Human Error Diduga Akibatkan Bayi Meninggal

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) SERIUS: Komisi D DPRD Bangkalan menanyakan kronologi meninggalnya bayi kepada pihak manajemen di RSIA dr Syafi'i bersama Dinkes Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Aduan salah satu warga Desa Perreng, Kecamatan Burneh ke Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan mulai ditindaklanjuti. Selasa, (19/1/2020), Komisi D DPRD Bangkalan memanggil Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan dan Rumah Sakit Ibu Anak (RSIA) Dr Syafi’i.

Pemanggilan itu lantaran ada aduan yang menduga adanya human error pada salah satu pasien di rumah sakit tersebut dan menyebabkan bayinya meninggal.

Bacaan Lainnya

Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan mengungkapkan, dugaan human error tersebut yakni adanya

warga Desa Perreng yang melahirkan di RSIA, tetapi bayinya meninggal. Dia menceritakan, awal mulanya pasien tersebut memeriksakan di dokter kandungan bahwa bayi tersebut diprediksi akan lahir bulan Februari nanti.

Akan tetapi, pada akhir bulan Desember lalu, pasien tersebut merasa perutnya ada yang bermasalah. Kemudian pasien itu memeriksakan ke bidan dan direkomendasikan untuk dirujuk ke RSIA dr Syafi’i.

“Karena waktu itu dokter yang biasanya melakukan pemeriksaan terpapar Covid-19,” ujarnya.

Menjelang beberapa hari kemudian, ketika dirujuk ke RSIA dr Syafi’i dan dioperasi. Sedangkan saat melakukan operasi ini, dokter yang melakukan operasi di RSIA dr Syafi’i diduga tidak melihat hasil USG-nya.

“Menurut dokter yang ada di RSIA dr Syafi’i, dia melihat USG dan hasilnya seperti berat dan kondisi bayi cukup untuk dilakukan operasi,” ungkapnya.

Namun, usai operasi, bayi yang dimaksud disebut prematur. Dari hasil keterangan dari manajemen RSIA, dia menilai, ada ketidaktelitian dari dokter yang mengoperasi pasien.

“Ada langkah yang disebut dengan human error. Sebab, kenapa ketika USG dianggap normal, tapi ketika lahir dianggap tidak normal. Ini dokternya bacanya pakai kacamata atau tidak,” paparnya.

Terkait kejadian tersebut, dia akan memanggil kembali pihak pengadu atau korban untuk menarik kesimpulan dan kejelasan dari kedua belah pihak.

“Kami akan meninjau kembali izin rumah sakit itu dan jika memang terjadi karena human error atau kesengajaan. Akan ada sanksi terkait izinnya,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo mengatakan, mengenai teknisnya dia sudah mengkomunikasikan dengan dokter tersebut. Hasilnya, dia masih melakukan kajian data dan analisa.

“Kalau yang sepanjang disampaikan dokter Taufiq tadi saat di Komisi D, masih rasional,” ungkapnya.

Akan tetapi, pihaknya masih membandingkan lagi dengan ahli lain untuk menarik kesimpulan. Dia juga masih menunggu keterangan dari pihak keluarga korban agar bisa menelaah lebih lanjut.

“Hanya satu kasus yang dilaporkan, pasien tidak ada masalah. Tapi pasca operasi, bayinya meninggal. Tunggu saja hasilnya nanti setelah pemanggilan lanjutan,” pungkasnya. (ina/waw)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *