oleh

IAIN Madura Kembali Tambah Doktor, Teguhkan Visi Religius dan Kompetitif

Kabarmadura.id/Pamekasan-Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura terus meningkatkan mutunya. Salah satunya dengan menggenjot penambahan dosen bergelar doktor.

Saat ini, kampus yang dipimpin Dr. Muhammad Kosim, M.Ag tersebut sudah memiliki 40 doktor. Hal itu seiring dengan gelar doktor yang diraih dosen tetap Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Madura, Dr. A Fawaid Sjadzili. Fawaid lulus ujian disertasinya di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Kamis (1/6/2020).

“Alhamdulillah IAIN Madura sudah memiliki 40 dosen bergelar doktor. Hal itu selaras dengan ikhtiar meneguhkan visi religius dan kompetitif. Tentu visi tersebut dapat mengkristal salah satunya manakala didukung dengan SDM yang memadai. Bertambahnya doktor di IAIN Madura tentu menguatkan optimism membumikan visi tersebut,” tegas Rektor IAIN Madura, Dr. Muhammad Kosim, M.Ag.

Diterangkan, konsep religius dalam visi IAIN dimaksudkan bahwa warga kampus harus memiliki karakter religius, dengan ciri-ciri umum: memahami, meyakini, menghayati, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran Islam dengan prinsip wasathiiyah.

Sedangkan konsep kompetitif yang dimaksud dalam visi IAIN, bahwa lembaga memiliki daya saing dengan perguruan tinggi lainnya baik skala nasional, regional maupun internasional di bidang pendidikan dan pengajaran, manajemen kelembagaan, kualitas SDM, produk riset, pengabdian kepada masyarakat, dan kompetensi lulusan.

“Muaranya diharapkan IAIN Madura dapat mewujudkan masyarakat yang mandiri, produktif, sejahtera, dan islami,” tegasnya.

Sementara itu, disertasi Dr. Fawaid meneliti fabel dalam Al-Qur’an. Doktor ke-572 UINSA tersebut menggunakan pendekatan studi integritas tekstual dan koherensi tematik struktur kisah hewan dalam Al-Qur’an.

Salah satu genre wacana Al-Qur’an, kata Dr. Fawaid adalah kisah (narrative). Selain kisah, genre lain dalam wacana Al-Qur’an adalah puisi (poetic), peringatan (hortatory), puji-pujian (hymal), dan hukum (legal), ramalan eskatologis, serta laporan-laporan peristiwa kekinian.

“Dalam satu surah, misalnya, elemen hukum menyatu dengan elemen ramalan eskatologis, peringatan, narasi, serta laporan-laporan peristiwa kekinian,” paparnya.

Dalam konteks kisah, termasuk fabel Al-Qur’an, sering kali kisah-kisah dalam Al-Qur’an digambarkan tidak utuh, bahkan tidak didasarkan pada urutan kronologis yang lengkap. Atas dasar itulah, penelitian Dr. Fawaid hendak menjawab tiga pertanyaan, yaitu: Bagaimana representasi peran hewan dalam kisah Al-Qur’an?; Bagaimana karakteristik struktur naratif fabel Al-Qur’an?; dan Bagaimana koherensi tematik struktur naratif tiga kisah hewan dalam Al-Qur’an?

Dengan pendekatan interdisipliner, Dr. Fawaid mengintegrasikan tafsir tematik dengan pendekatan surah pairs dan situasi kontekstual Mustansir Mir, al-Jābirī, dan Raymon K. Farrin, model komposisi surah Michel Cuypers, serta struktur naratif William Labov. Integrasi beragam pendekatan ini Dr. Fawaid sebut symetrical cum historical approach. Penelitian ini difokuskan pada kisah hewan yang disebutkan di surah makiyah dan madanīyah.

Temuan dalam penelitian Dr. Fawaid tersebut meliputi: pertama, dalam kisah Al-Qur’an, peran hewan direpresentasikan secara beragam, yaitu: 1) hewan sebagai anugerah; 2) hewan sebagai mukjizat; 3) tokoh dalam mimpi; 4) hewan sebagai suguhan penghormatan; 5) tamsil; 6) kisah pengazaban; 7) hewan sebagai penolong; 8) hewan sebagaimedia konspirasi; 9) hewan sebagai tokoh jenaka; dan 10) hewan sebagai cobaan.

Kedua, karakteristik struktur naratif fabel dalam surah makiyah lebih lengkap elemen-elemenya dengan memenuhi enam elemen naratif Labov dibandingkan dengan struktur naratif fabel di surah madanīyah. Narasi dalam surah makiyah lebih bernuansa kisah (qaṣaṣī), sementara dalam surah madanīyah lebih bernuansa satire, sentilan dan teguran (taqrī‘ī).

“Ketiga, koherensi tematik struktur naratif fabel Al-Qur’an bisa dilacak dengan menggunakan the surah pairs dan situasi kontekstual surah,” urainya.

Penelitian Dr. Fawaid menegaskan, koherensi dan integritas tekstual Al-Qur’an tidak cukup dilacak melalui model surah pairs dan surah groups yang hanya berbasis pada tartīb muṣḥafī model Iṣlāḥī yang dilanjutkan Mir.

“Tetapi juga harus dilengkapi dengan model surah pairs dan surah groups yang berbasis tartīb nuzūlī model al-Jābirī,” tandasnya. (nam/waw)

Komentar

News Feed