Hoaks dan Ustaz Muhaimin 

  • Whatsapp
 

Oleh: Chudori Sukra*)

Tohir dan Ali adalah sepasang sahabat yang merasa senasib sepenanggungan. Keduanya adalah pemilik toko peralatan sekolah dan ATK (Alat Tulis Kantor) yang dikelola bersama-sama. Selama bertahun-tahun menjalin usaha, tak pernah mereka saling cekcok atau berselisih paham. Namun istri Ali, Juminah dan istri Tohir, Sarkiyem, selalu saja bertengkar untuk urusan yang remeh-temeh sekalipun.

Sewaktu kedua keluarga itu bertemu di sebuah acara pengajian di Desa Jombang, yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, Tohir menangkap lirikan Juminah yang memaki-maki istrinya lalu menyarankan sang suami agar menyuruh istrinya melakukan operasi plastik lantaran payudaranya yang menggelayut kendur. Tohir paham watak Juminah yang memang sering mengumbar gosip ke mana-mana bahwa payudara istrinya tak bisa diselamatkan lagi, bagaikan seorang bocah mengenakan kaos kaki kendur yang sudah bolong-bolong.

Makin lama, kebencian itu semakin menjadi-jadi. Seakan mereka telah mencanangkan permusuhan terbuka dengan menghalalkan segala cara. Suatu malam, Sarkiyem berkata kepada suaminya, “Tadi sore, istri dari sahabatmu itu menemui saya dan menuduh bahwa saya telah menikahi laki-laki yang telah kehilangan kejantanannya, sementara dia sendiri bersama suaminya sanggup bercinta sebanyak tiga kali dalam semalam.”

“Apa? Tiga kali?”

“Justru dia bilang lima kali kalau malam Jumat.”

Wanita itu terdiam sesaat, memerhatikan kerut-kerut yang terlihat di dahi suaminya dan katanya lagi, “Bapak tahu, apa yang dia sarankan? Saya disuruh meninggalkan Bapak, dan menurut dia, perempuan seperti saya ini punya hak untuk berselingkuh dan menceraikan suaminya.”

Wajah Tohir seketika menjadi merah dan pucat-lesi, dan sejak saat itu muncullah kebencian yang mendalam terhadap Ali sahabatnya.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai berselisih paham, dan pertengkaran terus-menerus memuncak hingga mereka memutuskan untuk menjual toko ATK yang telah mereka kelola bersama. Mereka membagi keuntungan penjualan dan setuju untuk putus hubungan. Namun, Tohir merasa kurang puas dan ingin membalas dendam kepada mantan rekan usahanya itu. Maka, ia pun mengumbar gosip buruk tentang Ali, keluarganya, orangtuanya, bahkan sampai kakek-neneknya.

Lama kelamaan, Tohir menyadari bahwa usahanya untuk mencemarkan nama baik Ali tak dianggap serius oleh siapapun. Ia menyusun siasat dan strategi, agar pencemaran nama baik itu datang dari orang yang berpengaruh di Desa Jombang. Secara diam-diam ia mendatangi kediaman Ustaz Muhaimin, sambil pura-pura menyediakan amplop agar disumbangkan untuk pembangunan masjid yang sedang direhabilitasi.

Ustaz Muhaimin adalah orang terpandang yang kerapkali menjadi imam di masjid Darul Muttaqin. Ia memiliki banyak santri dan menjadi penceramah seminggu sekali untuk acara pengajian majlis ta’lim bagi ibu-ibu rumah-tangga. “Semoga sumbangan ini dibalas dengan pahala dan ganjaran yang melimpah dari Allah Subhanahu Wata’ala,” demikian ujar Ustaz Muhaimin.

Tohir pun menyahut dengan suara lembut, “Semoga Allah melimpahkan kesehatan dan keselamatan buat Ustaz dan keluarga.” Kemudian, ia menunduk dalam waktu yang cukup lama. Sang Ustaz menangkap rasa gundah dan keresahan di hatinya, hingga ia pun bertanya, “Kira-kira, apa yang bisa saya bantu? Sepertinya Pak Tohir ingin mengemukakan sesuatu, apakah keluarga Bapak sehat semuanya?”

“Alhamdulillah, sehat semua, Ustaz. Tapi, pada dasarnya berkunjung ke sini sekaligus ingin memberitahu kabar yang tak pantas disampaikan di hadapan orang lain selain Ustaz sendiri?”

“Kabar apa itu?” pancing Ustaz Muhaimin.

“Itu, masalah teman saya Ali,” ia menggeser duduknya lalu mendehem beberapa kali. “Dia ngomong ke sana kemari bahwa Ustaz sering menjadi imam di masjid, tetapi Ustaz tidak wudlu terlebih dahulu. Itu berarti, Ustaz sering melakukan salat tanpa wudlu terlebih dahulu.”

Astaghfirullah al-adzim… dia bilang begitu?”

“Benar Ustaz, malahan dia tak pernah melihat Ustaz berwudlu sama sekali kalau mau melaksanakan salat isya.”

Mendengar itu, sang Ustaz menarik napas panjang dengan tatapan menerawang, “Tidak sepantasnya dia berkata begitu. Sebab, biasanya saya melakukan wudlu di rumah. Ketika berangkat ke masjid sudah punya wudlu, apalagi maghrib, setelah mandi sore saya langsung berwudlu di kamar mandi. Kalau salat isya, biasanya saya langsung mengimami santri, karena saya masih punya wudlu sejak salat maghrib tadi.”

Tohir melanjutkan perkataanya dan menyampaikan kepada sang Ustaz bahwa keluarga Ali sering mengonsumsi susu kaleng yang mengandung lemak babi dan ulat.

“Kenapa dia melakukan itu? Bukankah kita ini seorang muslim? Jangan-jangan dia memengaruhi keluarganya untuk makan sesuatu yang diharamkan agama?”

“Tepat sekali Ustaz, saya juga khawatir sekali. Tapi entahlah, di zaman sekarang ini ada saja orang tua yang mengajak keluarganya pada kemaksiatan. Barangkali dunia ini sudah mau kiamat….”

Kemudian, Tohir berseloroh lebih jauh, bahwa seluruh keluarga Ali sering mengonsumsi susu yang mengandung lemak babi dan ulat tersebut. Sehingga Ustaz Muhaimin merasa jijik mendengarnya. Setelah itu, walaupun di ruangan itu hanya mereka berdua, Tohir menoleh ke kiri dan kanan sebelum berbisik ke telinga sang Ustaz, “Ali juga bilang bahwa Ustaz Muhaimin sanggup melakukan hubungan badan dengan istrinya sebanyak enam kali pada malam Jumat, dan dia punya ramuan khusus dengan merk Jamu Kuat Cap Macan Siliwangi…”

Astaghfirullah, dia bilang begitu?”

“Ya,” katanya sambil menepuk paha, “justru Ustaz menjual ramuan itu dan menyebarkannya pada seluruh masyarakat desa… bahkan ke desa seberang segala.”

Mukanya memerah. Tatapannya nanar, membayangkan wajah Ali bagaikan tikus atau serangga yang kotor menjijikkan.

Tohir menjulurkan mukanya ke depan, seraya berbisik pelan, “Bagi saya, dia itu bukan siapa-siapa, sementara Ustaz Muhaimin adalah tokoh terpandang di Desa Jombang ini. Dari sisi usia juga dia tentu di bawah Pak Ustaz. Dan tentu saja dia tidak punya hak apapun untuk menentukan mana yang baik dan buruk, sebagaimana pemahaman Ustaz dalam ilmu fiqih dan hadits nabi. Selain itu Ustaz…”

“Selain itu kenapa?” desak Ustaz lagi.

“Dia berteman dengan seorang laki-laki yang merubah namanya menjadi Santi, lalu merias wajahnya dan memakai pakaian dengan dandanan kaum perempuan. Saya memergoki mereka sedang minum kopi di warung kopi Pak Salim lalu bergandengan tangan menuju hotel di pasar Cilegon.”

“Astaghfirullah al-adzim!” teriak sang Ustaz.

Kerut-kerut pada dahi Ustaz Muhaiimin terlihat semakin dalam, ketika ia mencetuskan kemarahannya. Suaranya bergetar hebat, “Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari pengaruh setan dan iblis, yang terus-menerus menggoda manusia sejak zaman Nabi Luth.”

Tohir merasa ada kemenangan dalam dirinya, dan dengan hawa nafsu yang menggebu-gebu, ia pun berbisik lagi, “Lalu, Ali juga pernah mengatakan bahwa Ustaz Muhaimin itu tidak paham agama, dan dia hanya seorang Ustaz komunis.”

“Sudah, cukup Tohir… cukup!” katanya dengan nada penuh amarah.

Beberapa hari kemudian, Ustaz Muhaimin berjalan tergopoh-gopoh dengan menyusuri gang-gang kecil setelah menengok kebun pisang miliknya. Saat itu, ia berjumpa dengan Bang Muljam, sang jawara kampung yang langsung menghampiri Ustaz dan mencium tangannya. Jawara itu memohon agar didoakan, dan agar Tuhan senantiasa membimbingnya hingga ia terbebas dari segala godaan setan yang terkutuk.

Namun sang Ustaz tiba-tiba menjawab, “Saya bisa saja mendoakan kalau hati saya dalam keadaan tenang dan tidak gundah seperti sekarang ini.”

“Gundah kenapa, Ustaz? Apakah Ustaz sedang sakit?” tanya sang jawara.

“Saya sehat-sehat saja, tetapi saya benar-benar kesal dan jengkel pada seseorang di desa kita ini…”

“Seseorang siapa? Sebutkan saja, Ustaz!” Jawara itu mulai naik pitam.

Ustaz itu bersandar pada dinding sebuah bangunan rumah, seolah menahan beban berat tubuhnya, lalu ia berkata dengan nada sedih dan pahit, “Saya tahu, kamu sebagai jawara dan orang terpandang di Desa Jombang ini, tentu paham jerih-payah saya dalam membangun akhlak masyarakat. Berpuluh-puluh tahun saya mengabdikan diri untuk melayani umat, tapi keikhlasan dan ketulusan hati saya hanya sia-sia dikarenakan satu orang yang merecoki perjalanan hidup saya…”

Ia batuk-batuk. Tatapannya garang menyorot tajam, dan lanjutnya, “Orang itu ialah Ali yang rumahnya di samping gardu ronda itu… apakah kamu kenal dia?”

“Ya, saya tahu, Ustaz,” kata Bang Muljam dengan tatapan penuh amarah.

Sang Ustaz mendesah dan menghela nafas, kemudian lanjutnya lagi, “Adalah kewajiban umat Islam untuk mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kita semua tahu, bahwa siapapun yang sanggup membebaskan dunia ini dari pengaruh orang-orang jahat dan zalim, Allah akan menjamin Surga Firdaus baginya.”

“Amin,” sambut sang jawara, dengan wajah murka dan suara bergetar, “Semoga kita semua akan masuk surga.” Dan ia pun pamit dengan kembali mencium tangan Ustaz Muhaimin.

Beberapa hari kemudian, tubuh Ali ditemukan mati terkapar oleh luka tusukan yang bertubi-tubi. Para saksi mata mengatakan, bahwa sebelum tubuh laki-laki itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan, ia sedang melaksanakan salat Subuh. Sementara, jawara Muljam pembunuhnya ikut bersembahyang dengan mengambil posisi di belakang Ali.

Pihak polisi berhasil menangkap Muljam beberapa hari kemudian, di tempat persembunyiannya di kebun pisang milik Ustaz Muhaimin. (*)

*) Chudori Sukra, pengamat sastra dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *