oleh

Garingnya Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19

Oleh:Ridwan

Mulai tanggal 16 Maret 2020 siswa dianjurkan untuk belajar di rumah. Itu titik awal kegiatan pembelajaran model klasikal dihentikan. Ditemukannya anggota masyarakat yang positif covid menjadi penanda awal, bahwa masyarakat harus dilindugi, himbauan agar masyarakat tidak berkumpul  bukan hanya merambah simpul kepadatan seperti pasar, terminal angkutan umum, bandara, pelabuhan, dan obyek sosial masyarakat lain, akan tetapi juga sekolah (lembaga pendidikan).

Kantor pemerintahjuga begitu, pengambil kebijakan dengan trengginas mengeluarkan surat edaran atau keputusan untuk bekerja di rumah. Maka muncullah istilah Work From Home(WFH), dan sampai hari ini tanda-tanda pencabutan berkumpul sinyalnya belum muncul. Sampai kapan pandemi ini akan berakhir, dan sampai kapan aktivitas normal tanpa dihantui kuman mikron ini hilang dari benak psikologis masyarakat.

Pertanyaa di atas jawabanya bukan hal yang mudah. Kepastian menjadi barang mahal ditengah mahalnya barang kebutuhan untuk puasa. Khusus sekolah, sampai kapan aktivitasnya kembali normal. Semua hanya meraba, dan yang dirabapun wujudnya tidak ada.

Ketika semua berbicara lock down, maka yang terbayang adanya pembatasan secara ketat berbagai macam aktifitas yang bersandar pada hajat hidup orang banyak. Tidak melulu berbicara ekonomi, tapi segudang aktifitas profesional terkena imbasnya. Kehidupan tidak normal menjadi momok menyeramkan ditengah ketidakberdayaan akal dan tenaga untuk menyelesaikan problematiknya.

Dunia Pendidikan sebagai produk sumber daya manusia (human resources) juga merasakan hal sama. Kegiatan belajar mengajar berubah tiga ratus enampuluh derajat, dari pembelajaran tatap muka (face to face) bermigrasi menjadi pembelajaran daring. Dengan segala keterbatasan, guru berusaha melakukan proses belajar online menggunakan berbagai macam aplikasi yang tersedia agar siswa tetap belajar. Aktiftas pendidikan tetap harus berjalan agar tidak terjadi lost generation yang menjadi bamper majunya peradaban.

Namun realitas tidak sesuai sesuai dengan harapan, pembelajaran daring selama masa pandemi ini terasa garing. Teknologi digital sebagai penopang utama dalam kegiatan ini distribusinya sangat heterogen. Ada sekelompok masyarakat yang sangat berlimpah dengan peralatan digital diikuti mudahnya mengkases imformasi karena sinyal internet juga melimpah, tapi pada waktu bersamaan banyak juga masyarakat yang sangat kesulitan peralatan digital dengan akses terbatas karena miskin sinyal internet. Hal demikian menjadi hambatan serius ditengah upaya kegiatan pembelajaran agar tidak terhenti. Upaya pemerataan pendidikan sebagai amanat dari Undang-undang Dasar semakin kelihatan warnanya.

Kupasan pembelajaran daring tidak merambah dunia perguruan tinggi, akan tetapi beberapa fakta nyata untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Garing pertama, dalam pembelajaran adalah banyak diantara para pendidik, khususnya pendidikan dasar dan menengah dalam pembelajaran daring hanya memberikan tugas pada siswa untuk membaca materi dan juga soal-soal dengan segudang pertanyaan yang harus diselesaikan. Kalau satu hari rata-rata ada tujuh mata pelajaran dan semuanya disuruh membaca materi dengan soal-soal yang harus dikerjakan maka dalam lima hari kerjaada tiga puluh lima set materi dan soal yang harus dikerjakan siswa. Bisa dibayangkan seperti apa beban psikologis siswa. Stress tinggi  pasti menjadi hantu baru dalam dunia pendidikan.

Garing kedua adalah minimnya inovasi dalam pembelajaran.Kurikulum 2013 dalam prosesnya  menitik beratkan pada pendekatan saintifik dengan model pembelajaran ala peneliti, berubah haluan menjadi metode drill (metode latihan) dengan berfokus pada penyelesaian soal-soal yang tingkatannya hanya pada mengetahui dan memahami saja, dimana kita tahu ranah itu adalah paling rendah tingkatannya menurut Taxonomy Bloom. Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan mengikut sertakan aktif peserta didik teramputasi, hasil belajar agar siswa dapat berfikir kritis, kreatif dan inovatif jauh panggang dari api.

Garing ketiga, pragmatisme dalam pembelajaran daring. Ada kemungkinan karena fasilitas yang dimiliki oleh guru dan siswa tidak memadai, banyak guru yang melakukan pembelajaran daring hanya gugur kewajiban, dalam pengertian yang penting bagi mereka melaksanaka pembelajaran, tapi efektifitas dan kemanfaatannya kurang memenuhi sarat dan kemungkinan banyak juga yang tidak melaksanakan kewajibannya. Dampak pembelajaran kurang memiliki nilai tambah bagi pengembangansiswa, sehingg sistem nilai, sikap, minat, kreativitas juga terabaikan.

Garing keempat, Implikasi aktivitas guru dalam mengajar. Pembelajaran daring tidak dilakukan oleh guru pada lingkup sekolah, tapi berlangsung di rumah. Komitmen dan partisipasi profesional  menjadi point utama agar pembelajaran daring memiliki nurturant effect.Agar Komitmen dan partisipasi professional memiliki akar yang  mengikat, maka laporan kegiatan menjadi progres untuk mengetahui tingkat kuantitas pekerjaan, indikator ketercapian, kendala yang dihadapi, dan tindak lanjut penyelesaiannya.

Pada bagian ini rupanya terjadi anomali. Ketidaksiapan merupakan penyakit pekerjaan yang sulit untuk  dicarikan vaksin atau obatnya. Maksud ketidaksiapan disini adalah membuat arsip pelaporan yang memenuhi kreteria, selalu menjadi kendala yang tak berujung sepertipandemi covid ini. Sejatinya setiap kegiatan yang dilakukan harus diarsip dengan baik. Arsip akan menjadi wadah agar jejak kegiatan mudah ditemukan kembali.Banyak para pendidik bingung dalam melaporkan kegiatan belajarnya, karena proses yang dilakukan tidak terarsip dengan baik. Kalau pun ada, akan selalu memunculkan kalimat satireyaitu  indah dalam laporan tapi minim dalam pelaksanaan.

Membangun Orientasi Baru

Kita harus akui bahwa pandemi covid menghadirkan budaya (culture) baru ditengah masyarakat khususnya dunia pendidikan. Dunia Pendidikan harus melakukan reorientasi baru agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung, dan secara kualitas tidak kalah dengan pembelajaran face to face. Orientasi baru tersebut antara lain; pertama, pembelajaran daring harus mengedukasi siswa dan guru.

Bagi siswa, pandemik covid merupakan arena dan tantangan baru, kemandirian pondasi utama dalam mengkonstruksi materi dari pengetahuan yang terdapat pada mata pelajaran.Nalar kritis, keterampilan yang memadai  lewat dunia virtualharus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.Gadget,Handpone dan Komputer dengan kuota internet yang cukup bukan hanya digunakan untuk bermain game atau untuk aktivitas media sosial, akan tetapi perlengkapan sarana utama dalam mengikuti pembelajaran daring.

Bagi guru belajar teknologi aplikasi yang sangat beragam sebuah keniscayaan.   Pandemi covid bukan halangan untuk menghadirkan pembelajaraan berkualitas meskipun berbasis online dan tidak memilih tempat dalam pelaksanannya. Guru juga membuat anggaran untuk membeli kuota internet atau pemasangan wifi baru.

Kedua, bagi pengambil kebijakankhususnya satuanpendidikan, kepala sekolah mencari formula baru dalam pembelajaran daring. Misalnya, bagaimana konstruksi kurikulum dalam pembagian jam mengajar  yang terkait dengan pembelajaran tidak lagi mengadopasi model tatap muka, akan tetapi penyajiannya khas pembelajaran daring tapi equivalent dengan belajar tatap muka. Bagian kesiswaan menyiapkan program kegiatan siswa yang tidak menyalahi protocol covid. Untuk sarana dan prasarana dan humas menyiapkan perangkat sarana pembelajaran yang memudahkan bagi guru melakukan pembelajaran daring. Kepala daerah melalui Dinas  Pendidikandan dinas teerkait menganggarkan pemerataan internet di desa. Tidak ada lagi disparitas desa yang kaya internet dan desa yang miskin internet.

Ketiga, bagi orang tua dan masyarakat, dengan pandemi covid mulai merubah pola hidup. Mendampingi anaknya dalam belajar adalah tugas utama. Aktivitas orang tua yang lebih banyak dirumah harus dioptimalkan dalam mendampingi dan memberikan pemahaman tambahan akan materi pelajaran yang diampu anaknya. Pendampingan sebelum pandemik mungkin dianggap kegiatan sekunder kini harus beralih menjadi kebutuhan primer. Tripusat Pendidikan (siswa, guru, orang tua) lebih menunjukkan perannya. Karena ketiganya harus bersinergi dalam upaya menguatkan hasil belajar melalui daring.

Masyarakat sebagai komunitas pendorong keberhasilan belajar juga harus menunjukkan peran lebih nyata. Migrasi pembelajaran regular menjadi pembelajaran daring harus menumbuhkan gerakan gotong royong, dompet pilantropis, berbagi skill, menumbuhkan empati antar sesama dan peduli sosial yang lain.

Dengan jujur harus kita akui bahwa kita  tidak siap. Tapi persoalan bukan pada siap atau tidak siap, karena pilihannya bukan seperti itu. Kita tetap menjalani kegiatan ini dengan segala keterbatasan yang ada. Tulisan ini saya akhiri, bahwa pandemik copid bukan musibah yang harus diratapi tapi berkah yang harus dinikmati. Salam

 

Penulis Ketua LPMI Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed