Gandeng Petani Lokal, Koperasi MMA Arosbaya Kembangkan Porang hingga Ekspor ke Vietnam

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) BUDIDAYA: Petani di Bangkalan yang mendapat bimbingan langsung dari Tim Koperasi MMA Arosbaya mengenai pengembangan tanaman porang.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Koperasi Madura Multifarm Agromandiri (MMA) Arosbaya menggandeng petani di Bangkalan untuk usaha pengembangan tanaman porang, yang mana hasil penjualannya akan diekspor ke negara Vietnam.

Koperasi MMA Arosbaya sendiri merupakan lembaga ekonomi kerakyatan yang bergerak di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan daur ulang (P3D) dengan menerapkan sistem terpadu. Sehingga nanti tercipta ekosistem ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan melalui konsep gotong royong.

Bacaan Lainnya

Ketua Koperasi MMA Arosbaya Sulhan Badri menjelaskan, pengembangan tanaman porang masih tahap budidaya dan pembuatan chip untuk ekspor. Ia mengaku memulai usahanya bersama para petani sejak tahun 2018. Pada tahun 2019 ia bersama teman-temannya mulai berkoperasi. Kini, koperasinya sudah bermitra dengan sekitar 13 kelompok tani (poktan).

“Kami tahun 2020 bikin oven dengan kapasitas 9 ton per 8 jam,” katanya, Senin (14/6/2021).

Ia menambahkan, panen perdana sudah berjalan tahun 2020. Namun, mayoritas teman-temannya baru menanam di bulan November 2020, dan bibitnya bukan yang besar.

“Rata-rata panennya dua musim sekali. Panen tahun 2020 dari luasam 2.500 meter persegi dapat 12 ton porang. Sementara hasil panen tersebut masih untuk bibit pengembangan porang lagi,” jelasnya.

Selanjutnya, pihaknya masih mengambil dari luar Madura untuk produksi. Ia menjelaskan, budidaya porang tersebut terinspirasi dari pioner porang asal Madiun.

“Sebab di beberapa wilayah di Bangkalan ini cukup berpotensi bisa ditanami porang seperti di Kecamatan Geger,” tuturnya.

Kata Sulhan, tanaman ini merupakan varietas tumbuhan yang tidak banyak membutuhkan air. Di mana tumbuh pada musim hujan dan menjadi tanaman tidur pada musim kemarau.

Ia menuturkan bahwa satu hektar tanah meraup untung hingga Rp400 juta dalam sekali panen.

“Sebarannya di Kecamatan Arosbaya, Geger, Tanah Merah, Burneh, Kwanyar, Jeddih, dan Kamal dengan luas lahan 4 sampai 5 hektar. Kalau lain mitra, dan hanya beli bibit di kami cukup banyak,” terangnya.

Pihaknya kini menyediakan berbagai macam bibit untuk petani. Mulai bibit porang katak dan bunga. Satu bibit katak harganya Rp180 ribu per kilo dan bibit bunga kisaran Rp900 ribu per kilo. Perbedaan harga ini didasari musim panennya.

“Tahun kemarin bibit katak bisa sampai Rp450 ribu per kilo dan bibit bunga Rp1,6 juta,” jelasnya.

Saat panen tahun 2022, pihaknya mengaku, ekspor yang akan dikirim ke Vietnam itu akan dilakukan secara mandiri melalui koperasinya. Karena pihaknya sudah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak Vietnam. Harapannya, panen paling cepat bulan Agustus 2021 atau awal 2022.

Hasil panen tahun ini per kilo sekitar Rp7.500 sampai Rp8000. Tetapi untuk musim panas, harga porang bisa mencapai Rp13.700 sampai Rp14.000.

“Kemarin dari pihak Vietnam sudah menemui kami. Oleh sebab itu, kami berharap selain petani bisa memperbanyak menanam porang, dari Pemkab Bangkalan juga bisa menambah nilai tambah, artinya bisa memberikan pelatihan untuk membuat counselor in training (CIT)  dengan kualitas ekspor atau pembuatan tepung,” pesannya.

Bahkan, kalau bisa dia berharap ada glukomanannya. Karena menurutnya, glukomanan dibutuhkan untuk industri makanan, farmasi, dan kecantikan. (ina/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *