oleh

Hasiyah; Gagal Dulu, Kini Bertabur Prestasi

Kabarmadura.id/PAMEKASAN – Kedisiplinan adalah kunci utama seseorang menuju segalanya. Tanpa kedisiplinan, tidak akan pernah ada harapan yang bisa tercapai secara sempurna.

Tidak jarang kita banyak menemukan orang yang seakan-akan dengan mudah mencapai satu harapan yang dituju. Padahal, semuanya butuh proses panjang untuk mencapai kesuksesan.

Itu yang menjadi prinsip Hasiyah. Dara asal Desa Waru Barat, Waru, Pamekasan ini cukup gemilang namanya di kalangan pemuda milenial. Dari desa di ujung utara Kabupaten Pamekasan, tidak jadi alasan untuk tidak berproses.

Baginya, yang perlu ditanamkan dalam dirinya adalah kedisiplinan dalam mencapai segala yang diharapkan.

Baginya ada beberapa yang harus ditekankan dalam menjalani hidup, lebih-lebih kapada orang yang mau berproses. Titik tekannya harus berada pada kedisiplinan, bertanggung jawab, dan tentunya tidak boleh meninggalkan kerja keras. Semuanya harus terpadu dalam kepribadian seseorang.

Mengambil sikap secara perkasa sebagai seorang perempuan dari desa tidaklah mudah, apalagi harus berhadapan dengan masyarakat patriarkis Madura. Tapi itu bukan halangan bagi mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) ini. Dia tidak pernah dibuat ketir dengan keadaan yang ada. Baginya proses adalah jalan kebaikan.

Selain berprestasi, Hasiyah juga sangat dikenal sebagai perempuan yang suka menulis. Sekitar tahun 2019 yang lalu, Hasiyah telah menjuarai beberapa kriteria lomba di tingkat nasional, seperti penyair terpilih nasional, penulis terpilih Nasional, juara satu menulis sinopsis (HPN 2019), dan juara harapan menulis puisi se-Indonesia.

Di bidang akademisi, sebagai mahasiswa aktif di UNIRA, rupanya Hasiyah telah dua kali dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi aktif tahun 2019 dan tahun 2020. Hal itu didapatkan melalui proses panjang yang tentunya tidak mudah. Ketekunannya dalam belajar memang patut mendapatkan penghargaan, karena pencapaiannya sudah terbukti secara kemampuan, bahwa dia adalah perempuan hebat.

Selain aktif di dunia akademis, dia juga seseorang yang aktif dalam beberapa organisasi. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah tempat pertama yang menampung perempuan berprestasi ini sejak menginjakkan kaki di kampus tercintanya UNIRA.

Di kalangan aktivis, dia sangat dikenal sebagai perempuan yang yang multitalenta, sehingga teman-teman yang satu organisasi dengannya mengakui kehebatan Hasiyah.

Sekitar awal tahun 2019, Hasiyah mulai bergabung dengan Sivitas Kotheka, dia sangat merasa beruntung dapat melebur dalam komunitas itu. Sebab, dia dapat bertukar pikiran dengan orang-orang hebat yang ada di dalamnya, seperti Royyan Julian, Novi Kamalia, Zainal, dan masih banyak yang lainnya.

Bagi Hasiyah, hidupnya itu tidak boleh terbatas, karena setiap orang yang masih memiliki waktu dan kemampuan lebih harus digunakan semaksimal mungkin. Bila perlu, lakukanlah banyak hal yang dinilai positif.

“Jangan membatasi mimpimu. Sebanyak apapun mimpimu, Tuhan selalu memeluk mimpimu. Jatuh dan gagal hanya bumbu mencapai puncak gemilang. Sebab kebenaran yang sejati, berawal dari suatu kesalahan yang diperbaiki,” ujarnya pada kabarmadura.id, Selasa (18/8/2020).

Sebagai perempuan yang dikenal berprestasi, tentunya Hasiyah juga mempunyai riwayat kegagalan. Dalam riwayat hidupnya, dia pernah gagal masuk universitas ternama di Indonesia, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tapi kegagalan tidak pernah menjadikannya sebagai orang yang cengeng, dia berusaha move on dari harapannya menjadi mahasiswa UGM. Kemudian dia menata kembali mimpinya, yang akhirnya berlabuh di kampus UNIRA. Di UNIRA-lah dia memperbaiki riwayat kegagalannya, sampai menjadi mahasiswa berprestasi. (01km/nam)

Komentar

News Feed