HGN ke-74, Krisis Hingga Kesejahteraan Guru di Kabupaten Sampang Belum Teratasi

  • Whatsapp
KM/DOKUMEN TIDAK TERATASI: Disdik Sampang mengaku tidak bisa mengatasi persoalan kekurangan guru.

Kabarmadura.id/Sampang-Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November 2019, masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang. Pasalnya, krisis guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah itu mencapai ribuan jiwa. Kendati demikian, Disdik mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mengtasi persoalan tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Sampang Nur Alam mengatakan, berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik) sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), Kabupaten Sampang masih mengalami kekurangan guru ASN mencapai ribuan Jiwa.

“Kekurangan gura di SD dan SMP mencapai 2.684 jiwa, kami berupaya meminta penambahan kuota kepada pemerintah pusat, karena kemampuan daerah sangat terbatas,” ungkap Nur Alam, kemarin (24/11/2019)

Lebih lanjut pihaknya membeberkan, untuk mengatasi kekurangan guru ASN di wilayahnya, pihaknya berupaya untuk memaksimalkan tenaga suka relawan (sukwan), meskipun hal itu tidak lantas mengurangi persoalan tenaga pendidik di Kabupaten Sampang.

Pasalnya terang Nur Alam, guru sukwan atau honorer di Sampang masih dibelit persoalan kesejahteraan. Diungkapkannya, memikul beban yang sama dengan guru ASN, tingkat kesejahteraan guru sukwan cukup rendah, mereka hanya mendapat insentif Rp350 ribu per bulan dari pemerintah daerah.

Oleh sebab itu, Nur Alam mengaku, pihaknya terus berupaya mengajukan kepada pemerintah pusat agar ada penambahan kuota guru berstatus ASN. Sebab, jika persoalan kekurangan guru itu dibebankan kepada pemeritah daerah, pihaknya mengaku tidak mungkin bisa mengatasi, mengingat kemampuan keuangan sangat terbatas.

“Yang jelas, kami sangat butuh campur tangan dari pusat, kalau pemerintah daerah, menangani kekuranagn guru ini sulit, mengingat kemampuan keuangan daerah sangat terbatas,” ungkapnya.

Lanjut Nur Alam,di tengah terbatasnya jumlah guru di Kota Bahari itu, maka pada momentum HGN kali ini, pihaknya mengajak kepada seluruh guru di wilayah itu, baik yang ASN ataupun yang honorer, serta sukwan, untuk bersama-sama menyadari, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Menurutnya, dalam jiwa pahlawan itu, seharusnya ada tiga indikator penting yang harus tetap tertanam, yakni jiwa pengabdian, pengorbanan dan ikhlas. Artinya terang Nur Alam, dengan kondisi kekurangan guru  dan insentif yang relatif rendah itu, para tenaga pendidik, bisa memiliki jiwa pahlawan dengan tiga indikator penting  tersebut.

“Bagi setiap guru, harus ditanamkan jiwa pahlawan ini,  siap mengabdi kepada negara bagaimana meningkatkan konpentensi anak-anak didik dan pantang menyerah, serta harus rela berkorban dengan ikhlas dalam menjalankan tugas mulia, meskipun honor tidak seberapa,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sampang Achmad Mawardi belum bisa memberikan keterangan terkait upaya PGRI dalam meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru di wilayahnya. Saat dihubungi melalui telepon pribadinya, yang bersangkutan beralasan masih berada di luar kota.

“Maaf, saya masih di Jatim Expo, lagi ada acara resepsi HGN dan HUT ke-74 PGRI tingkat provinsi,” singkatnya. (sub/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *