Fleksibilitas Dana BOS: Menjawab Masalah Pendidikan saat Wabah

  • Whatsapp

Oleh: Al-Mahfud*)

Di tengah wabah Coronavirus Disease (Covid-19), para guru dituntut tetap menjalankan kewajiban mengajar melalui pembelajaran online. Sejak corona mewabah, kegiatan belajar-mengajar di sekolah dihentikan dan semua siswa harus belajar dari rumah masing-masing. Mengajar secara online memiliki tantangan berbeda dengan pembelajaran konvensional tatap muka. Di sinilah, para guru harus bisa mengatasi tantangan tersebut.

Bacaan Lainnya

Di berbagai daerah di Indonesia, terutama di daerah pedalaman, pembelajaran secara online mungkin masih menjadi hal yang baru. Tak ayal jika pelaksanaan kebijakan ini masih menghadapi berbagai kendala. Keterbatasan sarana penunjang seperti gawai dan internet bisa menjadi kendala yang dihadapi guru yang mengabdi di daerah-daerah terpencil dan pedalaman. Tak semua siswa memiliki gawai. Selain itu, jaringan internet juga kadang tak memadai.

Persoalan tersebut bisa kita lihat dari munculnya kabar tentang adanya guru yang harus berkeliling dari satu rumah siswa ke rumah siswa lain demi bisa mengajar di tengah kondisi darurat wabah Corona ini. Dikabarkan, hal tersebut dilakukan dua guru dari Garut Selatan, yakni Ujang Setiawan Firdaus, guru dari SDN Purbayani 1, dan Rosita Amelia, guru honorer SDN 3 Nyalindung Garut. Mereka mengaku, dalam seminggu bisa berkeliling ke enam kampung demi memenuhi kewajiban mengajar murid-muridnya yang tak memiliki gawai dan terbatasnya jaringan internet (merdeka.com, 19/04/2020).

Pelaksanaan pembelajaran dari rumah di tengah wabah Covid-19 ini masih menghadirkan begitu banyak tantangan dan persoalan. Baik bagi para guru maupun para siswa itu sendiri.

Bagi para guru honorer, misalnya, mengajar online menuntut berbagai hal. Dari kecakapan memanfaatkan teknologi, kreativitas dan inovasi dalam memiliki model pembelajaran online, biaya lebih untuk membeli kuota internet, hingga tenaga dan waktu lebih ketika harus berkeliling ke rumah-rumah siswa jika fasilitas penunjang yang memadami, seperti dilakukan oleh dua guru dari Garut tersebut.

Tak hanya dirasakan guru, para orangtua siswa juga dihadapkan pada persoalan yang sama. Selain harus sering mendampingi dan membantu anaknya selama belajar di rumah, orangtua juga harus menyediakan lebih banyak kuota internet untuk menunjang anaknya belajar dari rumah. Berbagai kondisi tersebut harus mendapatkan perhatian dari Kemdikbud, guna bisa membantu dan menunjang kebijakan belajar dari rumah selama masa darurat Covid-19 saat ini.

            Dana BOS fleksibel

            Sebenarnya, fleksibilitas dana BOS yang diumumkan Kemdikbud belum lama ini bisa menjadi angin segar untuk membantu mengoptimalkan penyelenggaraan pembelajaran dari rumah selama masa pandemi ini. Pada Rabu 15 April 2020, melalui Permendikbud Nomor 19 Tahun 2019, Kemdikbud baru saja memberi fleksibilitas dan otonomi kepada para kepala sekolah dalam menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler.

Jika dicermati, kebijakan ini bisa memungkinkan para kepala sekolah untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul terkait proses belajar dari rumah di masa darurat ini. Khusus di masa darurat Covid-19 ini, kepala sekolah diberi keleluasaan dalam menggunakan dana BOS, terutama untuk menciptakan kenyamanan bagi guru dan siswa selama kegiatan belajar online. Salah satunya, kebebasan mengalokasikan dana BOS lebih dari 50% untuk gaji guru bukan ASN atau guru honorer.

Disebutkan di Permendikbud Nomor 19 Tahun 2020 Pasal 9 A ayat 2, bahwa ketentuan pembayaran honor paling banyak 50% tidak berlaku selama masa penetapan status kedaruratan kesehatan masyarakat Covid-19 oleh pemerintah pusat. Maka, para kepala sekolah memiliki fleksibilitas atau keleluasaan untuk menilai dan mencermati kebutuhan yang ada di daerah atau sekolah masing-masing.

Melalui kebijakan tersebut, Kemdikbud bermaksud mendorong para kepala sekolah lebih peka dan memahami permasalahan dan kebutuhan guru di sekolah masing-masing. Kepala sekolah mesti lebih aktif melihat kebutuhan sekolah masing-masing. Harapannya, pemberian keleluasaan alokasi gaji guru honorer lebih dari 50% tersebut bisa membantu meringankan beban para guru honorer, terutama dalam menjalankan tugasnya di tengah situasi wabah Covid-19 saat ini.

Kemudian, syarat guru honorer penerima gaji tersebut juga lebih fleksibel. Tak sekadar dibatasi hanya guru yang memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan). Namun, syaratnya adalah guru honorer yang tercatat pada Dapodik per 31 Desember 2019, belum mendapatkan tunjangan profesi, dan memenuhi beban mengajar, termasuk mengajar dari rumah dalam masa darurat Covid-19 ini.

Selain keleluasaan presentasi untuk alokasi gaji honorer tersebut, dana BOS di tengah situasi wabah ini juga bisa digunakan untuk menunjang pembelajaran online. Seperti membeli pulsa, paket data, dan/atau layanan pendidikan daring berbayar, baik bagi pendidik maupun peserta didik dalam rangka pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Melihat banyaknya keluhan terkait ketersediaan kuota internet, baik dari guru maupun siswa, kebijakan ini tentu akan sangat membantu mengatasi persoalan tersebut.

Di tengah situasi darurat wabah saat ini, diperlukan terobosan-terobosan kebijakan untuk menyikapi dinamika atau segala perubahan yang ada. Fleksibilitas penggunaan dana BOS merupakan salah satu upaya Kemdikbud menyikapi dampak wabah Corona saat ini. Pada akhirnya, kita berharap agar segala fleksibilitas tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan oleh para kepala sekolah untuk mengatur dana BOS secara bijak, cerdas, dan efisien.

*)Al-Mahfud, peminat topik pendidikan.
Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *