Gagalnya Lahan Integrasi Garam di Sumenep Akan Dilanjut Tahun 2021

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) DILANJUT: Seorang petambak garam di Kabupaten Sumenep rela berpanas-panasan untuk mendapatkan hasil produksi maksimal.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Belum terealisasinya lahan integrasi garam, seluas 30 hektar di dua kecamatan yakni Talango dan Gapura akan dilanjutkan di tahun 2021. Bahkan, akan kembali diajukan anggaran baru sebesar Rp5 miliar yang bersumber dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN).

Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Sumenep, Arif Rusdi mengatakan, gagalnya pengadaan tersebut, lantaran mewabahnya Covid-19. Saat ini, masih direncanakan dan tahun 2021 akan dilakukan pengajuan ulang.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, lahan integrasi garam memiliki manfaat besar bagi para petambak. Salah satunya, hasil produksi meningkat, kualitas garam rakyat lebih bagus dibanding dengan yang tidak terintegrasi. ”Kalau garam sudah semakin berkualitas dan hasil produksi meningkat, otomatis akan berdampak pada kesejahteraan petambak,” ujarnya, Senin (23/11/2020).

Selain itu, dengan adanya integrasi lahan garam, nantinya bisa mendukung produksi garam rakyat. Minimal sama dari tahun sebelumnya. Dengan tidak adanya lahan integrasi, tentunya produksi akan menurun.

“Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu berbenah untuk merawat garam yang berkualitas. Masyarakat juga penting dalam keterlibatan lahan garam,” tukasnya.

Diketahui, pada tahun 2019 lalu produksi garam rakyat mencapai 332.009,60 ton dari target produksi 236.000 ton. Stok garam di tahun 2019, sebanyak 102.820,35 ton. Hal tersebut, dihasilkan dari garam rakyat dan produksi garam bersumber dari Garam Rakyat.

“Untuk tahun 2020 diharapkan capaiannya sama. walaupun tidak ada lahan integrasi garam,” paparnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sumenep, Juhari mengaku, sangat kecewa dengan gagalnya lahan integrasi garam. Sebab, akan memperkecil produksi. Pihaknya berharap, pemkab mencari solusi lain untuk meningkatkan produksi garam.

Misalnya, mensosialisasikan dengan para petambak untuk senantiasa terus memberikan cara menambak garam. “Jika para petambak dibiarkan, maka jelas akan memperkecil produksi terlebih lahan integrasi garam sudah gagal,” paparnya.

Pada tahun sebelumnya, program integrasi lahan garam yang dicanangkan Diskan belum berjalan optimal. Hingga saat ini, peminat program tersebut masih sedikit. Rata-rata pemilik lahan belum bersedia melakukan integrasi lahan.

“Kami berharap, tahun ini dapat terlaksana dengan baik. Tetapi karena gagal, maka langkah selanjutnya harus menjadi PR pemkab,” tukasnya. (imd/ito)

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *