oleh

Iconis ke-14, Rektor IAIN Madura Ulas Karakter Islam di Madura

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar International Conference on Islamic Studies & Call for Paper (ICONIS) ke-4, Rabu (18/11/2020).

Kegiatan tersebut dilaksanakan, dengan harapan bisa mendukung keikutsertaan peranan masyarakat Madura dalam berkontribusi diberbagai pembangunan di Indonesia.Sebab, secara etnis, Madura menjadi etnis terbesar ke 4 di Indonesia, sehinggaperlu terus berinovasi dalam segala bidang demi keberlangsungan pembangunan Madura dan Indonesia.

Rektor IAIN Madura Mohamamad Kosim sebagai keynote speaker dalamkegiatan yang dilakukan secara daring itu. Kemudian ada Prof. Robert Hefner dari Boston University USA, Prof Ken Miiche dari Weseda University Japan, dan Yanwar Pribadi dari IAIN Sultan Maulana Ibarahim Banten.

Mengambil tema “Madurese Islamic Tradition,” konferensi mahasiswa Islam internasional tersebut diikuti ratusan peserta dari dalam negeri dan luar negeri.

Rektor IAIN Madura Mohamamad Kosim menyampaikan, ICONIS biasa dilaksanakan setiap tahun sekali.Namun di tahun 2020 ini, penyelenggaraannya sangat berbeda daripada tahun sebelumnya.

Dengan adanya wabah Covid-19 ini, banyak penyesuaian yang perlu dilaksnakan.Namunsecara esensi, tidak mengurangi semangat keilmuan yang ingin digali untuk ditransformasikan kepada kehidupan masyarakat.

“Pada yang ke-4 ini kita menjadikan tema besar adalah tradisi Islam Madura, karena islamisasi Madura hampir sempurna, sulit menemukan wilyah yang seperti Madura, penerimaan islamnya luar biasa, sehingga Madura identik dengan islam,”ungkapnya,Rabu (18/11/2020).

Kosim juga menegaskan, sikap agamis yang begitu melekat di Madura, menjadi ciri khas tersendiri di Nusantara, salah satu contoh yang sangat mencolok tentang kepatuhannya masyarakat Madura kepada sosok ulama, sehingga Madura mempunyai keunikan tersendiri, baik social politiknya dan adat istiadatnya.

“Jadi ada ungkapan kiai lebih didengar pendapatnya daripada priai, jadi ulama lebih didengar ungkapannya daripada pemerintah,”ulasnya.

Selain itu, model penyebaran Islam di Madura yang menggunakan langgar, menjadi ciri khas tersendiridi Nusantara, hal itu tidak pernah dilakukan didaerah lain.

“Hampir setiap keluarga punya langger sebagai tempat ibadah dan silaturrahim,”paparnya.

Ditambahkan, etos kerjamasyarakat Madurasangat berani mengambil tantangan yang besar untuk menuai kesuksesan, karena yang paling penting bagi masyrakat Madura, adalah berusaha sekuat tenaga dan hasilnya dipasrahkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Karenanya, dia berharap agar peranan masyrakat Madura di masa kini terus dioptimalkan untuk kepentingan bersama dalam meraih kesuksesan Madura.

“Harapannya, Madura semakin berperan di Indonesia, kajian Madura semakin berkembang, karena samapai saat belum begitu banyak tentang kajian Madura,”pungkasnya. (rul/waw)

Komentar

News Feed