Gedung Baru Dewan Bangkalan, Sudah Salah dari Awal Perencanaan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) DIPASTIKAN: Rombongan Komisi C bersama Dinas PRKP dan Pihak Ketiga mengkroscek hasil pembangunan lanjutan gedung baru DPRD Bangkalan

KABARMADURA.ID, BANGKALAN– Akibat perencanaan pembangunan gedung baru Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang dinilai ada kesalahan teknis. Pembangunan lanjutan gedung itu akan berdampak. Dari hasil sidak yang dilakukan oleh Komisi C DPRD Bangkalan, Senin (21/12/2020), ada bagian pembangunan tahun 2020 yang mulai terlihat rusak.

Salah satunya yakni pemasangan sebagian paving pada pembangunan gedung dewan tahap II terlihat bergelombang. Padahal kegiatan fisik itu baru selesai tanggal 17 Desember lalu. Selain itu, pagar belakang gedung senilai Rp45 miliar itu juga terlihat miring.

Bacaan Lainnya

Wakil Ketua Komisi C DPRD Bangkalan Suyitno menyayangkan, pemasangan terkait paving tidak dipadatkan terlebih dahulu sebelum dipasang. Sehingga, belum ditempati dan dilewati oleh kendaraan, paving yang baru jadi tersebut sudah bergelombang.

“Berdasarkan keterangan dari pelaksana RAB-nya begitu, tidak ada pemadatan tanah terlebih dahulu. Pihak ketiga yang tahun ini hanya melanjutkan proses pembangunan sebelumnya yang sudah berdiri,” terangnya.

Selain itu, tanah tersebut juga sudah dikatakan satu tahun. Sehingga, tidak ada pemadatan lagi. Melihat hal itu, dia meminta, agar ada perbaikan sebelum masa pemeliharaan pada gedung lanjutan berakhir.

“Kami mewanti-wanti agar kesalahan kecil segera diperbaiki, agar tidak ada kesalahan seperti pembangunan sebelumnya,” katanya.

Dikatakannya, asa pemeliharan tersebut dengan tenggat waktu 6 bulan usai pembangunan tahap II itu selesai. Sedangkan, anggaran lanjutan pembangunan gedung megah tersebut sebesar Rp4,5 miliar.

“Pengerjaan paving ini berpotensi bergelombang itu yang baru, yang tahun ini,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi C Musawwir menambahkan, awal mula perencanaan pembangunan gedung dewan sudah salah. Sehingga, tentunya berefek pada pembangunan lanjutan. Padahal, dulunya pihaknya sudah mengingatkan bahwa perencanaan itu salah.

“Kontraktor ngotot katanya tidak apa-apa jika tidak membuang tanah basahnya. Ada pancang besar yang sudah tertanam di gedung utama,” tuturnya.

Fakta yang terjadi, bangunan yang tidak tekanan tiang pancang pecah dan turun. Apalagi sambungan yang dipakai hanya menggunakan paku. Dia meminta, agar ada evaluasi serius dengan kepada pihak dinas terkait perencanaan-perencanaan pembangunan gedung.

“Apa yang menjadi kekhawatiran saya terjadi sekarang,” pungkasnya. (ina/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *