oleh

Hanya Disisipkan, Edukasi Seksual Dinilai Belum Cukup bagi Sekolah

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Angka kasus pelecehan seksual di Bangkalan saat ini mencapai 13 kasus. Untuk menekan hal tersebut, komisi D DPRD Bangkalan sebelumnya akan meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan agar materi muatan lokal di sekolah berisi edukasi seksual.

Sejatinya, pendidikan seksual tersebut telah diselipkan dalam mata pelajaran reproduksi pada sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), namun aktivis perempuan Bangkalan dari Korp HMI Wati (Kohati) Bangkalan Siti Ainatul Khusnah menilai bahwa edukasi seksual belum diterapkan sepenuhnya di SD dan SMP.

“Perihal edukasi seksual yang saya amati sendiri belum ya, barangkali edukasi yang diberikan hanya sebatas sosialisasi,” katanya, Minggu (20/9/2020).

Bahkan, edukasi seksual yang dimasukkan dalam kurikulum formal di Bangkalan, dianggap belum ada. Hal itu yang mendasari tuntutannya agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan segera memasukkan edukasi seksual pada lembaga pendidikan, guna mencegah sejak dini penyimpangan seksual pada anak.

“Mengingat edukasi seksual ini belum diterapkan, harus ada sosialisasi edukasi seksual ini harus dimasukkan ke sekolah-sekolah dengan batasan yang disampaikan,” pintanya.

Edukasi seksual juga diharapkan bisa disampaikan oleh pihak yang berkompeten dalam bidang tersebut. Tidak hanya diterapkan di ranah pendidikan, namun juga sosialisasi di ranah orangtua.

“Kekerasan seksual ini bisa menyasar siapa saja, mulai dari anak-anak, laki-laki bahkan juga bisa. Baik yang berpendidikan ataupun tidak, bahkan baik yang memiliki perekonomian cukup atau tidak,” terangnya.

“Saya lihat Pemkab Bangkalan ini terlalu bangga hanya bisa menangani tanpa ada pencegahan,” imbu perempuan yang familiar disapa Aini tersebut.

Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum dan Penilaian SMP Disdik Bangkalan Risman Iriyanto mengakui bahwa edukasi seksual memang sudah masuk dalam mata pelajaran, bamun bukan sebagai muatan lokal, hanya disisipkan. Sebab, jika dimasukkan ke muatan lokal, nantinya perlu ada mata pelajaran sendiri yang khusus membahas itu.

“Saya kira pendidikan seksual sudah masuk ke mata pelajaran Biologi, di situ kan sudah ada pelajaran yang membahas reproduksi,” jelasnya.

Selain itu, Risman menjelaskan, pendidikan seksual ini juga telah disisipkan pada pendidikan karakter yang sudah melekat di lembaga pendidikan, baik SD hingga SMP.

“Seperti adab, tata krama agar anak tidak melakukan penyimpangan khususnya pelecehan seksual itu ada pada pendidikan karakter,” tukasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed