Guru dan Tantangan Masa Depan

  • Whatsapp

(Refleksi Hari Guru Nasional)

 Ainur Rahman, M.Pd. *)

Peran dan tanggung jawab guru masa mendatang akan makin kompleks. Seiring dengan kebutuhan manusia abad ke-21 termasuk persoalan mendasar mutu pendidikan dari sudut pandang keluaran (output) dikategorisasi ke dalam tiga bentuk kesenjangan: akademik, okupasional, dan kultural. Selain itu tantangan nyata guru di era digital saat ini yaitu aktivitas pendidikan menuntut guru untuk menciptakan kebaruan dalam pembelajaran yang tentunya sesuai dengan kebutuhan zaman. Sistem pembelajaran berbasis ICT based learning agakanya menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki oleh guru era sekarang dan masa depan, bahwa mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran menjadi suatu keharusan agar pendidikan menjadi tidak ketinggalan zaman.

Beberapa tantangan masa depan yang harus dimiliki oleh guru, salah satunya yaitu harus sanggup berkontribusi terhadap peningkatan mutu sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang bermutu dicirikan oleh kemampuan-kemampuan antara lain pertama, penguasaan suatu bidang keahlian yang berkaitan dengan iptek. Kedua,  bekerja profesional dengan orientasi mutu dan keunggulan. Ketiga, menghasilkan karya-karya unggul yang dapat bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian dan profesionalismenya. Oleh sebab itu tugas seorang guru tidaklah gampang, apalagi dengan pelbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi, seperti kesejahteraan guru, penguatan pendidikan profesi dan lain sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang berparadigma holistik, yang mengarah pada pembaruan dibidang pendidikan dan pengajaran diantaranya adalah performance based (teacher) meliputi penguasaan content knowledge, behavior skills, dan human relation skills.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Gaffar, (1987) bahwa Content knowledge merupakan penguasaan materi pengetahuan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Behavior skills merupakan keterampilan perilaku yang berkaitan dengan penguasaan didaktik metodologik yang bersifat pedagogik maupun andragogik. Human relation skills merupakan keterampilan untuk melakukan hubungan baik dengan unsur manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu dalam pendekatan ini pendidikan dapat diposisikan secara strategis. Artinya, pendidikan itu secara keseluruhan hendaknya dimaknai sebagai proses pembudayaan.

Guru masa depan harus menggeser paradigma lama kepada paradigma baru, salah satunya penguatan pemahaman bahwa learning is not just schooling, Bahwa hakikat dan tujuan dari pendidikan adalah memperluas kesempatan belajar masyarakat untuk hidup merdeka, mandiri, bertanggung jawab, sehat, dan produktif. Maka, untuk mencapai tujuan tersebut baik pendidik maupun peserta didik harus mengubah konsep belajar sesuai kondisi nyata saat ini. Sebagai implikasinya dalam pembelajaran ialah mendorong penuh partisipasi peserta didik untuk menemukan kreativitasnya sendiri dalam pembelajaran, yaitu dengan memberikan kebebasan peserta didik untuk menggunakan referensi pembelajaran yang sesuai. Oleh sebab itu, membagun cara pandang (growth mindset) peserta didik dalam pembelajaran yang demikian memang tidak mudah, perlu didukung pula oleh sikap dan respon positif guru terhadap perubahan zaman. Penerimaaan dan mampu beradaptasi (acceptance and adaptation) terhadap perubahan zaman juga menuntut perubahan sistem pengajaran dari pola lama ke pola baru yang lebih sesuai.

Guru masa depan ialah guru yang memiliki mindset yang adaptif, kolaboratif, kompetitif, inovatif dan berfikiran terbuka. Peran dan tanggung jawab guru masa depan tersebut mengimplikasikan agar profesionalisasi guru sebagai agen pembelajaran tidak hanya difokuskan kepada penguatan kemampuan teknikal yang terkait dengan pembelajaran, tetapi juga kemampuan daya saing yang unggul dan membangun jaringan (connection) untuk peningkatan mutu sumber daya manusia yang mengarah pada adaptif dalam menyikapi tantangan dan perubahan zaman. Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam memfungsikan kompetensi guru sebagai agen pembelajaran ialah praktik pedagogik produktif. Pedagogik produktif diberangkatkan dari pemikiran bahwa kebutuhan belajar peserta didik beragam yang mencakup perbedaan pola/gaya belajar, latar belakang budaya dan bahasa serta jenis kelamin, memerlukan strategi pedagogik yang tepat dan efektif terhadap peningkatan kinerja belajar peserta didik.

Terakhir, untuk mendukung nilai-nilai penguatan profil belajar pancasila dalam proses pembelajaran, nilai pancasila tidak sebatas pada konteks pengetahuan belaka, namun harus sampai pada bagaimana mengaplikasikan dalam kehidupan yang nyata. salah satunya adalah membagun keterampilan yang harus dimiliki seorang guru di era digital. Era digital membentuk masyarakat juga termasuk guru untuk kreatif dan berwawasan global. Sebagai bentuknya adalah terampil membuat media pembelajaran berbasis digital learning, misalnya memanfaatkan media game yang berbasis pembelajaran, terampil memanfaatkan media sosial dalam menyampaikan pesan-pesan pembelajaran. oleh karena itu, pemahaman mengenai hakikat belajar dan pembelajaran mencakup aspek-aspek metode ilmu dan produk ilmu. Maka aspek metode ilmu akan menentukan pilihan metode pembelajarannya, sedangkan aspek produk ilmu akan akan menentukan hasil dan kreativitasnya dalam menentukan penggunaan media pembelajarannya.

*) Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Madura

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *