Hak Hidup Seorang Warga Negara 

Opini88 views

Oleh Muakhor Zakaria *

Dalam Islam, hak hidup manusia (haqqul hayat) atau perlindungan jiwa merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Menduduki hak prioritas yang harus diutamakan, lalu menyusul setelahnya hak hidup beragama atau membela saudara seiman dan seagama. Setiap “ruh” yang ditiupkan dalam jiwa manusia pada hakikatnya adalah “ruh Tuhan” yang suci dan agung. Dalam Alquran dinyatakan, ketika wujud manusia telah membentuk di dalam kandungan maka dihidupkanlah janin itu dengan “ruh Tuhan”, hingga kamu harus tunduk dan menghormatinya. (al-Hijr: 29).

Itulah esensi yang dinarasaikan novel Pikiran Orang Indonesia, bahwa ruh setiap manusia tanpa kecuali, sangat berharga di mata Allah. Kematian seorang pejuang kebenaran dan keadilan seperti Munir, bukan semata-mata kematian jasad dan karakternya, melainkan ada ruh Tuhan yang “terbunuh” dalam dirinya. Seorang Marsinah, Udin Sjafrudin maupun Wiji Thukul, tentu bukan hanya memiliki dimensi insaniyah (kemanusian) tetapi juga dimensi ilahiyah dalam diri mereka.

Novel tersebut mengguratkan garis pemisah antara baik dan buruk, juga benar dan salah. Ia menyiratkan pesan sentral yang diamanatkan semua agama-agama samawi, bahwa setiap penguasa tak boleh berlaku sewenang-wenang, bahkan meremehkan satu jiwa manusia sekalpiun. Ketika kita berpulang, bukanlah jasad kita yang kembali melainkan ruh dalam diri kita.

Dalam konsep Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa pelanggaran terhadap satu hak asasi manusia, sama nilainya dengan pelanggaran terhadap hak semua manusia. Untuk itu, dalam suatu wawancara, ketika seorang aparat menjawab pertanyaan wartawan dengan kata-kata: “Korbannya kan cuma satu orang?” Berarti oknum aparat tersebut tidak beradab di mata Tuhan maupun manusia. Sebab, satu korban pelanggaran HAM sama saja dengan ratusan, ribuan dan jutaan korban. Hak hidup adalah “hak” yang paling dasar yang tidak boleh dikurangi dalam keadaan apapun.

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan dan membaca ribuan esai dan prosa, hingga mural-mural menggambarkan sosok Munir sebagai sang pahlawan dan pembela hak-hak asasi manusia Indonesia. Penegakan HAM yang diperjuangkannya sarat dengan kesantunan seorang religius yang konsisten pada garis-garis besar ajaran Islam. Hal ini paralel dengan ungkapan Paulo Freire, bahwa proses pembebasan dari penindasan, harus dilandasi dengan cara-cara yang bersih dari sifat-sifat yang tak terpuji.

Baca Juga:  Belajar Tatak dari Mbah Mahfud MD

Kelakuan Orde Baru yang kebablasan, dengan sibuk menumpuk pundi-pundi dan persaingan kekuasaan di kalangan elit militer, berujung pada perilaku menghalalkan segala cara. Perjuangan Munir berada dalam posisi, ketika negara sudah diambil alih oleh kekuasaan yang tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban dan martabat kemanusiaan.

Pembunuhan terhadap Munir dengan sendirinya dimaksudkan untuk menghentikan kiprah luhur dari seorang putra utama bangsa ini, buat melestarikan penerusan kepentingan dan kemaslahatan umat. Hal tersebut jelas merupakan pengingkaran terbuka dan serangan langsung terhadap prinsip negara hukum. Pembunuhan keji itu saling berkelindan dengan penelantaran penyelesaian atas kasusnya, sebagai sikap arogansi kekuasaan yang terang-terangan ingin mengembalikan bangsa kita ke alam penjajahan.

Kita semua tahu, bahwa Munir adalah seorang anak yatim yang sejak kelas lima SD telah ditinggal mati ayahnya. Interpretasi hubungan manusia yang dimilikinya, serta karakteristiknya yang terbuka, tak lepas dari jiwa seorang pedagang dan saudagar. Dalam asuhan ibunya sebagai pedagang, Munir kecil sering bermain dan bercengkerama dengan teman-temannya di lingkungan pasar. Ibunya mengajarkannya agar berjiwa sosialis, gemar menolong, bahkan senang menjamu puluhan teman sekampung untuk menonton reve pada hari Minggu di rumahnya. Sebagai pria berdarah campuran antara Jawa dan Arab, Munir juga bersahabat dengan teman-temannya yang dari Cina, Jawa maupun Betawi.

Demikian halnya dengan tokoh utama novel Pikiran Orang Indonesia (Aris), orang tuanya mengajarkannya pada prinsip hidup dan memperkenalkan hidup (to live and let live). Dalam ajaran Islam, bersatu-padunya sosok Munir dengan budaya pasar meniscayakan dirinya bersahabat dengan kejujuran dan keadilan. Prinsip menegakkan “timbangan” erat kaitannya dengan konsep takwa dan adil yang menyatu dalam diri Munir. Kekuatan tauhid pada dirinya, sebagaimana keteladanan iman Nabi Ibrahim, Isa dan Muhammad, akan dianggap batu sandungan oleh sistem kekuasaan korup dan totaliter, yang selalu memanfaatkan kesewenangan sebagai motor penggeraknya.

Baca Juga:  Ibnu Athaillah, Sang Ahli Hikmah

Pada prinsipnya, ketika kita memperjuangkan keadilan, selalu akan muncul pihak-pihak yang bersikeras menghambatnya. Hal itu didorong oleh bisikan hawa nafsu karena rasa iri hati, benci, dendam dan egois. Meski demikian, orang yang melakukan kebenaran hendaknya tetap melakukannya dengan konsisten, walaupun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan.

Dalam novel Pikiran Orang Indonesia, sosok Aris selalu dihambat oleh kekuatan-kekuatan jahat, tetapi Tuhan niscaya melindunginya. Karena, ia selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, hingga Tuhan berkenan menolongnya dalam kesukaran.

Nabi Muhammad mengajak sahabatnya di tempat persembunyian (Goa Tsur) agar jangan takut terhadap musuh-musuh. Ini pun pernah diperingatkan Nabi Isa kepada Yeremia yang selalu percaya pada penyelenggaraan ilahi. Sikap dan perilaku yang selalu mengandalkan Tuhan membawa orang beriman kepada keselamatan walaupun menghadapi tantangan bertubi-tubi. Dengan demikian, orang yang percaya akan kasih karunia Allah, selalu akan menemukan jalan keluar atas segala problem yang dihadapinya.

Membaca novel Pikiran Orang Indonesia pada waktu sepertiga malam, Insya Allah mengantarkan kita pada keyakinan akan pemeliharaan Tuhan dan penyelenggaraan ilahi. Karena, dalam buku sastra itu telah nyata ditorehkan antara garis kebaikan dan kebatilan, garis kelembutan hati dan angkara murka. Senantiasa kita harus mengandalkan Tuhan dalam perjuangan hidup. Sebab bagaimanapun, jika Yang Maha Kuat membawa kita pada kemenangan, lalu kekuatan apa lagi yang dapat menghalau dan menghentikannya?

Pelajaran dan hikmah berharga dari novel Pikiran Orang Indonesia, khususnya pada perjuangan Munir, Marsinah, Wiji Thukul hingga wartawan Udin Sjafrudin, telah mengajak kita semua agar beradab di mata Tuhan. Biarlah kekuatan jahat itu membenci dan merongrong perjuangannya, tetapi nama besar mereka tetap abadi dalam catatan sejarah. Jika Tuhan sudah mencintai dan memuliakan hamba-hambaNya, maka kekuatan mana lagi yang akan coba-coba menghapus dan menenggelamkan nama besar mereka dari percaturan sejarah? (*)

*Dosen perguruan tinggi La Tansa Mashiro, Rangkasbitung, Lebak, Banten, menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, cetak dan online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *