Ilustrasi Demokrasi Pancasila dalam Euforia Sumpah Pemuda


Ilustrasi Demokrasi Pancasila dalam Euforia Sumpah Pemuda
Aliya

"Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda begini baiknya digunduli saja kepalanya," Ir. Soekarno.

Sekilas kutipan tersebut terdengar 'garang' karena menekankan bagaimana esensi pemuda sebagai pemikir utama untuk keberlangsungan tanah airnya.

Peran pemuda selalu dinilai penting meskipun tidak sedikit yang berpikir bahwa tidak adil ketika badan yang hanya satu dituntut untuk berpikir kemaslahatan umat. Sedangkan di sisi lain mereka juga punya cita-cita yang tinggi secara personal termasuk pada pengembangan value person.

Dari aspek historis, tentu bangsa Indonesia tidak boleh lupa pada Hari Sumpah Pemuda yang merupakan momentum berubahnya arah perjuangan.

Jika dahulu adanya persamaan nasib di bawah penjajahan membuat sadar para pemuda Indonesia untuk meninggalkan ego daerahnya masing-masing, maka sekarang kondisi kepentingan negara secara umum menjadi stimulus arah persatuan meskipun kubu-kubu pembeda masih terbentuk. Harapan rakyat bertumpu pada pemuda yang menjembatani suara rakyat kepada pemerintah.

Namun semakin ke sini, jika berbicara pada kondisi negara, wacana demokrasi pancasila masih menjadi topik hangat. Sebab dilatarbelakangi oleh keinginan semua orang yang mencita-citakan kesejahteraan dan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama, apalagi demokrasi sendiri merupakan perwujudan dari nilai-nilai Sila keempat.

Hal ini sempat menjadi keanehan umum karena sifatnya yang alot dan terkesan tanpa perubahan meskipun sering dibicarakan oleh banyak orang. Padahal sederhananya, konteks 'orang' yang berbicara juga menjadi pengaruh terwujudnya cita-cita tersebut.

Peringatan sumpah pemuda diperingati setiap tahun, namun kebebasan pemuda secara umum untuk mengambil peranan dalam masyarakat masih sedikit sesak oleh batasan-batasan. Dulu sekali, dengan diterapkan strategi dan politik yang licik, Belanda berhasil menaklukkan setiap daerah di Indonesia, lalu apakah pola-pola yang demikian masih terpelihara manis sampai sekarang?

Demokrasi Pancasila; Sebatas Wacana dan Khayalan Publik

Mengutip dari berbagai sumber, pada dasarnya demokrasi merupakan konsep pemerintahan yang bermula dari konsep yang dijalankan di Polis, Athena pada masa Yunani kuno.

Konsep tersebut sempat terkubur lama tetapi kembali menemukan jalan seiring berakhirnya abad pertengahan di Eropa. Demokrasi semakin berkembang dan dianggap sebagai sistem yang paling baik. Hal ini cocok dengan kondisi geografis dan sosiologis di Indonesia. Sebab lebih dari tujuh dasawarsa kemerdekaan Indonesia, negara kita masih bertahan kokoh dengan keunggulan multikultural. Ide demokrasi telah merasuk ke Indonesia sejak masih menjadi negeri jajahan.

Urgensi demokrasi yang sering disandingkan dengan korupsi menjadi salah satu bukti nyata bahwa sistem pemerintahan perlu dibenahi. Penderitaan rakyat sudah terbungkus rapi pada masa penjajahan yang terhitung ratusan tahun lamanya.

Kebijakan pemerintah yang absolut pada warga pribumi menempatkan mereka pada posisi seperti sapi perah, berada dalam ketidakadilan tanpa pendidikan dan hidup yang tidak layak. Kini kamuflase politik kembali menyebabkan kondisi masyarakat sebagai objek dan dampak paling nyata dari hal tersebut.

Dalam sejarah perjalan demokrasi di Indonesia, setelah ambruknya demokrasi terpimpin bersama dengan tersingkirnya Soekarno, Orde Baru lahir yang kemudian menganut Demokrasi Pancasila. Pada praktiknya demokrasi pancasila 'masa kini' lebih sentralistik daripada demokrasi terpimpinnya Soekarno.

Setelah jatuhnya Orde Baru, demokrasi terus berubah. Demokrasi politik secara prosedural memang berkembang pesat bahkan mencapai indeks yang memuaskan, namun realita lapangan memaparkan wajah demokrasi yang belum membawa hasil yang diharapkan. Banyak evaluasi dan pembenahan.

Dewasa ini pun diskusi tentang demokrasi masih terus berlanjut. Banyak jalan ditempuh dan banyak teori terus diimpor. Namun tetap saja demokrasi masih menjadi harapan publik yang menginginkan kondisi bangsa ke arah yang lebih baik. Bukankah seharusnya sistem pemerintahan bersanding dengan cita-cita kemerdekaan, berjalan linear dan terus mengalami pembaharuan?

Jika demokrasi pancasila yang diharapkan oleh semua orang, "mengesampingkan" kepentingan oknum tertentu, maka dalam negeri ini elite politik perlahan menjelma menjadi raja kecil yang memiliki skenario dan wewenang mutlak untuk mengabulkan harapan masyarakat umum.

Refleksi Sumpah Pemuda bagi Pemuda dan Semua Orang yang Berjiwa Muda

"Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."

Lahirnya Sumpah Pemuda bermula dari Kongres Pemuda II yang digagas oleh Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan dihadiri oleh organisasi pemuda diantaranya Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi. Kongres ini dilaksanakan di tiga gedung serta tiga rapat yang berbeda.

Rapat Pertama pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928, diselenggarakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Disusul rapat kedua pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop. Kemudian rapat ketiga pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 bertempat di Gedung Indonesische Clubhuis Keramat yang kini diabadikan sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

Makna dari lahirnya Sumpah Pemuda waktu itu tidak lain adalah untuk menyatukan semangat juang para pemuda agar tidak terpecah belah karena perbedaan asal daerah, suku, ras, dan golongan tertentu.

Dari sana 'fanatisme' akan budaya tertentu ditepis dan disatukan dalam lingkup rasa cinta tanah air yang satu yaitu Indonesia. Selanjutnya adalah memupuk rasa bangga terhadap bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia dan menjaga keutuhan bangsa.

Secara alamiah, pemuda identik sebagai komponen bangsa yang demikian kuat, baik fisik maupun semangatnya. Kontribusi pemuda terhadap kemajuan masyarakat menjadi indikator peradaban pengetahuan dalam suatu lingkungan.

Demikian pula kedudukan generasi muda secara langsung akan menjadi pemegang kekuasaan jalannya kemasyarakatan dan kenegaraan bangsa ini di masa yang akan datang.

Jika sebutan 'pemuda' terbatas pada usia tertentu, maka jiwa muda merupakan suatu kombinasi semangat dan kemauan untuk memunculkan gagasan-gagasan brilian lintas masa, tidak terbatas pada waktu dan usia tertentu. Serta yang paling penting adalah pendidikan karakter dan jiwa kritis yang menjadi ciri khasnya.

"Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia. Berikan aku sepuluh pemuda, akan kugoncangkan dunia."

Kembali lagi kutipan dari founding father Ir. Soekarno dikutip sebagai bahan acuan terhadap peranan pemuda. Sayangnya kutipan-kutipan hebat hampir terdengar seperti kalimat penyemangat klise karena sering sekali diucapkan.

Dari sini kita memahami bahwa memperingati Hari Sumpah Pemuda harus sejalan dengan tumbuhnya jiwa muda yang milenial dan adaptif terhadap kemajuan terlepas dari hiruk pikuk wajah Indonesia yang masih dibungkus oleh kasak-kusuk dunia politik, apalagi menjelang pesta demokrasi 2024 ini.(*)

_____

*Mahasiswi IST Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep Madura.