Ini Bantahan Pihak Kiai Fathor atas Tuduhan Penyebaran Ajaran Sesat


(M. ARIF/KM.ID) MEMBANTAH: Divisi Advokasi Yayasan Musthafa Difa, Umarul Faruq ketika diwawancarai awak media pasca klarifikasi di Yayasan Ulil Albab, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Rabu (31/8/2022).

KM.ID I PAMEKASAN – Pihak Kiai Fathorrahman membantah tuduhan ajaran menyimpang dari sejumlah tokoh agama Desa Sotabar, Kecamatan Pasean.

Pihak Kiai Fathor menyebut, tudingan tersebut bukan karena Kiai Fathor menyebarkan ajaran sesat, melainkan karena tersulut konflik di internal keluarga.

Divisi Advokasi Yayasan Musthafa Difa, Umarul Faruq menyatakan, Kiai Fathor pernah diajak oleh pamannya, Kiai Mujib, masuk ke salah satu organisasi.

Namun, Kiai Fathor menolak. Setelah kejadian itu muncul perbedaan-perbedaan pemahaman di antara kedua belah pihak.

“Sehingga orang yang mengajak itu menganggap bahwa salah satu pemahaman Kiai Fathor bertentangan dengan pemahaman yang bersangkutan,” ungkapnya kepada KM.ID, Kamis (1/9/2022).

Dalam salah satu kesempatan, kata Faruq, Kiai Fathor pernah dimintai keterangan oleh Kiai Mujib mengenai hukum seorang wanita yang haid, yang katanya tetap wajib salat.

"Kiai Fathor sudah bilang tegas kalau tidak pernah mengatakan hal tersebut, namun terjadi kesalahpahaman karena ada penjelasan yang terpotong, sehingga menimbulkan pemahaman yang salah,” papar Faruq.

Mengenai enam poin dugaan ajaran sesat yang dituduhkan ke Kiai Fathor, lanjut Faruq, harus diluruskan kembali. Apakah fatwa atau tidak. Sebab, kalau terjadi di forum diskusi maka itu bukan bermakna fatwa. 

“Umpamanya soal dugaan mengubah syahadat, kata Muhammad diganti Isa, saat di Waru dulu, saya sudah tanyakan ke sumbernya, dan jawabannya, bahwa pernyataan itu hanya desas-desus, bukan langsung dari Kiai Fathor, saya ada rekamannya soal ini,” ucapnya.

Terlepas dari itu, lanjut Faruq, kalau ada bukti perkataan langsung Kiai Fathor kepada mereka yang mengadu ke polisi, silakan untuk disampaikan. Sebab, kata Faruq, itu nyatanya hanya dibuat-buat atau tidak benar.

“Ini hanya soal suka tidak suka kepada seseorang, bukan mencari kebenaran,” pungkasnya.

Reporter: KM1

Redaktur: Ongky Arista UA