Hadir Jadi Pembeda, Komunitas Tanglok Art Forum Berkomitmen Kembangkan Seni di Kota Bahari

News43 views

KABARMADURA.ID | Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap seni. Tanglok Art Forum merupakan sebuah komunitas di Kabupaten Sampang yang memiliki pandangan tersendiri terhadap fungsi seni. Mereka memfungsikan seni sebagai instrumen untuk membaca realitas.

ALI WAFA, SAMPANG

Tanglok Art Forum merupakan wadah bagi para seniman. Di dalamnya terdapat para pecinta, pegiat serta pengamat seni. Mulai dari seni rupa, seni musik, hingga seni pertunjukan. Komunitas ini berdiri pada 2019 lalu dan eksis sampai sekarang.

Syamsul Arifin (28) adalah satu pegiat seni yang ikut berperan dalam proses pembentukan Tanglok Art Forum. Bersama beberapa rekannya, dia membentuk sebuah perkumpulan yang isinya adalah orang-orang yang memiliki perhatian lebih terhadap perkembangan seni.

Baca Juga:  Kuota Menyusut, Usulan Penerima RTLH 2024 di Pamekasan Tembus Seribu Lebih

“Karena saya lihat, perkembangan seni di Sampang ini tidak seperti di kota lain, seperti Sumenep, Pamekasan dan Bangkalan. Perlu ada yang mendorong agar seni berkembang di Sampang,” ujar pria asal Jalan Permata, Sampang itu, Minggu (5/2/2023).

Tanglok Art Forum hadir sebagai kelompok seniman yang memiliki ruang khusus di Kabupaten Sampang. Mereka menatap banyak realita dengan seni. Realitas sosial dan politik menjadi salah satu objek tatapan yang kerap dipertajam. Karena kritik dengan seni, adalah seni itu sendiri.

“Bagi kami, seni itu alat baca. Metode membaca kenyataan. Bagaimana seni menatap realitas politik. Bagaimana seni merespon masalah lingkungan dan kemanusiaan,” sambung Syamsul.

Karena itu, di komunitas ini, seni lebih dari sekadar karya. Tetapi, seni adalah produk ilmu pengetahuan yang di dalamnya ada gagasan dan diskursus. Salah satu bentuknya dilakukan dengan pameran seni lukis dan pertunjukan teater. Di dalamnya memuat pesan moral dan kritik sosial.

Baca Juga:  Komitmen Sumbangkan Prestasi, Cabor POBSI Sumenep Godok 8 Klub

Pameran dan pertunjukan itu pernah dilakukannya pada 2022 lalu. Kegiatan mereka didukung oleh salah satu institusi seni dan kebudayaan di Yogyakarta, yakni Cemeti Institut. Dalam hal pendanaan, mereka juga dibantu oleh institusi seni dari Amsterdam, Belanda.

“Jadi ketika teman-teman bergerak di wilayah Sampang, posisi saya di forum ini keluar untuk berjejaring. Selain untuk mencari funding, juga untuk menangkap pengetahuan yang berkembang di luar,” tutup pria tamatan SMP itu.

Redaktur: Moh. Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *