oleh

Ikhtiar Ciptakan Pasar bagi Pengrajin Ukiran

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Komunitas Sentra Geraha Sekarduluk  merupakan komunitas yang berupaya melestarikan seni ukir kayu di Sumenep. Komunitas ini terdiri dari kumpulan pengusaha mebel dan ukiran yang dibentuk pada 2018  akhir, tujuannya meminimalisir nilai jual yang sangat tidak seimbang.

As’adi, Sekretaris Sentra Geraha Sekarduluk mengungkapkan bahwa mencari pemasaran lebih luas dengan cara mewakili ukiran Karduluk dalam pameran-pameran merupakan upaya membuka peluang baru untuk masa depan pekerja, minimal di Karduluk.

Ia menambahkan, salah satu misi komunitas ini adalah menampung produk ukiran dari para pegiat ukiran, terutama yang masih  bekerja di Karduluk, agar mendapatkan harga yang sesuai. Salah satu faktornya adalah tidak selarasnya pemahaman sesama pengukir atau pekerja yang bergelut di bidang kayu.

Targetnya  yaitu mengumpulkan beberapa pengrajin yang penghasilannya  mulai menurun karena banyak yang merantau ke luar desa, padahal konsumen yang seharusnya datang ke Karduluk untuk membeli produk mebel, sementara faktanya hari ini banyak pengrajin itu malah didatangkan ke konsumen dengan upah yang lebih besar, dibandingkan  bekerja di desa sendiri.

“Tidak boleh mereka mengundang kita untuk bekerja, tapi mereka datang ke desa kami untuk beli produk. Kalau seperti itu secara otomatis harga akan kembali meningkat seperti dulu,” imbuh mantan Aktivis PMII itu.

Langkah lain untuk mempertahankan kesejahteraan pekerja yaitu komunitas tersebut memfasilitasi pelatihan-pelatihan. Salah satunya pengecatan, finishing, studi banding ke sentra-sentra ukiran di daerah lain, misalnya Jepara dan Yogyakarta.

“Hasilnya dari sana, kami berkesimpulan bahwa  dukungan pemerintah sangat bagus, Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) di sana  cukup bagus pengelolaannya, dan ketersediaan kayunya juga  cukup. Sehingga harganya murah dan berdampak pada harga produksi,” ungkapnya.

Sehingga dengan berbagai persoalan, terutama harga yang dirusak oleh masyarakat sendiri karena sudah bekerja keluar dengan embel-embel upah lebih tinggi, faktanya justru mematikan pasar di desa sendiri.

“Menyadarkan teman-teman akan pentingnya kerja sama dan menyelaraskan harga jomplang yang selisihnya banyak termasuk pengkaderan, karena sudah sedikit generasi pegiat seni ukir ini,” pungkasnya. (ara/maf)

Komentar

News Feed