Galian C Ditinggal, Penambang Ciptakan Sejumlah Titik Potensi Longsor

  • Whatsapp
(FOTO: HUMAS POLRES BANGKALAN FOR KM) HABIS MANIS...: Salah satu bekas galian C di Kecamatan Arosbaya yang memakan korban pada Maret lalu akibat longsor.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Bekas galian C di beberapa kecamatan di Bangkalan kini dibiarkan mangkrak. Kondisi itu bisa dijumpai di Kecamatan Socah, Konang, Galis hingga Arosbaya.

Menanggapi dampak buruk pada lingkungan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan Anang Yulianto mengatakan, selain merusak lingkungan, bekas galian C ini kerap menimbulkan longsor. Seperti kejadian beberapa pada Maret 2021 di Kecamatan Arosbaya. Seorang warga penjual rujak tewas terkubur batu dan tanah yang longsor.

“Selain longsor, biasanya juga bisa mempengaruhi jumlah debit air. Karena sudah tidak ada pepohonan lagi,” katanya, Selasa (23/11/2021).

Mantan camat Arosbaya ini sudah melihat banyak galian C ini saat ini sudah tidak beroperasi lagi. Pihak DLH juga sudah meminta penambang atau pemilik lahan untuk melakukan rehabilitasi.

Rehabilitasi yang dimaksud Anang, pemilik tanah tersebut minimal harus bisa melakukan penanaman pohon untuk memperkuat tanah di sekitar area tambang galian C.

“Untuk galian yang belum terlalu dalam, bisa kembali diuruk. Bisa dibuat lahan pertanian, dimanfaatkan kembali. Jangan sampai dibiarkan,” ungkapnya.

Mengingat saat ini curah hujan juga cukup tinggi, dia khawatir tanah di bekas galian tambang gersang, sehingga tidak mampu menahan resapan air hujan. Akibatnya, bisa menyebabkan longsor seperti beberapa bulan lalu.

“Jadi untuk izin lingkungan pun kami tidak bisa memberikan rekomendasi, karena semua sudah dipegang oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim,” jelasnya mengenai terbatasnya kewenangannya untuk menekan para penambang.

Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bangkalan Ainul Ghufron. Dia mengaku, untuk masalah jumlah pasti galian C, saat ini tidak bisa diketahui, karena perizinannya ditangani Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah pusat.

“Pemohon langsung ke ESDM provinsi, tidak perlu rekomendasi dari kami,” singkatnya saat dihubungi via telepon seluler.

Sedangkan berdasarkan hasil pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan, bekas galian C yang potensial akibatkan longsor ada di Kecamatan Kokop, Konang dan Galis.

“Banyaknya penambang batu kapur bermunculan. Saya juga tidak tahu di sana sudah berizin atau tidak. Yang saya amati beberapa kali bahwa rata-rata banjir bandang dan longsor tidak punya akar pohon yang bisa menopang tanah,” tukas Kepala BPBD Bangkalan Rizal Moris.

Reporter: Fain Nadofatul M

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *