Guntur Ariyadi Tidak Minder sebagai Anak Petani

  • Whatsapp
(FOTO: MADURA UNITED FOR KM) RESEP SUKSES: Gelandang Madura United Guntur Ariyadi tidak pernah patah semangat untuk mengejar impiannya.

KABARMADURA.ID – Gelandang Madura United Guntur Ariyadi memang sudah berusia 34 tahun. Namun, dia memiliki peran penting di tim berjuluk Laskar Sape Kerrab ini. Sebab, dia bisa menempati sejumlah posisi di lini pertahanan, seperti gelandang bertahan, fullback, dan stopper.

Bahkan, pemain yang identik dengan nomor punggung 2 ini sudah melanglang buana di persepakbolaan Indonesia. Selain Madura United, dia sudah memperkuat Persik Kediri, Barito Putera, dan sebagainya.

Bacaan Lainnya

Namun di balik kesuksesannya, tidak banyak yang tahu, Guntur merupakan anak dari seorang petani. Dia menceritakan, sebelum dirinya lahir pada 18 Maret 1987, ayahnya Ngatemmo sudah mengais rezeki dengan bertani. Itu berjalan hingga dirinya belajar di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Bahkan, gelandang yang murah senyum ini,  meniti karir sepakbola dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Genteng, di Banyuwangi tahun 2000. Biaya dari sekolah itu dari hasil kerja keras orang tuanya yang bertani.

“Dari pendidikan formal saya di sekolah hingga sekolah sepakbola, biaya itu dari hasil bertani orang tua saya. Jadi, tiada alasan untuk anak petani tidak bisa sukses. Yang penting tidak minder lah,” pesannya kepada Kabar Madura, Kamis (23/9/2021).

Di momentum Hari Tani Indonesia yang diperingati setiap tanggal 24 September, Guntur menyampaikan, dirinya bisa sukses lantaran tidak memandang pekerjaan orang tuanya yang sebagai petani. Namun, dia melihat kesungguhannya untuk memperjuangkan pendidikan anaknya.

Tak ayal, dia meminta untuk anak petani se-Indonesia tidak pernah patah semangat untuk mengejar mimpi-mimpinya. Sebab, dia beranggapan, peluang sukses dimiliki semua anak muda tanpa melihat latar belakang keluarganya.

“Semuanya punya kesempatan sukses yang sama. Bagaimana kalian memperjuangkan dan memanfaatkan dengan baik perjuangan orang tua kita,” tandasnya.

Reporter: Syahid Mujtahidy

Redaktur: Mohammad Khairul Umam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *