Hasil Kerajinan Batik Sumenep Terkendala Pemasaran

  • Whatsapp
BERSERAGAM: Pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sumenep memakai batik hasil produksi pengrajin batik Sumenep.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Momentum Hari Batik Nasiaonal 2019, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperidag) Sumenep masih kewalahan dan terkendala dalam memmasarkan hasil kerajinan batik. Sehingga, saat ini masyarakat masih belum begitu mengenal batik asli Sumenep.

Kepala Disperindag Sumenep Agus Dwi Saputra mengatakan, saat ini para pengrajin batik masih terkendala promosi dan pemasaran. Alasannya, masyarakat belum mengenal lebih jauh terkait tempat pengrajin batik. Selama ini, yang dilakukan masih menggunakan pemasaran secara klasik.

“Jika secara kualitas, tapi saat ini terkendala pada promosi dan pemasaran,” katanya, Rabu (2/10/2019).

Kendati demikian, dirinya bakal meningkatkan pemasaran dan promosi melalui jejaring online, sehingga lebih dikenal di luar Sumenep hingga internasional. Namun, khususnya pemuda Sumenep itu sendiri.

“Pembinaan sudah dilakukan sebagai usaha kami secara terus menerus,” ujarnya.

Sedangkan Kabid Promosi Disperindag Sumenep Cicik Suryaningsi menjelaskan, pemasaran batik saat ini sudah sampai ke tingkat nasional. Salah satunya dengan mengadakan pameran yang meliputi produksi lokal dan nasional. Dari situ, nantinya menyertakan pelaku industri kecil menengah (IKM).

Selain itu, pemerintah saat ini sudah berupaya dengan emlakukan pembinaan secara intensif kepada para pengusaha batik Sumenep. Tujuannya, agar outputnya nanti dirasakan oleh pengusaha dan diharapkan mempermudah laju pemasaran ataupun produksi batik.

“Kami di sini sudah berusaha semaksimal mungkin,” ujarnya

Sementara, Kabid Industri Disperidag Sumenep Agus Eka Haryadi menambahkan, batik merupakan produk unggulan Kabupaten Sumenep dalam sektor industri kreatif atau dalam kategori karya tekstil.

Sentra terbesar yakni, di Desa Pakandangan Barat Kecamatan Bluto. Kemudian unit-unit usaha yang lain mulai bermunculan pada daerah Langsar, Talango, Batuan, Madala, Batang-Batang, Pasongsongan dan Parenduan.

“Industri batik sudah sangat menyebar di berbagai wilayah,” tuturnya

Dia menjelaskan, ada 73 unit usaha yang saat ini sudah mandiri di Kabupaten Sumenep.  Selain itu, ada 500 orang yang bekerja dalam usaha tersebut. Ada tiga motif batik di Sumenep, yakni, motif klasik, motif terpola, dan motif kontemporer yang semuanya dimiliki sumenep.

“Saat ini idustri batik di daerah Sumenep sudah mulai mau berkembang,” tukasnya.

Terpisah, Dayat yang merupakan pengusaha batik asal Desa Pakandangan Barat menyampaikan, pemasaran batik saat ini sudah dilakukan secara intens. Namun dirinya menyadari, kendala itu juga dialami. Sebab, terkadang masyarakat belum bisa membedakan antara batik yang satu dengan yang lainnya.

Untuk melakukan pemasaran dengan melakukan pameran di setiap daerah, di tingkat kecamatan, kabuapten, provinsi hingga tingkat nasional.

“Selain ada kendala perkembangan batik, saat ini secara kualitas sudah memadai,” tuturnya.

Mengenai harga batik Sumenep, bervariasi. Ada yang senilai Rp2 juta, Rp1 juta, Rp500 ribu, Rp250 ribu, Rp 150 ribu. Bahkan ada juga yang paling murah, yakni Rp70 ribu hingga Rp50 ribu.

“Harga -harga tersebut sesuai dengan kualitas batik,” paparnya.

Dia berharap, masyarakat dapat membeli batik produk batik tulis, sehingga dapat memberikan manfaat bagi kebudayaan lokal.

“kami bangga jika batik hasil karya sendiri dapat dikonsumsi,” bebernya.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Sumenep Akis Jazuli mengutarakan, batik Sumenep harus lebih ditingkatkan dalam hal pemasaran. Sebab, masyarakat Sumenep masih kebingungan dan sulit membedakan antara produk Sumenep maupun luar Sumenep.

“Pemerintah wajib ikut andil dalam meperjuangkan karya batik tulis Sumenep. Di samping dapat melestarikan budaya, juga dapat meraup untung pada masyarakat sekitar,” pungkasnya. (imd/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *