Harga Sudah Lama Anjlok, PT. Garam Akui Belum Serap Garam Lokal

  • Whatsapp
HASIL PRODUKSI: Puluhan ton garam konsumsi yang dihasilkan oleh pabrik garam di Plan Gudang Camplong, Sampang milik PT Garam, Rabu (23/9/2020).

Kabarmadura.id/SAMPANG–Kondisi pegaraman di Sampang semakin memprihatinkan. Itu setelah PT. Garam tidak pernah melakukan pembelian terhadap garam rakyat. Akibatnya banyak petani harus memilih berhenti mengolah lahannya selama beberapa bulan terakhir.

Menjelang akhir musim ini, banyak petambak yang tidak menggarap lahan pegaraman. Alasannya, selama ini harga garam semakin anjlok. Akibatnya pendapatan daripenjualan, lebih kecil dari ongkos produksi.

Bacaan Lainnya

Sementara PT. Garam yang diharapkan bisa membeli garam rakyat saat harga jatuh dan tidak stabil, tidak melakukan pembelian hasil panen petani lokal.

”Selama ini harga garam anjlok. Bahkan satu karung saja tidak cukup untuk biaya angkut. Di sini sudah banyak yang berhenti,” ungkap Abdurrahman, salah satu petani garam di Desa Aeng Sareh.

Dia mengungkapkan bahwa sebelum pertengahan tahun ini masih banyak petambak yang bertahan. Namun saat ini sudah berhenti. Sebab, pembelian dengan harga normal yang dijanjikan PT. Garam tidak terjadi. Akibatnya para petani menjual garam kepada perusahaan swasta dengan harga rendah.

Ketua Forum Petani Garam Madura (FPGM) Moh. Yanto membenarkan kondisi tersebut. Selama ini PT. Garam tidak pernah menyerap garam petambak lokal. Sehingga harga garam terus merosot saat dibeli perusahaan swasta.

”Tidak ada penyerapan sama sekali dari PT. Garam tahun ini,” ungkapnya.

Bahkan, tidak adanya penyerapan dari PT. Garam, ungkap pria yang juga petambak garam ini, sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Hal itu berakibat pada anjloknya garam yang semakin parah di tahun ini. Hal itu membuat banyak petambah yang berhenti produksi.

Tahun ini, imbuh Yanto, saat ini garam dijual per karung. Satu karung garam seharga Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Harga itu jauh di bawah harga garam sebelumnya. Sebab pada tahun 2018 lalu, harga garam per karung senilai Rp80 ribu. Sementara tahun 2019 seharga Rp21 ribu per karung. Anjloknya harga tidak cukup untuk membayar ongkos angkut.

”Coba kita rinci dari lahan pegaraman itu hasil panen diangkut. Belum lagi untuk biaya lainnya. Itu lebih dari Rp10 ribu. Sementara harga satu karung hanya sebesar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Petani mau dapat untung dari mana,” tandasnya.

Yanto menyayangkan sikap PT. Garam selama ini. Sebab masih ada dana penyertaan modal negara (PMN) yang tidak dimanfaatkan. Padahal dana itu dikucurkan salah satunya untuk menyerap garam rakyat setiap tahun. Namun kenyataannya selama dua tahun terakhir tidak ada penyerapan.

”Seandainya PT. Garam menyerap dengan harga sesuai aturan, maka otomatis harga garam naik. Sebab perusahaan swasta akan menaikkan harga pula. Namun karena tidak ada pilihan lain, akhirnya petani menjualnya dengan harga relatif murah,” katanya.

Sementara itu, Plan Manager PT Garam Gudang Camplong, Anang Siswanto saat dikonfirmasi mengaku selama ini garam yang ada di gudang berasal dari petani garam milik PT. Garam. Pihaknya menolak memberikan keterangan soal alasan tidak terserapnya garam rakyat.

”Kalau soal penyerapannya saya tidak bisa berkomentar. Langsung saja ke Humas PT. Garam,” ucapnya.

Terpisah, Humas PT Garam Persero, Miftahol Arifin mengakui belum melakukan penyerapan. Namun PT. Garam merencanakan tahun ini akan dilakukan.

“Memang kami belum menyerap. Tapi kami dalam proses pembahasan soal anggaran penyerapan,” terangnya.

Dia menegaskan belum bisa menunjuk waktu kapan penyerapan dilakukan. Alasannya, pembahasan penyerapan belum bisa ditentukan selesainya. Salah satu pembahasannya soal aturan anggaran penyerapan ditengah harga garam turun. (km54/waw)

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *