.

Bagi warga yang memiliki keluhan kesehatan dan ingin memeriksakan kesehatannya untuk berjaga-jaga apakah mereka terpapar Covid-19 atau tidak, belum bisa diberikan.

“Kalau mau periksa apakah dia terpapar virus Corona atau tidak, harus ke Surabaya, sebab di Pamekasan belum bisa,” ucap Syaiful Hidayat.

Menurutnya, rapid test hanya bisa dilakukan bagi masyarakat yang direkomendasikan dokter atau atau petugas kesehatan, karena dia terindikasi orang dalam resiko (ODR) dengan riwayat perjalanan keluar daerah, atau bagi orang dalam pemantauan (ODP) karena a mengalami gangguan kesehatan setelah ia melakukan perjalanan keluar daerah.

“Atau karena ia merupakan orang dekat pasien yang terinfeksi Covid-19. Jika bukan ODR, ODP, PDP atau anggota keluarga pasien yang terinfeksi Covid-19, tidak dilakukan rapid test,” imbuhnya.

Hal itu, katanya, disebabkan minimnya sarana prasarana kesehatan untuk menyediakan layanan rapid test secara mandiri.

“Jika ada pelaksanaan rapid test mandiri warga akan membludak untuk memeriksakan kesehatannya dan itu akan menyebabkan kewalahan untuk melayani,” imbuh Syaiful.

Namun, Syaiful menyarankan salah satu solusi bagi warga yang merasa khawatir karena mengalami gangguan kesehatan, sedangkan ia bukan ODR, ODP atau bukan orang dekat pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19,  bisa periksa sendiri dengan membeli peralatan rapid di pasar online yang harganya berkisar Rp500 hingga Rp600 ribuan.

“Jika disediakan layanan rapid test mandiri maka semua akan periksa, sedangkan sarana prasarana kesehatan minim. Kalau memang mau priksa sebenarnya di online shop itu banyak kok kalau mau beli sendiri, harganya juga tidak mahal, sekitar 500 sampai 600 san,” pungkasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan dr. Akhmad Marzuki tidak bisa memberikan pernyatan banyak terkait tidak adanya layanan rapid test mandiri. Pihaknya masih akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak RSUD dan Satgas Covid-19 Pamekasan.

“Mengenai hal itu, kami masih akan berkoordinasi dengan pihak RSUD dan satgas kabupaten, atau anda bisa langsung mengkonfirmasinya ke pihak RSUD,” tukasnya. (ali/bri/waw)

 

Komentar

News Feed