oleh

Gus Dur, Buku, dan Politik Kebangsaan

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*

Beberapa hari lagi, kita akan kembali menggelar haul tokoh besar Republik Indonesia. Siapa lagi kalau bukan K.H. Abdurrahman Wahid, atau yang biasa disapa Gus Dur. Pada tanggal 30 Desember 2009, beliau meninggalkan kita semua. Kala itu, mendung duka menyelimuti langit Nusantara. Hening suasana batin masyarakat Indonesia, panutan yang dicintai telah pergi untuk selama-lamanya. Semesta pun seolah murung dan bersedih melepas kepergian sang tokoh. Bagaimana tidak, selama hidupnya, Gus Dur selalu menebarkan kebajikan dan kedamaian untuk semua orang. Beliau mencintai semua manusia tanpa melihat latar belakangnya. Kasih sayangnya ibarat samudera yang tak bertepi. Sungguh, seoarang guru bangsa yang patut ditiru perangainya.

Lantas, yang menjadi pertanyaan kita adalah hal apa saja yang membentuk karakter seorang Gus Dur? Baiklah, izinkan saya menjawab pertanyaan tersebut sepemahaman saya. Seorang tokoh, biasanya dibentuk oleh dua hal. Pertama, lingkungan pergaulannya; dan yang kedua adalah buku-buku yang dibacanya. Dalam catatan ini, saya mencoba sedikit menganalisis pengaruh buku terhadap pembentukan kepribadian Gus Dur. Bisa dikatakan, terbentuknya pola pikir dan luasnya wawasan Gus Dur, itu sangat dipengaruhi oleh beragam buku yang dia lahap. Banyak cerita yang mengungkapkan bahwa Gus Dur adalah pecandu buku kelas berat. Bahkan, sejak usia belia, beliau telah akrab dengan buku. Semisal, ketika remaja, dia sangat menggemari sastra picisan dan cerita silat Cina. Baginya, cerita Cina mengandung banyak sekali falsafah Cina, yang kelak membentuk wataknya sebagai seorang pemimpin. Saat remaja, dia juga sangat menyukai cerita-cerita berkaitan dengan Perang Dunia II yang mana sebagian kisahnya dibaca bersambung di berbagai surat kabar setempat, dan juga di majalah, dan buku-buku.

Greg Barton dalam bukunya yang berjudul Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, memaparkan bahwa ketika remaja, Gus Dur mulai secara serius memasuki dua macam dunia bacaaan: pikiran sosial Eropa dan novel-novel besar Inggris, Prancis, dan Rusia. Dia juga membaca tulisan ahli-ahli teori sosial Eropa yang terkemuka; kebanyakan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, walaupun tidak jarang juga dalam bahasa Prancis dan kadang-kadang dalam bahasa Belanda dan Jerman. Dia juga sering membaca apa saja yang diperolehnya. Kadang-kadang dia memperoleh bukunya dari perpustakaan ayahnya di Jakarta. Kisah lainnya juga diceritakan oleh Munawar Ahmad dalam Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis, bahwa ketika di Yogyakarta, Gus Dur bertemu dengan seorang guru bahasa Inggris bernama Rufi’ah. Selain mengajarkan bahasa, Rufi’ah juga memperkenalkan  Gus Dur dengan para pemikir modern Barat. Semisal, mahakarya Karl Marx, Das Kapital; novel-novel William Faulkner; filsafat Plato, Thalles; Little Red Book karya Mao Zedong; dan What Is To Be Done karangan Vladmir Lenin.

Bagi Gus Dur, membaca bukan sekadar untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu, membaca buku merupakan kebutuhan yang harus dipenuhinya. Tak heran jika kemudian hari dia menjelma menjadi “intelektual publik” yang namanya semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut bisa dibuktikan dari tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai koran, jurnal, majalah, dan semacamnya. Publik tidak hanya mengenalnya sebagai ulama atau kiai, namun juga sebagai pengamat politik, sosial, dan budaya yang tulisan-tulisannya bernas. Bahkan, tidak jarang Gus Dur mengkritik pemerintahan Orde Baru dengan gaya jenaka. Artinya, dia menyindir Soeharto dan kroni-kroninya melalui humor. Bahkan, bisa dikatakan, Gus Dur adalah “pendekar pena” yang mampu menyihir setiap pembacanya melalui gaya tulisannya yang menarik dan berbobot. Selain itu, masyarakat mengenalnya sebagai pembelajar otodidak, atau sebagai sosok yang selalu haus ilmu.

Selain di bidang literasi, hal yang bisa kita amati dari Gus Dur adalah keterlibatannya di dunia politik. Dalam catatan ini, saya tidak akan panjang lebar membahas perannya ketika menjadi insiator dan sekaligus penggerak Partai Kebangkitan Bangsa. Ringasnya, yang saya paparkan di sini adalah mengenai politik kebangsaan ala Gus Dur. Jauh, sebelum terjun ke dunia politik praktis. Gus Dur sudah terlibat dalam politik kebangsaan. Gus Dur telah terlibat aktif di gelanggang dunia politik dalam artian luas. Gus Dur memiliki caranya tersendiri dalam membangun bangsa dan negaranya melalui sepak terjangnya sebagai kolumnis, budayawan, dan sebagai seorang kiai. Bagi Gus Dur, parpol dan kekuasaan hanya sebatas cara untuk membangun bangsa dan negaranya. Dia adalah sosok pribadi yang tidak ambisius terhadap kekuasaan. Bagi dia, politik hanyalah sarana untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Baginya, politik hanyalah alat untuk menciptakan tatanan masyarakat yang lebih adil, makmur, dan sentosa.

Hal tersebut dibuktikan ketika Gus Dur dilengserkan secara sistemik ketika menjabat sebagai presiden. Ketika itu, sekitar ratusan ribu orang sudah siap perang membela Gus Dur. Namun, apa yang dilakukan Gus Dur? Ternyata dia legowo turun dari tahta, melambai di depan istana dengan pakaian yang sederhana. Dia meminta pendukungnya untuk pulang dengan tertib dan tidak menciptakan kekacauan. Bagi Gus Dur, jabatan sebagai seorang Presiden bukanlah segalanya. Dia justru lebih mementingkan persatuan dan keamanan nasional. Dia tidak ingin adanya perang saudara sesama anak bangsa. Lebih baik dia mundur, dibandingkan ada darah yang harus menetes. Sungguh, sikap seorang ksatria. Politik ala Gus Dur adalah politik kebangsaan. Dia sama sekali tidak terpengaruh jabatan apa pun. Baginya, kepentingan nusa dan bangsa tidak bisa ditukarkan dengan jabatan presiden yang sesaat.

Dari catatan di atas, kita bisa sedikit berkaca kepada Gus Dur. Berkaca untuk mengoreksi diri kita sendiri. Sejauh mana kita mencintai ilmu dan pengetahuan. Artinya, bagaimana kebiasaan membaca kita selama ini? Barangkali kita sudah lama tidak bersentuhan dengan buku. Entahlah, yang jelas dari kisah Gus Dur tersebut, besar harapan saya agar kita termotivasi menjadi generasi-generasi yang gemar membaca buku. Karena dengan membaca pikiran terasah, semakin tajam, dan wawasan pun kian bertambah. Melalui buku pula kita akan tumbuh menjadi pribadi yang semakin matang polo pikir dan kepribadiannya. Selain itu, Gus Dur juga mengajarkan kepada kita bagaimana mencintai bangsa dan negaranya melalui politik kebangsaan. Yakni, politik yang tidak hanya berbicara mengenai jabatan, namun juga kepentingan bangsa dan negara. Begitulah kira-kira sepercik kisah dari Gus Dur. Semoga kita bisa belajar dari beliau.

 

*) Penulis adalah pegiat literasi asal Desa Klampar, Pamekasan

 

 

 

Komentar

News Feed