oleh

Gagal Efektifnya Model Belajar Daring Munculkan Berbagai Gagasan Alternatif

Kabarmadura.id/BANGKALAN-SUMENEP-Kendati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  mengizinkan penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk memfasilitasi pembelajaran. Namun di tengah wabah Covid-19 ini, saat sekolah menggunakan sisitem daring, dana BOS itu tidak digunakan untuk memfasilitasi sarana dan prasarananya.

Akibatnya, banyak yang menilai, model pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar (KBM) secara  daring tidak efektif. Namun dari kondisi tersebut, juga melahirkan banyak gagasan tentang model KBM.

Ada pula yang ingin kembali secara normal, yakni KBM secara tatap muka, salah satunya Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, KH. Mohammad Hosnan.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Jufri Kora menuturkan, sselama kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring, siswa menggunakan uang pribadi untuk membeli paket internet. Sementara kegiatan mengajar oleh guru tetap ditanggung dana BOS.

“Untuk dana BOS belum menyentuh kepada siswa, karena tidak mencukupi, akan tetapi selama proses belajar mengajar, guru sudah ditanggung oleh dana BOS,” paparnya.

Guru yang mengajar secara daring tetap ditanggung dana BOS, kata Jufri, karena dana BOS disalurkan sebagai operasional sekolah, tidak diberikan kepada siswa. Selain itu, dana BOS tidak mencukupi jika diberikan ke setiap siswa di Bangkalan.

“Kalau dana BOS diberikan ke setiap siswa guna untuk membeli paket internet, maka tidak mencukupi,” dalih Jufri.

Sementara, dalam menghadapi new normal pendidikan, atau diterapkannya kembali KBM tatap muka, semua sekolah telah diminta melengkapi semua peralatan untuk memenuhi protokol kesehatan Covid-29, seperti tempat cuci tangan dan termogane. Sedangkan sisa anggarannya digunakan untuk kegiatan guru dalam KBM secara daring.

Tidak efektifnya belajar via dalam jaringan (daring) itu, menarik perhatian salah satu Pengasuh Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, KH. Mohammad Hosnan. Menurutnya, penyebabnya tidak hanya soal minimnya sarana yang dimiliki siswa dalam menjalani KBM daring, namun masih banyak alasan yang melatarbelakanginya.

Alasan itu antara lain, para pendidik serta pengelola pendidikan belum begitu siap dan tanggap menjalankan model pembelajaran via daring, sehingga tetap banyak kendala meski sudah dilalui selama tiga bulan terakhir.

“Menurut saya, sebagai orang yang aktif di perguruan tinggi menilai (sisrem daring, red), tidak efektif. Apalagi siswa yang masih duduk di SD, SMP, dan SMA sederajat. Banyak alasan yang dapat saya utarakan kenapa dinilai tidak efektif,” katanya, Senin (3/8/2020).

Rektor Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah itu juga menyebut, selain letak geografis yang kurang mendukung, juga banyak orangtua siswa dengan kondisi perekonomian lemah dan terdampak Covid-19. Akibatnya, mereka kesulitan dalam membeli paket data internet.

Selain itu, ketidaksiapan juga diakibatkan kurangnya pelatihan atau sosialisasi terhadap para pendidik dalam menjalankan pembelajaran daring. Bahkan, banyak temuan fakta di lapangan, tidak semua guru mampu mengoperasikan internet.

“Dalam menyukseskan model daring, pemerintah juga (harus) menyiapkan subsidi, baik berupa wi-fi maupun bekerja sama dengan operator telekomunikasi dan lainnya agar mempermudah jaringan atau internet. Karena semuanya terdampak kan,” ungkapnya.

Kemudian pembentukan karakter untuk siswa baru, terutama di tingkat sekolah dasar (SD), yang secara nalar belum lihai membedakan baik dan buruk. Sehingga harus dikawal ketat oleh orangtua.

Terlebih, belajar normal berbasis tatap muka saja tidak ada jaminan ternilai efektif, masih ada saja kendala yang menghambatnya. Ditambah lagi, model pembelajaran daring dengan banyak menu berbasis tugas.

Jika tidak ada kreasi dalam menyampaikan model pembelajaran, dari 4 materi pelajaran selalu berdampak pada 4 tugas yang harus diselesaikan tugas setiap harinya.

“Maka penting sosialisasi untuk tenaga pendidik, mekanisme yang akan diterapkan dalam via daring harus jelas. Kalau sekolah unggulan sampai tiga tugas setiap hari mungkin bisa diselesaikan mudah,” paparnya.

Namun kiai yang juga ketua PC ISNU Sumenep itu coba menawarkan solusi, yakni kembali menerapkan model pembelajaran tatap muka, namun dengan pertimbangan berupa pengawasan ketat sesuai protokol kesehatan.

“Kalau siswanya banyak lakukan (pembelajaran) dengan sistem piket, dan itu saya kira lebih efektif, materi pelajaran sudah dikurangi, mana lagi yang menjadi alternatif, ya itu saja coba jalani,” pungkasnya. (sae/ara/waw)

Komentar

News Feed