oleh

ICONIS Diharap Jadi Sarana Dakwah

KaabarMadura.id/Pamekasan-Rektor Instistitut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar Internasional Conference on Islamic Studies (ICONIS) yang ke-3 mulai tanggal 1-3 November 2019. Kegiatan yang bertempat di Auditorium IAIN Madura tersebut mengambil tema “Moderasi Beragama.”

Sejumlah tokoh bertindak sebagai keyknote Speaker, antara lain Prof. Dr. M Arskal Salim Direktur of Higher Islamic Education, Ministry of Religious Affairs, Rector of Antasari State Islmaic University of Banjarmasin Prof. Dr. Mujiburrahman dan Dr. Lukman bin Haji Abdullah Head Departement of Fiqh and Ushul Academic of Islamic Studies University of Malaya Malaysia.

Konferensi internasional ketiga itu sangat diminati oleh berbagai pegiat jurnal yang konsen pada moderasi agama, sehingga dari 145 pengusul, panelis hanya meloloskan 65 orang.

Dalam sambutannya, Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim menuturkan, forum ilmiah kali ketiga itu, bertujuan untuk mengkampanyekan moderasi Islam di Indonesia yang menjadi isu terkini, supaya ada benang merah dari pergulatan pradigma atau gagasan yang secara empiris terjadi di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

“Hal ini sebagai salah satu cara kami secara terus menerus mengkampanyekan Islam moderat di tengah maraknya ekstremisme dan radikalisme berlatang belakang agama,” paparnya.

Mantan akivis PMII itu menjelaskan, pada era disrupsi ini, beragam aliran dengan mudah masuk dan keluar dari berbagai negara, tak terkecuali aliran dan gerakan radikalisme dan ektrimisme.

Sehingga menurutnya, sebagai orang yang mempunyai bekal yang cukup, yakni sebagai insan akademis, mampu memberikan penyadaran kepada setiap orang yang terpapar faham yang menyesatkan itu.

“Perguruan tinggi punya kewajiban untuk membentangi dan mengatur strategi yang menjadi solusi ke depannya untuk melawan paham yang sangat bersebarangan itu,” ungkapnya.

Kosim memaparkan, bahwa Indonesia dan Malaysia merupakan negara plural- multikuktural, sehingga moderasi bergama menjadi penting untuk dibangun, supaya masyarakatnya mampu untuk membentengi dirinya dari faham-faham kaum ektrimis dan radikalis.

“Keberagaman adalah takdir, keragaman beragama adalah niscaya, tidak mungkin dihilangkan. Menolak kebergaman berarti menolak takdir,” ucapnya.

Meskipun kebergaman kadang menimbul perpecahan, dia berharap, narasi persatuan, kesatuan untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia terus diusahakan dengan baik oleh para generasi bangsa. Sehingga, segala bentuk perpecahan yang bisa merusak tak ada ruang pada masyarakat Indonesia.

“Sebab agama Islam sebagai rahmat lil alamin, sehingga semua bentuk permusuhan tak mendapat tempat dalam Islam,” pungkasnya. (rul/waw)

Komentar

News Feed