oleh

Iin Difa; Perempuan Pegiat Seni Madura

Kabarmadura.id/pamekasan-Ketidaktahuan datang untuk dilawan, bukan untuk dinikmati. Demikian prinsip hidup Siti Nurjannah.

Mahasiswi Pascasarjana IAIN Madura ini dikenal sebagai pegiat seni perempuan yang banyak monerahkan karya di bidang seni keteateran. Gadis kelahiran Sumenep, 15 April 1995 ini mulai meniti karir di bidang seni keteateran semenjak dirinya menginjak sekolah menengah atas (SMA). Yakni, dengan terlibat aktif menjadi ketua umum perempuan pada masanya.

Kecintaannya terhadap dunia seni teater bermula dari besarnya rasa keingintahuan yang ia miliki untuk belajar menjadi seorang yang lebih berani.

“Awal mula kecintaan saya terhadap dunia seni teater bukan karena saya punya bakat. Tapi, karena saya butuh. Mengapa demikian? Sebab, saya butuh tearter bukan teater butuh saya. Itu artinya saya memang dituntut untuk benar-benar belajar. Bagi saya, tidak ada suatu pencapaian tanpa melalui proses,” terangnya mantap.

Meskipun semasa SMA Siti Nurjannah atau yang akrab di sapa Iin Difa mempunyai kemampuan yang cukup mumpuni di bidang akademisi, tapi baginya hal tersebut bukanlah suatu pencapaian yang nyata apabila ia tidak bisa menggerakkan manusia. Di dalam seni, ia mengaku banyak menemukan hal baru, banyak mempelajari suatu hal yang tidak ia dapat di dalam kelas.

Ketertarikannya terhadap dunia seni keteateran bermula dari kecintaannya terhadap proses. Karena baginya, seni itu mampu membawanya untuk berperan dalam berbagai sendi kehidupan.

“Saya penyuka proses. Sebab, proses itu pasti ada hambatan. Dari hambatan itulah menjadi tantangan bagi saya untuk menaklukkannya,” tegas Iin Difa.

Kecintaannya terhadap dunia seni teater semakin menjadi-jadi. Meskipun ia terlahir sebagai seorang perempuan, tak menyurutkan tekadnya untuk banyak meraup ilmu di bidang tersebut, hingga pada tahun 2016 ia dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Umum Teater Fataria IAIN Madura.

Selama menggeluti dunia seni, ia lebih banyak memfokuskan diri dalam bidang manajemen, seperti halnya seseorang yang masih belajar pada umumnya, awal mula menjadi seorang sutradara suatu pentas seni tak sedikit kegagalan yang ia telan. Akibatnya, banyak orang yang merasa kecewa atas karya pertama yang berjudul mengulang cerita.

Namun kegagalan itu justru memacunya untuk belajar lagi, dengan membawa gebrakan yang berbeda baik dalam bidang keaktoran, artistis, unsur-unsur dalam drama, dan lain sebagainya.

“Dalam kesenian itu, pikiran kita dituntut untuk berbeda dari orang kebanyakan. Jika pikiran kita stagnan, tidak akan membawa kita untuk maju dan berkembang. Dalam dunia kesenian yang diperlukan bukan bagaimana seseorang cakap dalam berbicara, cakap dalam menyampaikan argumentasi, cakap dalam memamerkan bahwa saya adalah pecinta seni jika ia merupakan seorang pecinta seni. Tapi, prinsipnya adalag mampu membawa karya. Karya adalah bukti yang nyata,” paparnya.

Dari keterlibataannya di dunia seni keteateran sejak tergabung dalam UKM Teater Fataria, ia sudah banyak melahirkan karya luar biasa. Di antaranya adalah mengulang cerita, pinangan, nirmala, wek-wek, barabah, waiting for go dot, dan lain sebagainya.

Dari kemampuannya di bidang seni penyutradaraan, nama Iin Difa semakin dikenal dibl berbagai kalangan dan komunitas pecinta seni. Ia dipercaya untuk menyutradarai sebuah pentas mewakili nama Madura untuk maju ke ajang peringatan Hari Teater Dunia yang diadakan di ISI Surakarta. Salam pementasan tersebut, ia berhasil membius penonton dengan membawakan sebuah pementasan yang mengusung budaya lokal Madura dengan tajuk Ter-ater Kabinan.

“Sejatinya saya tidak mempunyai bakat apa-apa di bidang seni, jenis seni apapun itu. Namun, saya mempunyai prinsip tak perlu banyak bicara untuk membuktikan bahwa saya hebat, karya mampu menjawabnya,” ujar Iin Difa.

Tak puas dengan itu, Iin Difa lagi-lagi dipercaya untuk menyutradarai sebuah pementasan teater dengan judul AUT.

Terlahir sebagai seorang perempuan, keterlibatan Iin Difa di dunia seni mulanya banyak mengundang pro-kontra baik dari keluarga ataupun dari masyarakat. Namun hal tersebut tidak lantas membuatnya menyerah, karena baginya jika seseorang benar- benar berangkat dari niat tanpa embel-embel apapun pasti akan membuahkan hasil yang nyata, prestasi yang nyata.

“Gender hanya tampilan luarnya saja. Terpenting itu niat yang sungguh. Kesuksesan kita di dunia seni itu tergantung niat masing-masing individunya. Jika hanya bermain-main, bisa jadi rusak. Namun jika dengan niat dan tekad yang nyata, pasti akan berhasil,” katanya mantap.

Mengapa banyak orang yang memandang seni sebelah mata, katanya, karena pemahaman mereka masih minim terkait apa itu seni. Pastinya, untuk mengasilkan seni drama yang maksimal, butuh proses yang panjang. (02km/nam)

Komentar

News Feed