oleh

Harga Turun, 308 Ribu Ton Garam Tidak Terjual

Kabarmadura.id/Sampang-Sebanyak 308 ribu ton garam di Sampang masih mengendap. Garam yang belum terserap ke pabrikan tersebut, semakin membuat petambaknya cemas. Pasalnya, selain masih banyak yang belum terjual, murahnya harga juga menjadi alasan

Homamih, salah seorang petambak garam dari Desa Polagan, Sampang, mengatakan, harga garam yang sangat murah itu, tidak sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Dia kemudian menduga, tidak terserapnya garam milik petani lantaran adanya garam impor yang masuk ke Indonesia, sehingga berdampak garam lokal tidak terserap dan harga garam anjlok.

“Dulu harga garam satu karung mencapai Rp45 ribu dan satu ton Rp900 ribu, tapi sekarang satu karung Rp5 ribu dan satu ton Rp100 ribu,” ungkapnya, Senin (25/11/2019).

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang Alan Kaisan menyampaikan, masalah garam memang kewenangan pemerintah pusat melalui PT Garam. Namun, pihaknya berharap agar PT Garam bersedia membeli garam petambak yang mengendap sesuai dengan harga pasaran.

Alasannya, jika kondisi garam petani tidak terserap terus bertahan, mereka akan merasa sangat dirugikan. Namun para petambak diminta tidak berharap banyak, karena pihaknya hanya bisa menekan dan berusaha agar pemerintah bisa membeli garam mereka.

“Jika garam petani tidak terserap seperti ini, maka hal ini sangat merugikan petani”

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang (Kabid) Perikanan dan Budi Daya Dinas Perikanan Sampang M. Mahfud menyampaikan, dari 308 ribu ton garam itu, sebagian masih proses produksi, sebagian sudah rampung. Yang membuat petambak khawatir, karena kini sudah memasuki musim hujan, dan harga garam anjlok, sehingga bisa membuat garam mereka tidak laku.

“Andaikan harga garam mahal, warga pasti tetap memproduksi, meskipun memasuki musim hujan,” jelasnya.

Namun mengenai kualitas, dibandingkan dari 5 tahun yang lalu, kata Mahfud, ada peningkatan. Namun garam yang masuk katagori KW 1 dan 2, saat masuk ke gudang-gudang itu kadang jadi ke katagori KW 3 dan 4.

Mengenai luasan lahan garam di Kabupaten Sampang yang tahun berproduksi, sekitar 2.880 hektar. Jika dihitung total, sekitar 3000 hektar, namun ada yang tidak aktif.

“Kualitas garam sudah bagus, tetapi itu versi petambak, karena ketika masuk ke gudang-gudang, kadang tidak sebagus yang petambak kira,” imbuhnya. (km49/waw)

Komentar

News Feed