Hanya Bermodal Rp10 Ribu, Pengusaha Madura Ini Kini Miliki 12 Bus

Uncategorized16 Dilihat

Suara Mukti Ali terdengar bergetar saat mengisahkan perjalanan hidupnya. Sembari berkaca-kaca, pria kelahiran 5 Oktober 1977 itu tanpa ragu bertutur betapa kesuksesannya saat ini dimulai dari langkah nol.

 

HAIRUL ANAM, PAMEKASAN

 

Ya, Mukti Ali adalah owner PT. Mandala Wisata Rangga Jaya. Dia pengusaha travel tersukses di Pulau Madura, tidak ada yang mampu menyainginya. Kini dirinya memiliki 12 bus. Tiap hari, bus-bus tersebut dimanfaatkan untuk jasa travel masyarakat yang tersebar di empat kabupaten di Madura; Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

 

“Semula hanya masyarakat Pamekasan yang menjadi pelanggan saya. Setelah itu, menyebar ke luar Pamekasan. Bahkan, kini bisa tembus ke luar Madura,” ungkap alumnus Pascasarjana Universitas Kanjuruhan Malang itu saat ditemui di Hotel Odaita, Sabtu (27/8/2022).

 

Dikelilingi para wartawan, guru SMAN 1 Pamekasan itu menghadirkan pengakuan yang cukup mengejutkan. Hal tersebut tidak terlepas dari kesuksesan serta kekayaannya saat ini yang modalnya hanya Rp10 ribu.

 

“Kala itu sedang krisis moneter. Saya baru menyelesaikan kuliah strata satu. Saya hanya pegang uang Rp10 ribu. Dari uang inilah kemudian saya mengunjungi warnet untuk membuat brosur guna mempromosikan travel,” ungkapnya.

 

Pria yang juga owner PO. Mandala Putra itu sesaat sebelum terjun ke dunia travel berpikir berkenaan dengan kondisi keluarganya; ayahnya petani dan ibunya buta huruf. Sebagai sarjana pendidikan, dirinya menyadari bahwa menjadi guru honorer tidak begitu menjanjikan; hanya dihonor Rp30 ribu tiap bulan.

 

“Saya akhirnya bertekad untuk tidak menjadi guru honorer, melainkan menekuni dunia usaha. Modal Rp10 ribu, saya menyewa warung internet (warnet). Tiga jam membuat brosur. Isinya berkaitan dengan taksasi anggaran pulang pergi Madura ke Bali,” urainya.

Baca Juga :  Lima Tahun Buat e-KTP Tak Jadi-Jadi, Dispendukcapil Sumenep Akui Ada Oknum yang Bermain

 

Hasil cetakan brosur disebar secara door to door. Mukti Ali terjun sendiri memakai sepeda motor. Sebelum menyebar brosur, jebolan Universitas Negeri Malang ini menguatkan koneksi jaringan yang sudah dimilikinya saat kuliah.

 

“Saya punya jejaring penyewaan kendaraan di Malang. Dari sinilah tekad saya kuat untuk langsung membuat brosur travel bermodalkan Rp10 ribu,” bebernya.

 

Tekad tersebut makin membara seiring dengan kenyataan di Pamekasan maupun Madura secara umum, tidak ada travel. Dirinya menangkap potensi di Madura perlu adanya travel besar. Mukti Ali hadir memanfaatkan potensi tersebut.

 

Penyebaran brosur secara tatap muka dimulai Mukti Ali dari jaringan terdekat. Setelah 2004 diamanahi sebagai guru pembantu di SMAN 1 Pamekasan, Mukti Ali menyebarkan brosur kepada murid-muridnya.

 

“Kadang kita abai terhadap jejaring terdekat. Meski kecil, jangan pernah menyepelekan jejaring. Seperti siswa. Mereka sejatinya jejaring luas. Sebab, ketika pulang, brosur tersebut bisa dibaca oleh sanak familinya,” ungkap Mukti Ali membocorkan salah satu kunci kesuksesannya.

 

Pada 2006, Mukti Ali mendapatkan proyek yang terbilang paling besar setelah bertahun-tahun dirinya menekuni jasa travel. Dia mendapatkan kerja sama dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan. Dinkes hendak merealisasikan program studi banding ke Bali.

 

“Anggaran travel di atas Rp100 juta dipercayakan kepada saya oleh Pak Kepala Dinkes Pamekasan, yaitu Pak Ismail Bey,” ungkapnya.

 

Karena tuntutan pertanggungjawaban kedinasan di Dinkes Pamekasan, akhirnya Mukti Ali melegalkan usahanya dengan nama CV. Mandala Wisata.

 

“Studi banding Dinkes Pamekasan ke Bali sukses. Saya dapat kontrak di atas Rp100 juta. Ini order besar,” kata Mukti Ali tanpa mampu menyembunyikan kebahagiaannya.

Baca Juga :  How you can find a Korean language Wife

 

Untuk memudahkan sekaligus menguatkan legalitas travelnya, Mukti Ali studi banding ke Bupati Malang yang punya usah travel. Ternyata, surat izin usahanya langsung dari Bupati Malang.

 

Dirinya kemudian melobi Bupati Pamekasan Achmad Syafii Yasin. Bupati Syafii mengeluarkan legalitas surat izin usaha parawisata untuk Mukti Ali. Setelah itu, dirinya mendapatkan banyak order jasa travel dari instansi-instansi di lingkungan Pemkab Pamekasan.

 

Pada 2008, Mukti Ali ketiban tambahan rezeki; diangkat secara resmi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SMAN 1 Pamekasan. Usahanya sudah jalan, dirinya bisa leluasa menyalurkan ilmu sekaligus mendapat gaji serta tunjangan tetap sebagai PNS.

 

Sejatinya, Mukti Ali menjalankan usahanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada suka duka yang mengiringinya. Dia mengaku pernah dimarahi orang karena busnya telat.

 

“Kala itu pengiriman ke Surabaya. Belum ada jembatan Suramadu. Di penyeberangan Kamal, kendaraan saling serobot. Bus terlambat. Saya dimarahi klien. Tapi, bisa teratasi dengan lewat jalur kekeluargaan,” ujarnya.

 

Pada 2010, Mukti Ali membuat rumah besar di Dusun Mandala, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Dibangun selama dua tahun, rumah tersebut menghabiskan biaya Rp1,5 miliar.

 

Spirit membangun rumah besar dan mewah, diakuinya untuk menyikapi cibiran orang-orang. Banyak yang menilai dirinya hanya banyak kerja tapi minim hasil.

 

“Sebelum membuat rumah, banyak yang mencibir, bahkan menghina karena tak terlihat hasil kerja keras saya selama bertahun-tahun. Rumah tersebut, saya jadikan jaminan KUR ke BNI senilai Rp500 juta. Dari uang tersebut, saya beli satu unit bus seharga Rp750 juta. Uang muka Rp250 juta,” urai Mukti Ali.

Baca Juga :  Menghemat Energi Pemain, Madura United Pilih Lokasi Latihan di SGB

 

Dirinya mengaku tidak membayangkan sebelumnya akan bisa punya bus; punya bautnya saja tidak kebayang. Rumahnya saja tidak bisa dilewati sepeda motor, apalagi bus.

 

Enam bulan setelah membuat rumah, Mukti ali membeli lagi bus secara cash seharga Rp700 juta, second lima bulan penggunaan. Itu bus tanggung, bukan bus besar. Dirinya bertekad ingin beli bus besar.

 

Keinginan tersebut tercapai pada 2014. Mukti Ali membeli bus baru yang besar seharga Rp1,6 miliar. Untuk mendapatkannya, Mukti Ali meng-upgrade pinjaman di atas Rp1 miliar.

 

“Mulanya semua bank menolak; BNI, BCA, Mandiri menolak. Bank menilai bisnis bus adalah usaha merugi. Tapi akhirnya saya dapat ACC dari BRI. Pinjam Rp2 miliar. Punya empat bus di tahun 2014.

 

Dua tahun setelah itu, Mukti Ali membeli dua unit bus masing-masing Rp1,5 miliar yang dikaver dari KUR BRI. Total kini punya enam armada; bus besar dua, bus kecil dua, dan bus tanggung dua unit.

 

Pada 2017, Mukti Ali kembali membeli bus. Langsung dua unit, satu baru, satunya second.

 

“Pada waktu corona, nol income. Saya berpikir bagaimana tetap jalan agar sopir tetap dapat pemasukan. Akhirnya, saya membuat kafe on the bus, masing-masing kabupaten satu bus di Madura.

 

“Kala itu, sehari dapat pemasukan Rp750 ribu. Kafe on the bus menyulap bus menjadi kafe. Satu-satunya di Madura,” tukasnya.

 

Kini Mukti Ali menikmati hari-harinya sebagai guru PNS. Usahanya sudah jalan. Ada manajemen khusus. Dirinya cukup mengontrolnya tiap hari. 12 bus beroperasi nyaris tiap hari, berawal dari modal hanya Rp10 ribu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *