Gelar Bedah Buku Menarik, UNIBA Aktif Sebar Ilmu Pengetahuan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) ISTIKAMAH: Uniba FM aktif menyebarkan ilmu pengetahuan dengan  bedah buku.

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Dalam rangka menyebarkan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat,  Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA) kembali menggelar bedah buku pada acara rutinan setiap Selasa (2/2/2021).

Acara yang dikemas dalam bentuk dialog interaktif itu, disiarkan di udara melalui frekuensi 107,5 Uniba FM dengan membedah buku karya John Gray yang berjudul ‘Men Are From Mars’ dan  ‘Women Are From Venus’.

Bacaan Lainnya

Izzuddin A Hakim selaku pembedah buku menjelaskan, buku ini sebenarnya mudah, banyak, dan sering ditemukan di toko-toko buku.  Buku ini mengajarkan tentang mengeksplorasi aspek perbedaan antara pria dan wanita.

“Saya baca buku ini pertama kali tahun 2009 dan udah diterjemahin ke Bahasa Indonesia. Buku ini sudah diterbitkan  sejak tahun 1991. Salah satu manfaatnya yaitu menjawab persoalan perbedaan pendapat, sehingga mereka yang tengah menjalani hubungan bisa memahami satu dengan yang lainnya,” katanya (2/2/2021).

Dosen pengampu Bahasa Inggris tersebut melanjutkan, ketika lelaki dan perempuan sama-sama menerima keadaan, maka dari situlah bisa tumbuh perasaan.

Dalam buku itu, sedikitnya ada 3 bab penting, di antaranya pertama, pemecah masalah dan panitia perbaikan rumah atau kerukunan dalam menjalani kehidupan. Dalam bab ini, penulis membagi kehidupan menjadi dua. Yakni kehidupan di Mars dan di Venus.

Kehidupan di Mars lebih tertarik dengan objek atau sesuatu daripada perasaan. Berhasil mencapai tujuan adalah sesuatu yang sangat penting bagi pria. Orang-orang Mars lebih senang melakukan segala sesuatunya sendiri, tanpa melibatkan orang lain.

Sedangkan kehidupan di Venus, lebih fokus pada perasaan cinta dan komunikasi. Mereka mendapatkan kepuasan bukan hanya  fokus pada tujuan, tapi karena bisa menyalurkan perasaan dengan berkomunikasi.

Para wanita bisa memiliki kemampuan untuk merasa atau peka akan kebutuhan orang lain. Misalnya, dalam memberi pertolongan bukanlah sebuah permasalahan.

“Keuntungan dalam bab ini, ketika wanita bercerita, jangan interupsi dengarkan saja dulu, namun ketika pria tiba-tiba diam, bukan berarti dia butuh pertolongan, tapi dia yakin bisa melakukannya sendiri,” lanjut pria lulusan Monash University Australia itu.

Kedua, kaum lelaki masuk goa dan kaum wanita berbicara. Pria biasanya jika memiliki masalah, sebisa mungkin dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan dirinya sendiri. Sampai masalah itu selesai, pria biasanya kurang memperhatikan wanitanya, karena sudah fokus menyelesaikan masalahnya.

Sedangkan jika wanita memiliki masalah, maka dia cerita. Kadang, sebenarnya dia bercerita bukan untuk mencari solusi, tapi hanya sekedar ingin bercerita, membagi perasaannya saja. Kadang ada kesalahpahaman, yakni, wanita  tidak hanya membicarakan masalahnya saja, tapi juga semua yang terkait dengan masalahnya. Intinya bab ini, dua orang dari Mars dan Venus harus bisa respect satu sama lain dan bisa memahami satu sama lainnya.

Ketiga, atau yang terakhir speaking with different language. Sebenarnya kata keduanya sama, hanya saja makna kata atau kalimatnya yang berbeda. Atau cara ekspresinya bermakna beda.

Bahasa Venus cenderung mengekspresikan perasaannya dan melakukan generalisasi. Masalahnya kemudian, orang Mars menganggap bahasa yang digunakan Venus secara lurus saja atau memahaminya begitu saja.

“Contoh ketika Venus mengatakan, “Kita gak pernah keluar bareng lagi ya”, bukan berarti sama sekali gak pernah keluar tapi mereka ingin keluar lagi. Bahasa Mars cenderung untuk mengekspresikan fakta sesuai keadaan, atau jarang untuk bicara sebelum akhirnya dia tau apa yang akan dibicarakan atau sudah dia pikirkan,” pungkas dosen yang aktif di kampus  dengan tagline Tera’ Ta’ Adhamar itu. (ara/km58)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *