Harga Anjlok, Petani Garam di Pamekasan Ragu Produksi Garam

  • Whatsapp
(KM/ ISTIMEWA) ANJLOK: Kondisi hasil produksi petani garam Pamekasan setelah mengalami penurunan harga.

Kabarmadura.id/Pamekasan–Petani garam di Kabupaten Pamekasan mengaku nasibnya tidak menentu lantaran anjloknya harga garam. Akibatnya, banyak petani yang enggan untuk menggarap lahan mereka, lantaran khawatir produksi garam mereka tidak terserap.

Faisol Baidlowi, salah seorang petani garam asal Galis Pamekasan mengatakan, dirinya khawatir bahkan enggan untuk mengelola lahan garam miliknya, lantaran harga garam saat ini jauh dibawah harga pokok produksi (HPP).

Menurutnya, jika dirinya memaksa memproduksi garam sudah pasti akan rugi. Terlebih saat ini kebijakan impor garam oleh pemerintah semakin bertambah. Padahal menurut dia, pemerintah harusnya hadir untuk lebih peduli pada nasib petani garam dengan tidak lagi melakukan impor garam.

“Kami was-was untuk melakukan aktivitas produksi, karena harga garam sangat jauh dari harapan, kami takut hanya akan ditumpuk tidak terjual, capek-capek kerja tapi hasilnya nihil,” ungkapnya, Minggu (22/3/2020).

Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Ismail A Rahim mengaku, pihaknya turut merasakan keluhan para petani garam di Kabupaten Pamekasan. Pihaknya berjanji akan melakukan langka-langkah strategis dengan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk di antaranya PT Garam untuk menganalisa dan mencari penyelesaian agar petani garam mendapatkan kepuasan dari hasil pertaniannya.

“Kami akan kaji dulu sebabnya apa dan penyelesaiannya bagaimana, kami khawatir laju impor tidak terkendali,” ucapnya.

Tepisah, Muzanni Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Pamekasan mengaku, penyebab utama anjloknya harga garam lokal lantaran tingginya laju impor. Sehingga lanjut dia, dengan harga garam impor yang lebih murah, menyebabkan rendahnya minat perusahaan untuk menyerap garam rakyat.

Dirinya menilai, kebijakan impor garam sering tidak memperhatikan jumlah produksi garam rakyat. Kendati begitu, dirinya mengaku akan terus berupaya meningkatkan kualitas garam lokal agar perusahaan mau melirik garam hasil tani masyarakat Pamekasan.

“Kebijakan impor yang dikendalikan oleh pemerinatah pusat agak longgar, sehingga perhitungan antara stok yang ada dengan berapa impor yang dibutuhkan sering overlap,” ungkapnya. (km53/pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *