Gadis 4 Tahun Korban Pedofil Alami Gangguan Mental, Infeksi dan Harus Diobati Terus

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIN) KURANG DIURUS: Ibu korban kekerasan seksual anak (berkalung tas) harus sampai ikut berdemo menuntut putrinya yang baru berusia empat tahun dipulihkan fisik dan mentalnya.

KABARMADURA.ID SAMPANGAwal tahun 2021 lalu, di salah satu desa di Kecamatan Torjun, Sampang, terjadi kasus kekerasan seksual terhadap anak usia 4 tahun. Aksi bejat itu dilakukan orang dewasa usia 45 tahun.

Pelaku kekerasan seksual itu berinsial Dl, warga desa setempat dan merupakan kerabat atau paman dari korban itu sendiri.

Tingkah pedofil itu dilakukan lebih dari satu kali terhadap korban. Pelaku merasa lancar melakukan aksinya lantaran orang tua korban merantau ke Malaysia. Korban yang berusia 4 tahun itu tinggal dengan neneknya. Namun  rumahnya berdempetan atau hanya jarak tembok dengan rumah pelaku.

Atas perbuatan itu, saat ini kondisi korban mengalami gangguan, sehingga ketika bertemu orang asing, langsung ketakutan dan bengong sambil menangis. Selain itu, korban mengalami infeksi, sehingga sering mengeluh kesakitan, terlebih saat obatnya habis atau telat minum obat.

Penanganan dari pemerintah untuk memulihkan kondisinya, sejauh ini belum maksimal. Bahkan sejak waktu kejadian sampai dilaporkan ke kepolisian, penanganannya diprediksi tidak sampai lima kali.

Hal itu diceritakan oleh orang tua korban yang tidak ingin disebutkan namanya pasca melakukan aksi demonstrasi di Mapolres Sampang, Selasa (15/6/21).

Selain itu, dengan kondisi korban yang sangat memperihatinkan, ibu korban berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang melalui dinas terkait agar membantu untuk mengambalikan kondisi anaknya seperti semula, baik dari kesehatan, psikologis dan lainnya.

Masa depan anaknya yang masih panjang, membuatnya khawatir jika kondisi tersebut tidak bsia disembuhkan, sehingga masa depan anaknya akan semakin suram, terlebih anaknya atau korban sering murung di rumah.

“Saya mohon kepada pemerintah daerah untuk memaksimalkan penanganan anak saya yang kondisinya semakin parah, masa depan anak saya ini masih panjang,” ucapnya sambil tidak henti-hentinya menangis, Selasa (15/6/2021).

Sementara itu, Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Madura Development Watch (MDW) Sampang Siti Farida mengakui penanganan dari pemerintah untuk merehabilitasi kesehatan, psikolgis korban kekerasan seksual anak, belum maksimal.

Dikatakan Farida, berdasarkan penyampaian ibu korban, penanganannya tidak sampai lima kali. Sedangkan menurut Farida, penanganan idealnya satu sampai 20 kali dan harus rutin, artinya tidak hanya datang kemudian selesai.

Sebab, lanjut Farida, rehabilitasi sosial untuk mengembalikan nama baik ke masyarakat, sehingga kesehatan korban harus dipantau. Terlebih, berdasarkan keterangan dari rumah sakit yang menanganinya, korban mengalami infeksi di bagian organ vitalnya, sehingga harus terus menerus diobati.

Kekhawatiran lainnya adalah kekebalan tubuhnya terserang, karena kondisnya lemah. Bahkan kemungkinan terburuk korban akan mandul atau tidak bisa punya anak.

“Penanganan dari bidang Pemeberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) ada, tapi tidak intens. Karena hanya datang kemudian selesai, kembali datang ketika korban menjalani pemeriksaan di pengadilan. Padahal harusnya intens. Dengan in,i dalam waktu dekat akan audiensi ke dinsos, bahkan jika perlu ke bupati Sampang, karena biasanya alasannya itu terkait anggaran,” cetusnya.

Sayangnya, Plt Kepala Dinsos-PPPA Sampang M. Fadeli tidak bisa dikonfirmasi untuk mempertanyakan tekait penanganan korban kekerasan seksual itu. Saat dihuibungi berulang kali ke nomor ponselnya, meski berdaring, tidak direspon. (mal/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *