oleh

Generasi Z dan Radikalisme Global

Oleh : Mahathir Muhammad Iqbal

Staf Pengajar Departemen Ilmu Pemerintahan UNIRA Malang

Sebagai sebuah implikasi dari kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, rupanya globalisasi menjadi sebuah keniscayaan. Marshall McLuhan, dalam bukunya yang berjudul Understanding Media: Extension of A Man, mengistilahkan fenomena ini dengan “global village”, yang dimaknai sebagai sebuah proses homogenisasi jagat sebagai akibat dari kesuksesan sistem komunikasi secara keseluruhan.

Kita bisa menyaksikan sekarang bagaimana orang bisa dengan mudahnya melakukan komunikasi jarak jauh. Melalui gawai atau komputer yang tersambung dengan internet, dunia seperti di genggaman. Kita bisa memperoleh informasi-informasi aktual yang terjadi di belahan penjuru dunia manapun dalam sekali “klik”. Itulah gambaran kehidupan saat ini, kehidupan yang serba mengglobal dalam berbagai aspek atau dimensi kehidupan manusia.

Lazimnya fenomena perubahan, kecanggihan teknologi informasi tidak hanya membawa watak positif dalam bentuk kemudahan-kemudahan dalam berkomunikasi. Tetapi juga membawa watak negatif. Terutama dalam hal penyebaran virus-virus ekstremisme dan radikalisme global.

Gabriel Weimanndalam“Terror on the Internet: The New Arena, The New Challenges”, seperti yang dikutip oleh sekretaris Aliansi Kebangsaan, Nofia Fitri,menemukan bahwa pada tahun 1998 di internet diperkirakan hanya terdapat 12 situs kelompok teroris. Namun, di 2003 mencapai angka 2.650 situs kelompok teroris, dan hingga 2014 sudah terdapat lebih dari 9.800 situs (Gabriel Weiman, 2016:30).

Setali tiga uang, pakar terorisme dan internet Maura Conway juga merilis sebuah penelitian yang dipublikasikan yang berjudulTerrorist “Use” of the Internet and Fighting Back”. Conway dalam temuannya mencatat bahwa terdapat lima hal yang paling signifikan dalam memahami bagaimana kelompok teroris memanfaatkan internet untuk tujuan-tujuan politik, yaitu Information provision (penyedia informasi), Financing (Pendanaan), Networking (Jejaring), Recruitment (rekruitmen), dan Information Gathering (mencariInformasi). Dengan demikian, internet tidak semata berperan sebagai media propaganda, melainkan lebih jauh lagi menjadi instrumenaksi dalam terorisme itu sendiri.

Lebih lanjut, RAND Institute menemukan bahwa internet koheren dengan aksi terorisme yang berangkat dari lima hipotesis penting, antara lain: pertama, internet menciptakan lebih banyak kesempatan bagi pengunanya untuk menjadi radikal; kedua, internet berfungsi sebagai “echo chamber” dimana individu dapat menemukan pendukung bagi ide-ide mereka dan dapat disebarkan keindividu lain yang memiliki ide yang sama; ketiga, internet dapat berakselerasi dengan proses radikalisasi; keempat, internet mewadahi proses radikalisasi tanpa perlu adanya kontakfisik, serta kelima, internet meningkatkan kesempatan untuk meradikalisasi diri sendiri atau“self-radicalization”. (https://www.kompasiana.com/nofia/5931db7f947a614d1ad98fe9/teroris-internet-dan-radikalisasi-online?page=all).

Yang mengkhawatirkan dalam konteks Indonesia adalah sebesar 87,4% dari generasi muda kita adalah penikmat dunia digital (media sosial) paling aktif di negara-negara Asia. (CSIS, 2017). Pada tahun 2016, The Wahid Foundation melakukan survei, dan ditemukan  bahwa siswa SMA sederajat yang tergabung dalam unit kerohanian Islam sebanyak 38 persen menggunakan Instagram setiap hari, dan 14 persen menggunakan Linkedin setiap hari dari 1.600 siswa yang disurvei di Jabotabek.

Survei yang dilakukan Alvara Research Center dan Mata Air Foundation menemukan fakta bahwa sebesar 23,4% mahasiswa setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah, dan sebesar 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Ini tentu akan menjadi ancaman serius bagi generasi penerus bangsa, mengingat Indonesia saat ini telah memasuki fenomena bonus demografi. Fenomena ketika Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan.

Generasi muda kita adalah generasi digital. Generasi yang tak gagap dalam mengoperasionalisasikan kecanggihan teknologi. Generasi muda kita adalah generasi media sosial. Generasi yang tak bisa berpisah dengan gawai, walau sekejap saja.

Apalagi jika kita menghubungkan dengan kondisi faktual bahwa Indonesia saat ini telah memasuki fenomena bonus demografi. Fenomenaketika Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan. Diperkirakan,jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) saat itu akan mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun kebawah dan usia di atas 65 tahun). (ANTARANEWS.com).

Pada bonus demografi ini, pergerakan dan peluang ekonomi masyarakat akan didominasi oleh usia produktif. Yang artinya pada 2020 sampai dengan 2030, Indonesia akan memiliki sumberdaya manusia yang usianya didominasi oleh usia produktif, yang dapat berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Fenomena ini bisa menjadi anugerah, atau sebaliknya, bisa juga menjadi bencana bagi bangsa kita, jika pemerintah tak mempersiapkan diri dalam mengantisipasi fenomena ini.

Maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus, meminjam istilah Fajar Riza Ul Haq, berikhtiar mempromosikan narasi-narasi alternatif yang mampu melumpuhkan propaganda kaum ekstremis dan reproduksi narasi kekerasan. Memakai bahasa Khaled Abou el-Fadl, narasi alternatif yang dimaksud harus bias merebut (kembali) narasi kata-kata kunci, sepertikilafah, negara Islam, jihad, dan hijrah dari dominasi narasi kaum ekstremis. Ketidak adilan politik dan ketimpangan kemakmuran yang terus melebar tak bias diabaikan karena inilah yang mengerek bendera kaum ekstremis seiring pengerasan narasi-narasi keagamaan maupun ideology politiknya.

Dalam konteks inilah, saran yang ditawarkan oleh Zuly Qodir menjadi relavan. Apa itu? Kita harus mampu memberikan penguatan pemahaman, fondasi keilmuan, dan literasi media social kepada generasi medsos sesuai dengan harapan mereka yang lihai dalam masalah urusan medsos. Ingat, generasi muda kita adalah pewaris sah bangsa ini. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah melakukan gerakan pemasyarakatan nilai-nilai inklusif dengan berlandaskan kepada nilai-nilai luhur yang merupakan pedoman hidup dan pedoman bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimulai dari lingkungan sendiri. Dan atas kesadaran diri.

 

 

Komentar

News Feed