oleh

Guru Ngaji Ikhlaskan Kediaman Jadi Rumah Tahfidz Qur’an

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Berawal dari kepedulian lelaki asal Arosbaya kepada anak-anak yang membutuhkan ilmu agama, Moh. Marsup merelakan lingkungan rumahnya untuk dijadikan rumah tahfidz al-Qur’an.

Berlokasi di Dusun Krampo, Desa Tengket, Kecamatan Arosbaya, tepatnya di utara SDN Tengket 1, Kabupaten Bangkalan, rumah tahfiz bernama Al Madany, setiap hari mengajarkan ilmu tahfidz pada 37 santri.

Di kediamannya, Marsup (sapaan akrabnya) membagi fokus pembelajaran tahfidz pada beberapa kelas. Pertama, santri yang fokus menghafal al-Qur’an Juz 30 dibagi menjadi dua waktu belajar.

Guru tidak tetap (GTT) di SMPN 1 Arosbaya ini menceritakan, awal berdiri rumah tahfidz al-Qur’an itu, ketika dirinya mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk fasih mengaji al-Qur’an.

“Sebelumnya yang mengajari anak-anak disini mengaji al-Qur’an itu almarhum bapak saya, kemudian saya dan saudara-saudara hanya meneruskan,” ujarnya, Kamis (20/8/2020).

Dari situ, dia tertarik mengembangkan musholla sederhana di rumahnya menjadi sekolah kecil bagi anak-anak yang ingin mendalami al-Qur’an. Kemudian, ayah dari dua anak ini mulai mencoba untuk mengisi program menghafal al-Qur’an mulai dari juz 30.

“Alhamdulillah, mereka (anak-anak, red) merespon baik,” katanya.

Karena saban hari anak-anak yang ingin belajar ilmu agama dan menghafal al-Qur’an semakin banyak. Akhirnya, Mashup meminta bantuan dari ustadz tugas dari Pasuruan yakni Ustadz Sulaiman dan Ustadzah Immatus Sholehah dari Sampang, agar membantunya mengajari anak-anak menghafal al-Qur’an.

“Jadi ketimbang anak-anak hanya bermain saja di rumah, saya ajak mereka untuk belajar bahasa arab. Belajar ilmu fiqih, Al Miftah serta ain lainnya bersama ustadz Sulaiman,” jelasnya.

Lambat laun lanjut Mashup, ada salah satu dari tetangganya yang memposting kegiatan menghafal al-Qur’an di tempatnya di media sosial. Alhasil, banyak orang tua dari kampung sebelahnya yang datang untuk memasrahkan anak mereka agar bisa ikut belajar manghafal al-Qur’an.

Meski banyak yang meminta untuk mengejar hafidz, awalnya dia sempat menolak dengan meminta para orang tua agar menunggu sampai wabah Covid-19 benar-benar usai. Tapi, karena cukup banyak yang bertanya dan mau bergabung, akhirnya dia mau tidak mau harus melayani keinginan masyarakat ini.

“Dari situ saya menambah bantuan ustadzah baru dari Sampang yakni Immatus Sholehah, agar ada yang membantu saya dari segi santri perempuannya,” terangnya.

Diungkapkannya, setiap hari, mulai dari waktu maghrib dia mengajari anak-anak ngaji al-Qur’an. Kemudian, setelah adzan subuh, baru waktu untuk menghafal Alquran juz 30 itu, hingga terbit fajar.

Sementara, pada waktu dhuhur setelah anak-anak pulang sholat dari masjid, dirinya memberikan pelajaran bahasa arab, ilmu fiqih, Al Miftah, tajwid dan lainnya.

Saat ini, dia mulai membagi anak-anak yang ingin belajar dengan sistem per-kelas. Hal tersebut dilakukan agar tetap bisa menerapkan protokol kesehatan. Untuk kelas A yaitu kelas yang sudah bisa membaca, ada 17 orang, dengan jam pelajaran dari pukul 8 hingga 10 pagi.

Sedangkan kelas B atau kelas pertengahan bisa baca tapi iqra ada 7 anak. Kemudian kelas C atau masih pemula ada 12 orang. Dimana kelas B dan C dimulai sejak pukul 10 pagi hingga 11.30 siang.

Masalah biaya, Mashup tidak pernah menerapkan tarif mahal seperti rumah tahfidz al-Qur’an lainnya. Dia mengaku hanya mengenakan biaya Rp50 ribu untuk uang pendaftaran bagi anak yang fokus belajar menghafal Al-Qur’an Juz 30.

“Selebihnya untuk setiap kali belajarnya hanya Rp5 ribu,” tuturnya.

Mashup menjelaskan, biaya itu digunakan untuk biaya operasional ustadz dan ustadzah, serta untuk tempat belajar santri. Dengan tarif murah itu, dia berharap, anak-anak setelah lulus sekolah dasar (SD) bisa fasih membaca dan menghafal al-Qur’an, minimal Juz 30.

Dengan terus bertambahnya anak didik yang semakin banyak itu, dia punya rencana untuk mengembangkan rumah tahfidz miliknya. Bahkan dia bercita-cita ingin menjadikannya rumah tahfidz Qur’an miliknya menjadi pesantren yang lengkap dengan asrama agar anak-anak bisa lebih fokus belajar.

“Hanya saja kami masih terkendala biaya untuk pembangunan. Ya mudah-mudahan ada donatur yang mau mendonasikan untuk pembangunan tempat belajar menghafal al-Qur’an ini,” tutup lelaki yang sudah mengajar sejak tahun 2005 itu. (ina/pin)

Komentar

News Feed