oleh

Hal Sederhana yang Tidak Sederhana

Belajar menghargai itu susah. Membutuhkan pertimbangan lama untuk hanya sekedar menurunkan ego. Dan menurunkan ego adalah hal terberat di dalam hidup ini.

Saya tidak ingin memulai dengan hal-hal berat seperti yang diajarkan Filsafat Moral di bangku kuliah semester baru. Tidak! Saya ingin memulai dengan bercerita hal-hal yang sederhana. Seperti di jalan raya, fasilitas toilet umum atau saat mengantri cucian mobil.

Ia benar, di jalan raya kota saya, memang unik. Katakanlah rambu lalu lintasnya. Hampir setiap saya berhenti saat lampu merah, sebelum lampu itu berubah hijau, pengendara-pengendara di sekitar saya berlomba-lomba membunyikan klaksonnya, tanda yang paling depan harus melajukan kendaraannya dalam posisi lima detik sebelum hijau. Ingat, belum hijau ya! Sudah pada histeris.

Akhirnya, kengototan itu membuat pengendara yang paling depan, mau tidak mau, suka atau tidak, mengegas motor atau mobilnya pelan-pelan “demi” berhentinya bunyi klakson itu. Terlalu. Kadang jika saya bersama teman saya di belakang ia bilang dalam bahasa Madura, “apah mik tak mangkat berik pein”. Belum lagi jika terlihat sepi. Lampu merah pun diterobos. Tanpa harus ragu, sekecil apapun.

Ya begitulah kita, di kota dengan pengendara-pengendaranya. Sehingga hal itu menjadi lumrah. Mau guru, bapak polisi, ibu-ibu pun, bahkan apalagi anak mudanya, menerima tanda itu sebagai suatu kebiasaan. Yang diterima dan menjadi wajar, menjadi kaprah. Salah kaprah!

Hal lain yang pernah saya alami, yaitu kejadian di toilet umum. Tempat dimana Anda bisa menggunakan fasilitas itu untuk siapapun. Ya, berbahagialah dengan adanya fasilitas umum, meskipun ada yang bayar dan ada yang gratis. Suatu hari dimana perut saya mengamuk entah lantaran apa saya tidak tahu, padahal yang saya ingat asupan gizi di hari itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran anak kos. Di dalam perut yang rusuh.

Waktu itu, saya sengaja pergi ke SPBU bukan untuk mengisi bensin tetapi untuk berhajat besar. Ya, ada fasilitas toilet umum, dan gratis. Tiga toilet di atas dan dua di bawah, sangat-sangat membantu siapapun yang ingin cuci muka, ambil wudhu, kencing termasuk hajat sekalipun.

Singkat penjelasan, di tempat umum itu, di saat hajat telah berada di ujung tanduk, ujung anus (maaf bukan jorok), saya masuk ke salah satu di antara toilet itu, dan dikejutkan karena ada seonggok pup manusia segede roda skuter yang sudah lama, warnanya secoklat besi dan dikerumuni lalat. Itu menyedihkan dan memancing amarah seorang di dalam kondisi seperti saya waktu itu. Hingga, entah mengapa, mules itu menghilang akibat kegondokan itu. Dan menjadi tidak ingin buang hajat, berganti ingin muntah saja. Jika di dalam operasi komputer, ada yang sengaja menekan cancel ketika sudah mencapai hampir 100 persen karena ada virus.

Lihat saja pengalaman sederhana itu. Dan barangkali Anda pernah mengalami hal perdana yang saya alami barusan. Menjadi seorang yang tidak dihargai memang lebih sakit dari kalah main gaple. Dan sangat pasti, bahwa sebelum hal-hal berat, menghargai hal-hal sederhana di depan mata, sulit sekali.

Bukan bermaksud untuk bercerita yang aneh-aneh. Saya hanya ingin menunjukkan hal yang sewajarnya, bahwa fasilitas umum, tempat yang bukan untuk dirinya sendiri, ia tentu harus dijaga dan tetap dibuat orang nyaman menggunakannya. Apapun itu, tempat sampah, berjualan di pinggir jalan, trotoar untuk pejalan kaki, tisu di restaurant, termasuk toilet umum. Kecuali toilet itu memang dibuat untuk dirinya sendiri, orang tidak berhak menggunakannya, ya terserah! Mau ditumpuk sampai mengeras dan berwarna hitam, dijejer satu-satu seperti permainan susun genting. Ya terserah.

Sejatinya sesuatu yang besar tidak diukur seberapa tinggi nilai ilmu seseorang. Seorang hanya butuh respek. Stephen Hawking pernah berkata, “Andaikan harapan seseorang diturunkan hingga titik nol, orang akan benar-benar menghargai semua yang dia miliki saat ini.” Harapan tulisan ini, semoga orang yang pup menyiram setelahnya, dan tidak ada bunyi-bunyian di pertengahan lampu merah dan hijau.

Wassalam.

Senin, 31 Agustus 2020

Faiq Mohammad

Komentar

News Feed