Hanya Makan Mie dan Roti, Kisah Pilu Pembantu Madura di Jeddah

  • Whatsapp
(KM/ SYAHID MUJTAHIDY) SEHAT SELALU: Sofie bersama putri semata wayangnya yang kini dihadapkan pada kondisi paceklik di Arab Saudi.

Kabarmadura.id-Merebaknya Covid-19 memaksa Pemerintah Arab Saudi menerapkan lockdown. Di tengah wabah tersebut, terukir kisah pilu pembantu asal Kecamatan Galis, Bangkalan bernama Soleha, namun familiar disapa Sofie.

Perempuan kelahiran 1 Agustus 1984 tersebut datang ke Arab Saudi pada tahun 2005 dengan status jamaah umroh. Namun, dia memilih untuk tetap berada di Arab Saudi untuk mengais rezeki.

Bacaan Lainnya

Seiring berjalannya waktu, Sofie bertemu dengan pria Asal Kabupaten Jember Andri Masyoyon. Ketika keduanya saling menemukan kecocokan, akhirnya melanjutkan hingga ke jengjang pernikahan. Keduanya dikaruniai anak satu tahun kemudian yang benama Shakila Azzahra.

“Ke Arab Saudi awal 2005. Saya berangkat ke sini umroh. Saya lanjut bekerja di Arab sebagai pembantu. Sudah lama di sini, saya menemukan jodoh saya. Saya menikah dengan anak Jember. Setahun pernikahan, saya dikaruniai putri cantik. Dulu, kami tinggal bertiga dalam 1 keluarga yang bahagia,” ceritanya kepada Kabar Madura, Rabu (29/4/2020) siang.

Kisah pilu Sofie bermula dari suaminya yang terpaksa harus kembali ke Indonesia setelah mendapati pelanggaran ketenagakerjaan. Tak ayal, dia harus hidup berdua di Jeddah, Arab Saudi. Momen tersebut terjadi tepat ketika Bulan Ramadan 2019.

Pada saat itu, Sofie masih bisa panen rezeki. Seperti yang diceritakannya, menjadi pembantu harian di Arab Saudi bakal mendapatkan banyak pekerjaan di Bulan Ramadan.

Akan tetapi, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan bulan suci tahun ini seiring merebaknya Covid-19. Ditambah lagi, Pemerintah Arab Saudi menerapkan lockdown guna menghentikan penyebaran wabah tersebut.

Menurutnya, saat ini sudah tidak ada majikan yang hendak menggunakan jasanya. Tak ayal, dia hanya bisa makan roti dan mie instan di kondisi paceklik seperti ini.

“Saya hanya bisa makan mie dan roti bersama anak saya. Tidak ada pekerjaan. Semuanya di sini sudah sepi. Biasanya kalau lebaran itu banyak makanan, tapi sekarang sudah sulit. Biasanya banyak pekerjaan, sekarang juga sudah sulit,” sambungnya.

Guna tetap bisa bertahan hidup, Sofie, mengatakan menghubungi 180 kontak majikan. Alhasil, dia mendapatkan satu pekerjaan dengan upah miring. Tapi, dia tetap mengambil pekerjaan itu agar anaknya bisa tetap bertahan hidup.

“Untungnya ada yang mau, tapi dengan gaji yang rendah. Tapi demi anak saya, saya tetap ambil pekerjaan itu. Saya juga meminta untuk bisa membawa anak saya,” tandasnya. (idy/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *