oleh

Haji Ubed, Jabat Kepala Desa tapi Berwatak Aktivis Rakyat

KABARMADURA.ID, Sumenep – Nama lahirnya Abdul Hayat, tetapi warga sekitar memanggilnya Haji Ubed. Pria kelahiran 21 April 1969 tersebut, saat ini masih dipercaya sebagai kepala Desa Pinggir Papas untuk periode ke-3.  Sosoknya selama ini dikenal sebagai pejuang dan tentunya juga dijuluki sebagai penggerak.

Mayoritas warganya yang memiliki mata pencaharian sebagai petani garam, adalah ihwal kegigihan Haji Ubed terpanggil untuk mengadvokasi warga  di lingkungan hidupnya.

Sejatinya, Haji Ubed pada awalnya adalah guru ngaji di langgar yang ada di rumahnya. Selain mendidik anak-anak ngaji, gerakan advokasi yang dilakukannya untuk petani garam menjadikan warga menaruh harapan besar di pundaknya dengan memberikan kepercayaan sebagai kepala desa.

“Saya super sibuk. Walaupun menjabat sebagai kepala desa masih sempat terus berusaha bersosial diluar Desa Pinggir Papas,” katanya, Kamis (15/10/2020).

Selain ngemong warganya, Haji Ubed juga aktif menggerakkan warga binaannya sebanyak 25 orang. Mereka saat ini diajari pengetahuan mengenai cara bertani tembakau termasuk garam.

“Semuanya digerakkan mulai tahun 2016 lalu,” tukasnya.

Dia menjelaskan, ada beberapa trik untuk menjadi orang yang bisa memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Yakni, selalu berprasangka baik, mudah berteman kepada siapapun.

“Terpenting, selalu berbuat baik kepada sesama,” ujarnya.

Pada tahun 2015, dia pernah menggerakkan ratusan massa untuk memperjuangkan hak rakyat melakukan demonstrasi di kantor pemkab mengenai garam, tembakau dan nelayan.

“Saya memang gelisah disaat rakyat tertindas,” tegasnya.

Dirinya mudah percaya kepada orang lain. Sehingga, terkadang menjadi korban penipuan. Meski demikian, Abdul Hayat selalu menanamkan optimisme bahwa ada hikmah dibalik itu.

“Selalu berprasangka baik meski pernah ketipu pasti ada berkah,” ujarnya.

Dari sisi pendidikan, juga dijalankan meski tidak sampai lulus di perguruan tinggi, karena dari dulu hobinya selalu mencari taman dan pandai menggerakkan organisasi kemasyarakatan, seperti Aliansi Masyarakat Garam (AMG).

“Meski tidak lulus kuliah, tetapi sosial tinggi. Pasti diperhitungkan oleh masyarakat,” pungkasnya.(imd/bri/waw)

Komentar

News Feed