Geliat Usaha Katering di Pamekasan Sambut MTQ Jatim XXIX

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) JAGA KUALITAS:  Owner Catering Olahan Nusantara, Immawati Elida, janji tidak akan membuat peserta MTQ Jatim XXIX kecewa dengan masakan warga Pamekasan.

KABARMADURA.ID | Berawal dari hobi membuat kuliner nusantara, masakan Lingling, begitu dia akrab disapa, banyak diminati masyarakat. Memiliki menu yang beragam, membuat pelanggannya terus kembali memesan masakannya. Adanya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Jawa Timur (Jatim) XXIX yang dilaksanakan di Pamekasan, jadi berkah untuknya.

KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN

Bacaan Lainnya

MTQ Jatim XXIX memang menargetkan peningkatan ekonomi masyarakat Pamekasan. Hal itu sudah mulai dirasakan wanita bernama lengkap Immawati Elida itu.

Owner Catering Olahan Nusantara itu sudah mendapat pesanan dua delegasi MTQ Jatim, yakni Bojonegoro dan Ngawi.

Wanita yang lahir di Pamekasan, 18 Februari 1993 ini tidak membuka gerai seperti rumah makan pada umumnya. Dia hanya mempromosikan usahanya melalui media sosial. Sepanjang hari, aktivitasnya lebih banyak di rumahnya di Jalan Stadion Gang IV Pamekasan.

Lingling  mengaku bersyukur dengan dijadikannya Pamekasan sebagai tuan rumah MTQ Jatim. Sebab, hal itu berdampak pada meningkatnya omset pengusaha katering seperti dirinya. Kafilah dari Bojonegoro dan Ngawi itu sudah mengkonfirmasi ingin disuplai konsumsi 3 kali sehari dalam kurun waktu selama 10 hari.

“Saya mempunyai kebanggaan tersendiri, karena dipercaya untuk memegang katering MTQ ini. Saya akan memberikan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Pamekasan kan jadi tuan rumah, ya sekiranya tidak bikin kecewa kabupaten lainnya,” paparnya, Senin (18/10/2021) saat dikunjungi Kabar Madura di kediamannya.

Sebelum mendirikan usaha katering olahan Nusantara. Lingling sering membuat masakan khas berbagai daerah. Hobi memasak yang dimulai tahun 2017 itu, akhirnya dikembangkan jadi usaha yang serius.

Di awal pendirian usahanya, Lingling mengakui banyak menghadapi tantangan. Sebab, dengan tidak membuka gerai khusus, dia hanya mengandalkan metode delivery order. Upayanya mempromosikan usahanya, dia memanfaatkan postingan di medsos pribadinya yang dibagi dari orang ke orang.

Namun dari situlah dia mendapat kemujuran. Lambat laun,  seiring berjalannya waktu, semakin bertambah peminat hasil masakannya.

Akhirnya, selain melayani delivery order, Lingling juga melayani pelanggannya yang datang langsung ke rumahnya. Kini, setelah dikalkulasi, omzetnya mencapai Rp5 juta sampai Rp6 juta setiap bulan.

“Saya berjualan dari rumah, tidak punya gerai sampai sekarang. Saya memang hobinya masak, jadi seperti hobi yang dibayar gitu,” ungkapnya.

Namun kini dia menghadapi tantangan baru, banyak orang lain yang meniru masakan seperti yang dibuatnya. Bagi Lingling, hal itu bukan alasan menyurutkan semangatnya dalam mengembangkan usaha. Dia meyakini, jatah rezekinya tidak akan jatuh ke orang lain.

Dari pengalamannya merintis usaha, Lingling jadi lihai menghadapi tantangan. Menurutnya, kiat menjadi sukses berwirausaha adalah tidak mudah menyerah dan pantang mengeluh. Kata dia, hal itu berarti, harus menjalani sebagaimana ikhtiar yang selama ini dijalankan.

“Pokoknya harus mempunyai ide yang inovatif, sebisa mungkin harus terus diadaptasikan dengan situasi dan kondisi, pokoknya jangan berhenti mempromosikan,” pesan dia mengenai kiatnya mempertahankan usahanya selama ini.

Harapannya, MTQ bisa memberikan efek yang baik kepada kemajuan Pamekasan. Sebab, semua sektor yang ada akan ikut terlibat dalam perhelatan tersebut, utamanya pada usaha kuliner.

 Redaktur: Wawan A. Husna

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *