oleh

Gus Rahman

Ribuan orang setiap hari menziarahi sebuah makam. Mereka datang dari berbagai daerah senusantara. Para peziarah tak pernah surut. Dari pagi, siang, sore, malam sampai pagi lagi mereka datang silih berganti. Mereka membaca istighatsah, tahlil, dan bacaan-bacaan lafaz suci lainnya yang pahalanya ditujukan pada sosok yang berada dalam makam itu. Sampai-sampai mereka yakin bahwa almarhum yang mereka ziarahi tidak akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir karena lokasi makam itu tak pernah sepi dari peziarah.

”Malaikat datang dan menanyai ahli kubur apabila orang-orang sudah pulang dan makam dalam keadaan sepi. Sementara makam beliau ini tidak pernah sepi dari peziarah. Semenjak dimakamkan di sini hingga sekarang, selalu saja ada orang yang ziarah ke makam ini,” kata salah satu dari mereka yang berkeyakinan bahwa malaikat tidak sempat datang dan menanyai ahli kubur tersebut.

Sebuah makam sederhana di tengah makam keluarga. Namun, orang tidak menyangka bahwa sosok yang berada dalam makam tersebut adalah sosok yang paling berpengaruh selama hidupnya. Sosok ini memunyai pengikut hampir di seluruh pelosok nusantara. Sosok yang terkenal jujur, pemberani dalam membela kebenaran dan pengayom bagi masyarakat luas. Beliau berasal dari keluarga priyayi. Ayah dan kakeknya merupakan tokoh nasional yang tersohor mumpuni dalam bidang agama dan politik. Juga dikenal sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

***

Orang-orang biasa menyebutnya Gus Rahman. Beliau dipanggil Gus karena berasal dari keluarga kiai. Semasa hidupnya beliau sosok yang berpengaruh di negeri ini. Seluruh penghuni negeri dari Sabang sampai Merauke mengenalnya sebagai sosok yang pemberani. Beliau tidak segan-segan menegur dan mengingatkan siapa saja yang bersalah. Termasuk para pejabat yang diniliainya tidak amanah. Beliau tidak takut menegur dan mengkiritik pejabat baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari keberaniannya ini tidak sedikit dari para pejabat yang terusik. Mereka tidak suka dengan prinsip perjuangannya yang selalu menegakkan kebenaran.

”Biasa saja. Mereka tidak suka karena mereka adalah orang-orang bermasalah,” tuturnya, ”namun, kalau mereka dibiarkan, bangsa ini akan hancur,” sambung Gus Rahman dengan gayanya yang santai.

Akibat dari prinsip perjuangan beliau inilah, banyak di antara mereka ada yang berniat menyingkirkan Gus Rahman. Mereka tidak ingin kedudukannya terusik. Mereka tidak mau niatnya yang hendak memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dihalang-halangi Gus Rahman. Mereka hendak membuat manuver untuk menyingkirkan Gus Rahman.

Para penjilat bangsa ini semakin gerah. Mereka bertambah was-was. Sosok yang akan disingkirkan itu sekarang menjadi orang nomor satu di negeri ini. Gus Rahman dipilih oleh anggota parlemen secara aklamasi sebagai presiden. Mereka yang tidak suka pada beliau semakin berang. Mereka kelabakan mencari perlindungan. Mereka takut boroknya terungkap lalu disingkirkan oleh beliau dari jabatannya.

Benar sekali. Baru satu bulan memimpin negeri ini, Gus Rahman langsung bersih-bersih. Beliau memecat orang-orang bermasalah dari jabatannya dan digantikan oleh orang-orang yang bersih, jujur, dan ikhlas dalam mengemban amanat masyarakat.

”Tidak. Dia tidak akan bisa menyingkirkan kita,” kata mereka dengan yakin.

”Bagaimana caranya?”

”Kita lengserkan dia. Kita buat opini untuk menggiring publik sampai masyarakat menganggap bahwa dia telah melanggar sumpah jabatannya sebagai presiden,” kata salah satu dari mereka.

”Efektifkah rencanamu itu?”

”Jelas efektif. Sasaran kita yang pertama adalah masyarakat umum. Setelah terjadi kegaduhan di masyarakat karena termakan oleh opini itu, baru kita menyasar ke anggota parlemen. Mereka kita yakinkan dengan data fiktif yang didukung dengan argumen-argumen kita sendiri sampai mereka yakin opini kita benar lalu mereka bertekad bulat melengserkannya dari kursi presiden.” Salah satu dari mereka menjelaskan dengan serius pada anggota komplotannya yang hendak melengserkan Gus Rahman dari presiden. Yan lain pun manggut-manggut. Mereka setuju dengan rencana itu.

Tak lama kemudian mereka bermanuver lewat media. Mereka membuat opini besar-besaran melalui rekanan medianya. Mereka menuduh Gus Rahman terlibat kasus buloggate dan bruneigate. Semua media mereka kuasai. Media-media itu memberitakan Gus Rahman telah menyalahgunakan jabatan dan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Mereka membawa dugaan itu ke ranah hukum. Mereka mengangkat kasus itu dalam sidang parelemen. Sehingga, masyarakat luas banyak yang termakan oleh isu melalui pemberitaan itu.

Orang-orang yang selama ini berseberangan faham dengan Gus Rahman memanfaatkan kesempatan ini untuk menggalang kekuatan. Mereka melakukan aksi demonstrasi di depan istana. Mereka menuntut agar Gus Rahman turun dari jabatannya sebagai presiden. Di pihak lain, orang-orang yang selama ini sebagai pendukung beliau melakukan aksi yang lebih besar. Mereka menyatakan kesetiaan pada Gus Rahman dan ingin memertahankan Gus Rahman sebagai presiden.

Kegaduhan yang terjadi di masyarakat ini digunakan dengan sebaik-baiknya oleh para penantang Gus Rahman. Mereka memperalat kondisi itu agar parlemen mengadakan sidang istimewa dengan licik. Tujuan mereka berhasil. Sidang istimewa digelar. Mereka meminta keterangan dan laporan pertanggungjawaban Gus Rahman terkait dua kasus yang sengaja dililitkan kepadanya. Mereka yang didukung oleh anggota parlemen dari partai gurem menguasai sidang. Mereka menolak laporan pertanggungjawaban Gus Rahman. Akhirnya, melalui sidang istimewa itulah mereka berhasil melengserkan Gus Rahman dan kursi orang nomor satu di negeri ini.

Para pendukung setia Gus Rahman tidak terima. Mereka tidak ikhlas Gus Rahman diperlakukan seperti itu oleh para anggota parlemen. Ratusan ribu pendukung setia Gus Rahman berkumpul di ibu kota. Mereka siap membela Gus Rahman sampai titik darah penghabisan. Mereka siap berperang jika Gus Rahman memerintahkannya. Mereka yang datang dari berbagai daerah di negeri ini sudah siap jiwa dan raga menjadi benteng pembela Gus Rahman.

Suasana di negeri ini semakin panas. Dua kubu yang pro dan kontra Gus Rahman sama-sama unjuk kekuatannya. Kubu pro-Gus Rahman yang jumlahnya lebih banyak sudah siap terjun ke medan perang. Mereka bersedia jiwa dan raganya untuk membabat habis para pemfitnah Gus Rahman dan pembuat skenario sidang istimewa yang berhasil melengserkannya dari kursi presiden.

”Gus, kami datang dan siap perang membelamu,” teriak para pendukung Gus Rahman.

”Gus, izinkan kami menyingkirkan para pemfitnahmu dari negeri ini,” seru mereka yang datang dari berbagai daerah senusantara ini di depan istana presiden.

Mereka terus berteriak-teriak memanggil-manggil Gus Rahman. Mereka tak sabar mendapat perintah perang dari Gus Rahman. Mereka ingin segera ditemui Gus Rahman lalu diperintahkan berperang melawan kebatilan yang digaung-gaungkan oleh para lawannya.

Dari dalam istana Gus Rahman muncul dengan didampingi para keluarga dan pengawalnya. Mereka menemui para pendukungnya yang datang dari berbagai daerah. Beliau melambaikan tangannya dengan senyum ramah penuh wibawa. Beliau menyapa para pendukungnya dengan wajah damai.

”Gus, perintahkan kami menghabisi mereka para penjilat negeri ini. Izinkan kami menyingkirkan mereka dari negeri ini,” teriak mereka lagi pada Gus Rahman yang sekarang sudah berdiri di depan mereka.

Gus Rahman berdiri dengan santun di depan pendukungnya. Beliau sangat mengerti perasaan para pendukungnya. Beliau sangat memahami keinginan pendukungnya yang ingin membela dirinya agar tetap bertahan di kursi presiden. Namun, beliau dengan dingin menyadarkan mereka agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah antarsesama anak bangsa hanya demi memertahakan jabatan dan kekuasaan.

”Saya sangat berterima kasih atas dukungan kalian. Saya mohon agar kalian bersedia kembali ke daerah masing-masing. Tak perlu ada peperangan sesama anak bangsa. Tak perlu ada darah yang tertumpah hanya untuk sebuah jabatan. Saya ikhlas turun dari jabatan ini. Allah Mahatahu. Suatu saat Allah akan menunjukkan kepada bangsa ini bahwa kebenaran akan selalu menang. Dan kita ini berada dalam pihak yang benar. Maka dari itu, saya mohon agar Saudara-Saudara bersedia membubarkan diri dan kembali ke daerah masing-masing,” pesan Gus Rahman yang disambut dengan tangis haru dari ratusan ribu pendukungnya.

Siang itu para pendukung Gus Rahman meninggalkan ibu kota dengan tenang dan damai. Mereka menerima pesan dari Gus Rahman dengan ikhlas. Tak ada setetes pun darah yang tertumpah di masa genting seperti itu. Tidak ada yang terluka meskipun hanya sekulit ari saja.

Bangsa ini terharu pada sifat kebangsawanan Gus Rahman. Bangsa ini sangat salut pada sifat ksatria Gus Rahman. Meskipun, tuduhan kasus itu tidak terbukti di pengadilan, beliau tetap ikhlas menerima keputusan sidang istimewa yang telah menurunkan beliau dari jabatan presiden. Beliau dan keluarga keluar dari istana presidan dengan logowo. Mereka meninggalkan tempat itu untuk kembali mengabdi pada bangsa dan agama sebagai orang biasa. Sebagai penduduk sipil yang berbaur bersama para warga dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, dan bahasa.

Pucuk, 28 Desember 2019

Ahmad Zaini merupakan ketua PC Lesbumi NU Babat dan guru di SMKN 1 Lamongan. Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online serta beberapa buku kumpulan cerpen. Karya terbarunya adalah kumpulan cerpen Tadarus Hujan. Saat ini tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur.

 

Komentar

News Feed