oleh

Garam Sumenep hanya35 Ribu Ton yang Terserap Pabrikan

KABARMADURA.ID, Sumenep -Serapan garam oleh pabrikan sangatlah minim. Dari stok garam 62.505,81 ton, hanya mencapai 35 ribu ton lebih. SehinggaperSeptember 2020, sisa garam rakyat sebanyak 27.505 ton belum terjual pabrikan.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Sumenep Sri Harjani mengatakan, serapan tersebut dilakukan oleh pabrikan swasta, seperti PT. Susanti, PT. Budiono dan pabrikan swasta lainnya.

“Penyerapan masih jauh dari stok, karena petambak enggan menjual garam dengan harga murah,” katanya, Minggu (18/10/2020).

Selain itu, tidak semua kristal putih itu dibeli pabrikan setelah diproduksi. Sebab, capaian produksi saat ini mencapai 50 ribu ton lebih.

“Kami disini hanya menerima laporan dari pabrikan. Sedangkan untuk produksi dari rakyat produksi,” tukasnya.

Dijelaskan, harga garam saat ini kisaran Rp250 hingga Rp300 per kilogram. Bahkan ada juga yang Rp125 per kilogram di Gili Genting. Sebab, harga garam di setiap kecamatan tidak sama.

“Serapan garam atau yang dibeli Pabrikan memang sangatlah minim karena harga juga menentukan,” ucapnya

Sementara itu, Koordinator Aliansi Masyarakat Garam (AMG) sekaligus Ketua Asosiasi Petambak Garam Abdul Hayat mengakustok garam saat ini masih banyak. Sehingga, banyak garam punya petambak yang ditimbun dipinggir jalan.

“Musim ini menjadi pukulan pahit, membuat petambak mejerit karena yang terserapsedikit,” ujarnya.

Kepala Desa Pinggir Papas itu menegaskan, semestinya perusahaan garam memiliki kewajiban untuk menyerap garam disaat stok menumpuk dan harga di pasaran anjlok.

“Saat ini penyerapan yang dilakukan pabrikan sangatlah terbatas,” tukasnya.

Dia mengakui, penyerapan yang dilakukan oleh perusahaan pengimpor garam juga tidak optimal. Mereka menyerap garam sekedar asal-asalan.

“Yang penting menyerap ya wes, setelah itu tidak pernah memikirkan bagaimana agar garam dibeli mahal,” ujar dia.

Pria yang biasa disapa Haji Ubed itu menegaskan, pemerintah harus segera mencari solusi agar garam rakyat bisa terjual dengan harga tinggi. Sebab saat ini petambak membutuhkan mengeluarkan banyak biaya untuk modal memproduksi garam dan makan sehari-hari juga terkadang ngutang.

“Nasib petambak garam sangatlah memprihatinkan,” ujar dia.

Menurutnya, pihak pabrikan dan industri sangatlah tidak adil dalam menerapkan parameter kualitas garam. Sebab, hal itu merupakan alasan yang sudah berulang disampaikan dan pemerintah cenderung abai dalam pengembangan garam rakyat.

“Sejak tahun 2013 hingga saat ini, kualitas garam rakyat telah membaik berkat aplikasi teknologi geomembran. Tetapi, keyataannya saat ini masih lemah. Sebab, serapan sangatlah minim,” pungkasnya.(imd/waw)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed