oleh

Hujan Batu

Oleh; Helmy Khan

Pagi itu, saat matahari masih mengumpat di balik bukit. Orang-orang berhamburan keluar rumah membawa sejuta panik dan rasa takut disertai teriakan minta tolong keseluruh penjuru. Tapi sia-sia, teriakan mereka seperti tak ada yang mendengar. Satu persatu rumah mereka rata tertimbun tanah.

Batu-batu besar bergelinding dari atas bukit. Pohon-pohon tumbang, sekejap hilang ditelan bumi. Sementara di bawah sana orang-orang berteriak histeris saat suara gemuruh menderu kencang. Peristiwa itu menelan banyak korban; baik ternak atau benda berharga lainnya.

Tak ada satupun barang berharga yang berhasil diselamatkan. Hanya pakaian yang melekat di tubuh mereka yang menjadi saksi bisu mengerikan itu. Rasa takut semakin mencekam. Sekalipun air mata mereka tumpah tak mampu meluruhkan kesedihan dan penyesalan.

“Ya Allah ada apa ini?” Zaini terpingkal-pingkal mengimbangi langkahnya di atas tanah yang bergerak-gerak.

Kekhawatiran Zaini kini benar-benar terjadi. Tempat ia pertama kali menangis setelah keluar dari rahim seorang ibu kini hancur tanpa sisa. Batu-batu besar menghempaskan tanah menjunjung tinggi kabut tebal ke angkasa. Penyesalan menggumpal dalam hatinya di sela-sela orang yang isak dengan tangisnya.

Dulu desa Locok dikenal sebagai desa yang aman, penuh keindahan, serta ramah lingkungan. Warganya pun demikian hidup tentram, sejahtera, dan teratur. Hasil alam begitu melimpah menyediakan segala macam kebutuhan masyarakat yang sebagian besar warganya bergantung pada hasil tani.

Tak hanya itu, desa Locok juga terkenal dengan eksotis akan pemandangannya yang indah. Tak heran jika wisatawan berbondong-bondong menuju bukit Tempong di atas sana. Apalagi saat matahari mulai surup seakan melengkapi komposisi indahnya alam desa Locok dari atas ketinggian.

Dari atas bukit lampu-lampu berkedap-kedip. Sementara warna jingga di ufuk barat menyihir berpasang-pasang bola mata saat matahari mulai tenggelam. Pantas saja jika muda-mudi rela menunggu lama demi mengabadikan momen indah itu bersama orang yang dicintainya.

Awal mula peristiwa ini bermuara dari Sujibto, pengusaha sukses di desa itu. Ia bertekad membangun tempat wisata di atas bukit sana untuk menambah keuntungan kantong celananya. Segala macam administrasi telah diajukan ke aparat desa dengan alasan untuk membantu perekonomian masyarakat serta mengangkat nama desa Locok.

Alat-alat berat setiap jengkal menggerus kaki bukit. Perlahan merayap ke atas menumbangkan pohon-pohon dan menggulingkan batu-batu yang menjadi pondasi bukit Tempong. Alat berat itu tanpa ampun melibas apa saja yang ada di depannya. Dengan gagahnya mengorek-ngorek perut bumi di atas ketinggian.

Pertentangan pun tak terelakkan. Banyak warga dan tokoh masyarakat yang protes, sebab, pembangunan itu akan mengorbankan makam keramat di atas sana. Haji Subhan, salah satu tokoh masyarakat menolak keras awal rencana pembangunan wisata tersebut. Tetapi apalah daya, licinnya uang meluluhkan hati kepala desa untuk mengizinkan proyek pembangunan itu.

Sepanjang hari makam itu dipagari betis oleh warga berharap dapat menggugurkan niat Sujibto. Gerakan itu dimotori oleh Haji Subhan karena dia tokoh yang paling ampuh untuk menggerakkan masyarakat. Tak terkecuali Zaini, ia juga berperan penuh membantu Haji Subhan setiap menyampaikan aspirasinya kepada kepala desa dan Sujibto.

Warga desa Tempong percaya dua makan di atas itu merupakan leluhur desa tersebut. Banyak kejadian-kejadian diluar nalar manusia terjadi ketika ada orang yang ingin memindah apalagi sampai merusak makam tersebut. Satu tahun yang lalu saat salah satu warga hendak menebang pohon jati di dekat makam itu, tiba-tiba Chain Saw yang digunakan patah seketika. Tak lama kemudian bekas goresan di pohon itu keluar darah.

Tak kalah menggemparkan warga, beberapa bulan lalu mesin Bullduzer yang digunakan untuk menambang bukit kapur itu mati secara tiba-tiba. Hingga kini mesin itu terbengkalai tanpa diketahui penyebabnya. Seputar kejadian aneh itu menggenapkan keyakinan masyarakat bahwa makam tersebut adalah keramat, tak boleh diganggu.

Satu persatu orang yang menghalangi Sujibto hilang secara misterius. Sekalipun ditemukan pasti dalam keadaan tidak bernyawa, termasuk Haji Subhan tokoh masyarakat di desa itu ditemuka tergeletak dengan bekas luka yang mengalir darah dari perutnya. Meski banyak  warga yang mengadu tak satupun direspon oleh aparat desa apalagi tindakan untuk menghentikan proyek pembangunan itu.

Tiga hari sebelum kematian Haji Subhan, tokoh masyarakat itu kerap didatangi Sujibto dan anak buahnya. Mereka membujuk untuk mengajak bergabung dan menyetujui proyek pembangunan wisata itu. Tak tanggung-tanggung uang tunai puluhan juta rupiah diberikan Sujibto untuk melancarkan aksinya.

Tetapi Haji Subhan menolak dengan halus, penuh sopan santun. “Maaf, selaku tokoh masyarakat yang dipercayai warga saya tidak akan bergabung dengan proyek ini.”

“Ayolah bang haji. Apa susahnya menerima uang ini? Kalau masih kurang besok akan saya tambah.”

“Tidak. Ini bukan masalah harta, tapi tentang menghormati makam leluhur kita di desa ini,” tegas Haji Subhan, menyodorkan kembali uang di atas mejanya ke hadapan Sujibto.

Samar-samar Zaini mendengar pembicaraan mereka di ruang tamu. Sebagai keponakan ia mendukung pernyataan pamannya itu. Dadanya berdetak kencang saat mendengar ancaman Sujibto kepada pamannya.

“Awas kau bang haji. Tunggu saja apa yang akan terjadi nanti,” gertak Sujibto dengan beringas ia meninggalkan sejuta kecewa.

Berselang dua hari Haji Subhan ditemukan bersimbah darah di kebunnya. Sekujur tubuhnya penuh luka, perutnya robek akibat sayatan benda tajam. Tangis histeris pecah dari istri dan kedua anaknya. Kalimat tauhid mengiringi setiap langkah orang-orang yang memakamkan Haji Subhan.

“Maafkan aku paman,” ucap Zaini, tanggnya bergetar hebat memegang nisan makam pamannya itu.

Lambat laun keyakinan masyarakat goyah setelah setiap saat ditawari uang dan dihujani ancaman. Mereka berbondong-bondong ikut membangun toko dan tempat penginapan di atas bukit Tempong. Tentu, tidak cuma-cuma Sujibto membuka peluang usaha kepada masyarakat. Mereka harus menyewa dengan harga yang tinggi.

Setiap hari di atas bukit sana alat-alat berat menyemprotkan asap tebal. Seakan ia menunjukkan kegagahannya setalah menumbangkan berpuluh pohon.

Hampir separuh bukit itu gundul, satu persatu hewan penghuni di bukit Tempong pergi sebab tak ada lagi rumah bagi mereka. Angin sepoi-sepoi dan udara sejuk tak lagi dirasakan. Hawa panas dan teriknya matahari begitu menyengat memanggang siapa saja yang melintas di lorong beraspal di atas ketinggian.

***

Zaini baru sadar saat dilihatnya pohon besar di atas bukit itu tumbang di atas pemukiman. Bumi tak lagi memeluk pohon-pohon setiap sudut bukit itu dikepung  bangunan berbeton. Sekejap roboh seketika.

“Longsor Longsor…” Teriak warga saat gemuruh menderu kencang yang kedua kalinya.

Zaini tak bisa berkata apa-apa kecuali menyaksiakan orang yang terbirit-birit menyelamatkan diri. Ia pandangi bukit itu, hujan batu bergelinding dari atas bukit.

 

09 Nopember 2019

*) Penulis Tinggal di Toteker, Banuaju Barat, Semenep. Aktif di LPM Dialektika STIT Al Karimiyyah Sumenep. Puisi dan Cerpennya dimuat di Pelbagai Media.

 

Biodata Penulis

Nama               : Helmy Khan

Alamat             : Banuaju Barat, Batang-Batang, Sumenep

Contac             : 085230046124

: helmykhan90@gmail.com

Status              : Mahasiswa STIT Al Karimiyyah Sumenep Jurusan MPI. Aktif di LPM Dialektika, Cerpen dan Puisinya dimuat di Pelbagai Media.

 

 

Komentar

News Feed