Hasil Pelatihan Tak Maksimal, Diskop UM Sumenep Angkat Tangan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) DIPERHATIKAN: Saat Diskop UM Sumenep memberikan bantuan kepada peserta yang mengikuti pelatihan keterampilan bagi UKM.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Pelatihan yang biasa digelar oleh Dinas Koperasi Usaha Mikro (Diskop UM) Sumenep, diakui belum membuahkan hasil yang maksimal. Kendati pelatihan sudah berjalan 5 tahun, namun sampai saat ini hanya segelintir peserta yang konsisten melanjutkan usaha kreatifnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UKM) Diskop UM Lisa Bertha Soetedjo menyampaikan, pelatihan sudah digelar sejak tahun 2014. Tetapi berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi (monev) masih sangat sedikit alumni pelatihan yang mengembangkan menjadi unit usaha.

Bacaan Lainnya

“Kalau pelatihan sudah lama, dan setiap tahun pasti ada. Rata-rata paling sedikit lima pelatihan, dengan jumlah minimal 20 orang setiap pelatihan,” kata perempuan yang gemar bersepeda itu.

Salah satu yang paling mengakar dari pola pikir masyarakat, terutama yang ikut pelatihan hanya sekadar formalitas saja, maka pihaknya menyiasati pelatihan tidak disertai dengan bantuan alatnya.

Bertha menambahkan, termasuk sebagai upayanya adalah memperketat seleksi calon peserta. Dia mencontohkan, seperti pelatihan jahit, jika tidak berlatar belakang penjahit atau di rumahnya minimal sudah bisa menjahit, tidak akan diterima. Pihaknya meyakini itu lebih efektif.

“Percuma jika mindset masyarakat seperti itu, meski anggaran pelatihan dibesar-besarin. Dikasih bantuan dijual, hasil monev kemarin hanya sekitar 10 orang yang mengembangkan, dan bisa dikatakan cukup sukses. Itu sudah dikalkulasi dari dulu,” imbuh Bertha.

Tahun ini, ada sekitar 11 pelatihan kembali digelar, di antaranya pelatihan roti kue, mebel, kerajinan dari lidi, daur ulang, meracik tepung dari buah, kerajinan limbah kayu, dan lainnya.

Ia menambahkan, besaran anggarannya Rp750 Juta, 9 pelatihan yang bersumber dari DBHCHT. Sementara 2 pelatihan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp140 juta.

“Yang APBD Roti kue dan tepung organik,” pungkasnya. (ara/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *