oleh

Hanya 300 Pendaftar e-Book Perpusda Sumenep

Kabarmadura.id/Sumenep-Selain membuka layanan langsung berupa peminjaman buku secara manual, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Perpusda) Sumenep juga melayani e-book. Sayangnya, pelaksanaannya tidak terlalu maksimal dan kurang efektif.

Kepala Perpusda Sumenep H. Ahmad Masuni menyatakan, terhitung sejak tanggal 26 Maret, layanan kunjungan untuk membaca dan meminjam buku sudah ditutup, meskipun para karyawan tetap beraktivitas seperti biasa. Kini dibuka kembali dengan sistem layanan e-book, tapi tidak ada peningkatan terhadap pembaca.

“Tidak terlalu banyak, mungkin karena pandemi ini. Aktivitas masyarakat tidak terlalu normal, mungkin tidak punya data internet atau buku bacaan lain,” katanya.

Masuni menambahkan, salah satu kendala yang menjadi penyebabnya adalah koleksi e-book di perpusda kurang lengkap. Bahkan, belum dilakukan pembaharuan. Terdapat sekitar 3.600 e-book yang disediakan. Sementara yang tercatat sebagai peserta kurang lebih 300 pendaftar.

Hal itu terbukti dari tahun 2018, sejak layanan e-book itu didirikan sampai tahun 2020, hanya ada 3.936 orang yang mengunjunginya. Pihaknya mengakui meskipun layanan manual ditutup, ternyata tidak berpengaruh terhadap jumlah pengunjungnya.

“Per hari itu hanya sekitar 35 sampai 40 pengunjung setiap hari. Jumlah yang beberapa ribu tadi itu sudah terhitung dari akumulasi sejak layanan online didirikan. Memang tidak ada target,” imbuhnya.

Kendati seperti itu, pihaknya tetap berharap masyarakat lebih kreatif dalam memanfaatkan jejaring media sosial. Artinya, meskipun tidak berkunjung ke layanan Perpusda Sumenep, juga bisa memaksimalkan layanan positif yang lain.

“Sementara kami sendiri nantinya akan mengajukan pengembangan-pengembangan. termasuk e-book tadi,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi lV DPRD Sumenep Samiuddin mengakui bahwa setelah meninjau kantor perpustakaan ternyata banyak kekurangan, mulai dari sarana dan kelengkapan buku,baik  e-book maupun buku cetak.Termasuk variasi metode pendekatan terhadap masyarakat, harus lebih kreatif, misalnya melibatkan pemuda lokal untuk pengembangan, terutama yang memang mempunyai potensi.

“Kedepannya, termasuk anggaraan akan diupayakan lebih maksimal. Banyak kekurangan, termasuk arsip sejarah Sumenep sendiri tidak ada di sana, malah yang menyimpan sejarah Sumenep adalah Belanda,” paparnya.(ara/nam)

 

Komentar

News Feed