oleh

Guru Sembari Nguli, Totalitas Pengabdian Berdasar Wejengan Mbah Maimun

Kabarmadura.id/Sumenep-Guru honorer dengan gaji Rp850 ribu per semester, tidak dapatkan tunjangan sertifikasi,  tapi mampu bangun rumah dan bayar kredit bulanan motor, seakan sebuah mimpi. Namun, itu nyata.

Adalah Baidi, guru di salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) di Desa Karduluk  yang bisa  membuktikannya.  Sebab, Baidi memegang teguh wejengan dari  Alm. KH Maimun Zubair yang menyarankan akan guru harus mempunyai penghasilan guna mengupayakan totalitas pengabdian.

Menjadi guru bagi Baidi adalah pengabdian, bukan pekerjaan. Prinsip itu ternyata membuatnya merasa selalu mendapatkan kemudahan dalam setiap usaha yang dijalaninya.

Tapi, apakah pekerjaan lainnya yang menjadikan Baidi mampu membangun rumah, membayar kredit dan membiyai kebutuhan anaknya?

Pria yang sempat menjabat sebagai kepala MI tersebut, tidak segan untuk bekerja keras di bidang bangunan. Seringkali orang menyebutnya kuli bangunan. Tapi, bagi Baidi, itu bukanlah kuli bangunan, tetapi sarana ibadah agar dirinya bisa langgeng mengajar dengan niatan mengabdi.

“Dengan memiliki pekerjaan yang bisa mendapatkan upah, saya tidak merasa terbebani secara perasaan untuk selalu berharap bantuan dari pemerintah dengan status saya sebagai guru honorer,” ucap Baidi yang sorot matanya memancarkan keikhlasan.

Ya, Baidi memiliki banyak kemampuan lain selain bekerja bangunan. Baidi bisa menjadi teknisi antena parabola, tukang iris tembakau, dan pekerjaan yang sangat berat pun dengan menjadi kuli panggul tak segan dijalani Baidi. Tetapi, kesibukannya tersebut tidak mengurangi kesigapan Baidi untuk mempersiapkan materi ajar yang akan disampaikan pada anak didiknya.

“Menjadi seorang guru terlebih masih belum sertifikasi memang cukup menguras mental. Apalagi sudah berkeluarga, nilai keikhlasan semakin diuji dan kadang kita diuji dengan omongan keluarga,” ungkapnya.

Cerita menjadi guru diawali tahun 2003.  Waktu itu, tidak pernah berpikir tentang berapa besar upah yang akan didapatkan dari kegiatan mengajarnya. Dia tidak begitu memperhatikan pendapatan, karena tanggungan biaya hidup masih tidak terlalu besar.

“Angsuran yang pasti setiap bulannya Rp750, jajan anak dua itu, paling sedikit Rp25 ribu per hari, kebutuhan dapur tidak dihitung, pokoknya saya hampir dua jutaan pengeluaran setiap bulan,” imbuhnya.

Dengan keyakinan yang tidak tanggung-tanggung, kehidupan Baidi tampak normal dan kebutuhan tercukupi. Tahun ini dia mendapatkan sinyal akan mengikuti diklat selama tiga bulan, guna dikukuhkannya sebagai guru yang lucut dari seratus honorernya dan berganti sertifikasi.

Tetapi dia bingung menentukan pilihan itu, karena banyak pertimbangan untuk memenuhi panggilan itu, melihat banyak tanggungjawab yang harus ditinggalkan. Yaitu anak dan istrinya.

“Saya kadang pukul dua dini hari itu sudah berangkat untuk menurunkan pasir dari truk. Pokoknya segala pekerjaan yang menghasilkan pasti saya kerjakan. Nah sekarang ini saya bingung beberapa ujian sudah lulus tinggal penentuan, tapi waktunya  tiga bulan di sana (tempat diklat). Sementara saya punya hewan peliharaan,” tuturnya.

Tahun 2019 lalu, Baidi juga berhasil membangun rumah dari hasil menabung sisa memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. (ara/bri/waw)

Komentar

News Feed